Jerat Utang dari China dan Proyek Migas di Timor Leste

Jakarta, nomorsatukaltim.com – Tahun 1999 Timor Leste mengaku merdeka dari Indonesia dan secara resmi negara itu dinyatakan merdeka pada 2002. Kini, sudah 18 tahun merdeka dari Indonesia, nasib Timor Leste bukannya makin membaik. Justru makin memburuk.

Menurut catatan PBB, Timor Leste menyandang gelar negara termiskin di dunia. Dari 162 negara, Timor Leste berada di peringkat 152 negara termiskin di dunia. Meski demikian, negara kecil ini ternyata sempat percaya diri bisa menjadi negara kaya raya setelah lepas dari Indonesia.

Menurut ABC News Australia, Timor Leste percaya bisa keluar dari jurang kemiskinan dengan mengandalkan proyek Tasi Mane. Pembangunan infrastruktur besar-besaran yang mengembangkan wilayah pesisir pantai selatan. Rencana ini adalah mega proyek untuk membangun Timor Leste, dan memperbaiki ekonomi negara tersebut.

Sejauh ini, Timor Leste diketahui telah meminjam dana dari China dan meminta bantuan Australia untuk proses pembangunan proyek Tasi Mane.

Obsesi terbesar yang membuat Timor Leste begitu percaya diri adalah minyak dan gas dari Laut Timor yang diproses di darat. Xanana Gusmao yang memimpin proyek ini berharap Australia meratifikasi perjanjian perbatasan laut Timor Leste.

Perjanjian itu akan memberikan hak pada Timor Leste atas sebagian royalti dari ladang Greater Sunrise, bernilai 50 miliar dolar AS. Perusahaan minyak milik Timor Leste, Gap berpandangan, nilai cadangannya bisa lebih besar dari itu.

Namun, sejumlah pihak menyebut biaya proyek ini akan jauh lebih besar daripada hasilnya. Padahal Timor Leste kini menggantungkan diri pada cadangan minyak gas tersebut.

Proyek Tasi Mane mencakup rencana kilang LNG, refinery, pangkalan industri, pelabuhan laut, bandara kedua dan jalan raya yang menghubungkan sepanjang pantai.

Keseluruhan proyek itu bernilai 16 miliar dolar. Dana yang sekurang-kurangnya sama dengan APBN yang digunakan di bidang kesehatan, pendidikan, dan pelayanan lainnya. Tetapi analisis itu alih-alih membantu Timor Leste kaya, justru bisa membawanya ke dalam perangkap utang China.

James Scambary, mempertanyakan obsesi Timor Leste untuk mengolah cadangan migasnya sendiri di negara itu. Keberanian membangun kilang minyak sendiri sangat bagus. Tapi faktanya tidak demikian. Ada persoalan teknis yang cukup besar. Termasuk kebutuhan pembangunan pipa sepanjang 286 meter. Melintasi laut sedalam 2.800 meter di pantai selatan Timor Leste.

Survei batimetri AS, menyimpulakan ukuran ini terlalu besar. Jika bocor, maka akan sulit diperbaiki. Para mitra terang-terangan menentang proyek tersebut.

Menurut Timo Gap, proyek Tasi Mane ini juga diharapkan membuka 12.700 lapangan kerja selama proses konstruksi menghasilkan 12.600 lapangan kerja pada 2028. Kenyataannya, tidak begitu. Warga yang tinggal di sekitar proyek itu tidak yakin akan mendapatkan pekerjaan.

Salah satu penduduk Suai, Leonel Amaral setuju menjual rumahnya untuk pembangunan bandara dan pembangunan jalan. Dia juga dijanjikan anak-anaknya akan mendapat pekerjaan di bandara.

Warga yang digusur tinggal di daerah baru yang dibangun tepat di sebelah bandara. Penduduk mengakui mereka diberi ruah baru.

Tetapi rumah itu cocok untuk iklim Australia. Terlalu panas ketika panas dan terlalu dingin ketika dingin. Warga mengeluh kehilangan lahan pertanian yang berharga.

Namun Timor Leste yakin mereka akan menjadi pemenang ketika menyelesaikan proyek Tasi Mane. Tetapi sebagai negara dengan populasi termuda di dunia, rata-rata usia 17 tahun, dikhawatirkan akan memicu pengangguran dalam beberapa tahun ke depan.

“Cara membangun negara ini adalah industrialisasi. Kami tidak bisa hidup seperti sekarang ini. Jika masih seperti ini selama 5 hingga 10 tahun, kami akan mengalami masalah,” kata Monteiro. (it/qn)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar