Misteri Pak Bupati Terpapar COVID-19

TANJUNG REDEB, nomorsatukaltim.com Terpapar COVID-19 Bupati Berau Muharram, masih menjadi misteri. Asal penularan belum juga diketahui pasti.

Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi mengatakan, kasus yang menimpa Bupati Berau masih terus didalami. Bahkan, pihaknya masih terus mencari informasi siapa saja yang sempat menemui Muharram sebelum keberangkatannya ke Balikpapan.

“Ini sudah ada gambaran tentang hal itu,” ujarnya kepada Disway Berau, Rabu (23/9/2020).

Dirinya mendapat informasi, 7 September 2020, ada seseorang yang sempat melakukan pertemuan dengan almarhum Muharram. Dari informasi diperoleh, orang tersebut kondisinya kurang baik. Dan memiliki gejala batuk.

“Jadi memang kami dapat informasi itu. Jadi ada orang dari luar Berau yang sempat bersilaturahmi dengan beliau dan ada gejala batuk,” katanya.

Melihat kondisi keluarga Muharram yang tidak terkonfirmasi COVID-19. Dirinya menaruh curiga kepada orang bergejala itu.

“Kalau memang dari Maratua, almarhum sudah terpapar. Besar kemungkinan anggota keluarganya banyak yang terpapar,” ungkapnya.

Pihaknya menduga, Muharram terpapar hendak berangkat ke Balikpapan. Dan bukan diperjalanan ke Balikpapan.

“Itu kesimpulan kami,” tegasnya.

Dirinya juga mengungkapkan alasan Muharram tak menjalani perawatan di Berau. Karena lebih memilih melakukan perawatan di Balikpapan. Pasalnya, Muharram beranggapan setelah selesai isolasi langsung melanjutkan pemeriksaan kesehatan untuk keperluan pemilihan kepala daerah (Pilkada).

“Tapi siapa yang tahu, saat menjalani perawatan kondisinya tak kunjung membaik,” jelasnya.

Kondisinya kian memburuk, setelah terjadi komplikasi. Komplikasi itu terjadi akibat adanya penyakit penyerta yang diderita Muharram.

“Almarhum itu ada diabetes militus, dan itu yang memberatkan beliau,” katanya.

Dijelaskannya, diabetes militus itu membuat darah menjadi lebih kental. Dan mengakibatkan kinerja jantung lebih berat.

“Apalagi almarhum memang memiliki persoalan di jantung,” ujarnya.

Setia Menemani hingga Akhir

Diketahui, istri Muharram akan selesai isolasi dan direncanakan dipulangkan ke Bumi Batiwakkal. Hingga hembusan napas terkahir Muharram, Sri Juniarsih tak pernah beranjak dari sisi suaminya. Hal tersebut diungkapkan Iswahyudi.

Muharram, ditetapkan sebagai pasien terkonfirmasi pada 9 September 2020. Saat ditetapkan positif COVID-19, Sri Juniarsih tak pernah sekali pun meninggalkan Muharram.

“Padahal, saat itu istrinya negatif COVID-19,” ujarnya.

Diakuinya, berada dalam satu ruangan dengan pasien terkonfirmasi tanpa menggunakan APD, tidak direkomendasikan tenaga kesehatan. Dengan membulatkan tekad, Sri Juniarsih membuat pernyataan untuk terus mendampingi Muharram, yang saat itu berada di ruang isolasi Rumah Sakit Pertamina, Balikpapan.

“Tubuh saya adalah tanggung jawab saya. Begitulah kira-kira yang dipikirkan ibu Bupati,” ungkapnya.

Menghapuskan semua ketakutan akan tertular, Sri Juniarsih bahkan tak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) di awal masa perawatan Muharram.“Ibu wanita yang hebat dan tangguh,” katanya.

Bak kisah cinta Habibie dan Ainun, hanya maut yang mampu memisahkan keduanya.“Cinta dan kesetiaan itu terjaga napas terakhir pak Bupati,” ucapnya.

Bupati Berau itu dinyatakan meninggal dunia 22 September 2020, sekira pukul 16.45 Wita, di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan. Dengan diagnosa pneumonia berat yang mengakibatkan gagal napas.

Dengan demikian, Sri Juniarsih tinggal seorang diri menjalani perawatan di ruang isolasi. Sebelum mengantarkan jenazah Muharram ke peristirahatan terakhirnya, juga melakukan swab control. “Hasilnya masih positif,” katanya.

Walaupun begitu, tidak lama lagi masa isolasinya akan berakhir, dan dilanjutkan untuk karantina mandiri di rumah. Iswahyudi menyebut, pihaknya sedang menyusun rencana kepulangan Sri Juniarsih ke Berau.“Masih kami koordinasikan,” jelasnya.

Nantinya, istri mendiang Muharram ini akan menempuh jalur darat dengan pengawalan khusus. Selain itu, nantinya juga akan disiapkan beberapa petugas yang akan menjadi sopirnya.

“Yang jelas mungkin lebih dari dua orang. Karena harus pakai APD sopirnya,” ungkapnya.

Selain sopir, kepulangan Sri Juniarsih juga nantinya dikawal langsung Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Berau, dokter Jusram. “Jadi sepanjang perjalanan, ada dokter yang mengawasi kesehatan pasien,” jelasnya.

Lanjutnya, kondisi istri Bupati Berau itu sangat baik dan tak memunculkan gejala. “Masuk dalam kategori orang tanpa gejala atau sekarang lebih dikenal dengan suspek,” pungkasnya. (*/fst/app/yos)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar