Industri Herbal Berpotensi Namun Belum Ada Celah

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Potensi industri jamu dan minuman herbal bisa dikatakan tinggi. Namun belum memiliki celah. Disebut memiliki potensi lantaran minuman tradisional ini memiliki banyak penggemar.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltim Muhammad Yadi Robyan Noor mengatakan, produk jamu tradisional lumayan banyak di wilayah Kaltim. Baik untuk yang diolah dengan kemasan yang terkenal maupun tidak.

“Biasanya yang terkenal jamu dengan bahan dari pasak bumi, tangkar rusa, bawang dayak. Yang sudah dipercaya dan dipakai oleh masyarakat,” kata Roby, sapaan akrabnya, Rabu (23/9).

Namun ada hal yang Roby sayangkan. Yaitu belum ada perjuangan dari pelaku usaha industri jamu dan minuman herbal untuk mempatenkan mereknya. “Termasuk izin dari POM (BPOM, red- Badan Pengawas Obat dan Makanan),” katanya.

Ia menegaskan masyarakat masih percaya khasiat jamu tradisional. Bahkan masyarakat juga menggunakannya sebagai jamu atau obat herbal yang aman. “Sebagai warisan lokal dari orang tua,” sambungnya.

Baca Juga: Industri Berbasis Biodiversity

Untuk merek usaha yang memang masih diperjuangkan agar bisa dipatenkan. Ia meminta kepada pelaku usaha untuk secara resmi usulan merek dagangnya segera diklaim.”Disampaikan lewat instansi yang berwenang (Kementerian Hukum dan HAM),” tegasnya mengakhiri.

Bukan Minuman Ketinggalan Zaman

Sementara itu, Linda Lestari, salah satu pelaku usaha bidang ini mengakui industri jamu dan herbal memiliki peluang besar.

Linda sendiri sudah mengonsumsi minuman tradisional tersebut sejak duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA). Di mana ketika itu, tetangga rumahnya gemar membuat jamu. Kemudian sang ibu rutin membelinya.

Resep jamu yang Linda jual kini berasal dari tetangganya tersebut. Dirinya mengaku, saat itu dia iseng bertanya bahan baku, juga cara pembuatan jamunya.

Ketika dia harus merantau ke Kota Tepian. Dia pun mempraktikkan pembuatan jamu di indekosnya. Alasannya dia membuat jamu sendiri lantaran keadaan ekonomi yang terbatas. Juga ingin menghemat pengeluaran. “Namanya anak kos dengan biaya terbatas, saya bikin jamu sendiri (di kos),” terang Linda yang dihubungi melalui aplikasi pesan instan, Selasa (22/9) siang.

Dirinya pun tak segan menawarkan ke teman kuliahnya. Beruntung menyambut, kawan-kawan Linda saat itu menyukai jamu racikan buatannya sendiri. “Kalau setiap bikin jamu selalu saja laris manis,” katanya.

Awal mula usaha dimulai kurang lebih 3 tahun yang lalu. Tepatnya 2017. Dirinya pun mulai memposting dan membuat akun sosial media (sosmed) Instagram untuk usahanya. “Dan mulai posting-posting sendiri dan bikin IG (Instagram). Alhamdulilah diterima pasar,” lanjutnya.  

Linda pun mulai menekuni usaha ini. Dengan cara mengikutit pelatihan dari Dinas Kesehatan (Diskes) untuk dapat Sertifikat Laik Sehat dan No P-IRT. Melalui proses yang sedikit panjang, Nomor izin Produk Industri Rumah Tangga (No P-IRT) miliknya keluar. “Dari sana kita kasih nama NobliGE jamu. Karena memang kita mengatakan kualitas rasa dan khasiat,” beber Linda lagi.

Niat Linda menekuni usaha ini juga ingin mensosialisasikan jika jamu bukan minuman tertinggal. Atau bahkan minuman yang hanya diminum oleh masyarakat desa. Linda ingin membuktikan bahwa warga kota pun menyukai jamu dan minuman herbal lainnya.

“Banyak loh orang di luar sana merasakan khasiat jamu. Dan terbukti nyata khasiatnya. Jamu bukan minuman ketinggalan jaman,” tandas Linda mengakhiri. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar