Australia Akan Bangun Pembangkit Hydropower di Kukar, Investasi 3 Miliar Dolar

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Australia berniat membangun PLTA (hydropower) di Kabupaten Kukar, Kaltim.

Pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur (Kaltim) masih akan mengalami kontraksi. Pada triwulan ketiga ini, proyeksinya akan lebih rendah dari angka pertumbuhan nasional.

Soal kontraksi ini disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Tutuk SH Cahyono. Juga sempat disinggung Gubernur Kaltim Isran Noor. Namun, Isran baru-baru ini juga sempat menyampaikan rasa optimismenya terhadap perekonomian Kaltim yang akan terus membaik.

Berkaca dari triwulan II-2020, ekonomi Kaltim turun minus 5,46 persen (year on year). Sejalan dengan perekonomian nasional yang juga terkontraksi 5,32 persen (yoy). Itu berdasarkan data Bank Indonesia.

Kontraksi PDRB Kaltim tersebut disebabkan oleh lapangan usaha kinerja tambang ekspor yang mengalami kontraksi masing-masing sebesar 6,88 persen dan 6,03 persen (yoy).

Namun harapan itu sudah mulai kelihatan. Dilihat dari kinerja investasi sampai triwulan II, mengalami perbaikan dan telah melewati titik terendahnya.

“Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam negeri (PMDN) mulai meningkat. Meskipun pertumbuhan tahunannya masih kontraksi,” kata Tutuk, Ahad (20/9).

Baca Juga: Manfaatkan Kondisi Alam, PLN Canangkan Pembangkit Tenaga Air, Angin dan Matahari

Menurut dia, pembiayaan investasi PMA dan PMDN serta perbankan domestik untuk proyek di Kaltim masih relatif tinggi. “Dengan persiapan Ibu kota negara baru. Maka persiapan infrastruktur menjadi potensi untuk adanya investor,” ucapnya.

Namun, ia memperkirakan triwulan III-2020 masih akan terjadi pertumbuhan ekonomi negatif. Hal itu dengan memperhatikan beberapa indikator ekonomi yang dimiliki Juli-Agustus. “Karena tidak hanya dampak COVID-19, tapi juga tren penurunan kuota dan harga di batu bara sejak sebelum COVID,” ujar Tutuk.

Karena itu, diperlukan prioritas kepada kesehatan. Tapi perlu juga mulai dibuka beberapa sektor ekonomi prioritas. Yang memiliki risiko relatif lebih kecil. Tetapi punya dampak ekonomi besar. “Seperti pertambangan, industri pengolahan, pertanian dan perikanan,” terangnya.

Hal senada juga dikatakan Isran Noor. Menurut Isran, Pemerintah Provinsi Kaltim memproyeksikan pertumbuhan ekonomi masih akan terkontraksi. “Proyeksi saya Kalimantan Timur masih lebih rendah di banding nasional,” katanya, ketika menghadiri kegiatan penyerahan BST untuk pelaku ekonomi kreatif dan pariwisata, baru-baru ini.

Agar pergerakan ekonomi bertumbuh, kata dia, pihaknya akan mempercepat realisasi program proyek yang berjalan pada tahun ini. “Ya kita berusaha bagaimana investasi pemerintah dalam bentuk program proyek segera direalisasikan. Penyerapan APBD sekarang sedang berlanjut,” kata mantan Bupati Kutai Timur ini.

Bahkan, Isran optimistis, di masa pandemi investor akan tetap melirik Kaltim. Dalam pertemuannya di Jakarta pada awal September 2020 lalu. Investor asal Australia tertarik pada bidang industri di Benua Etam.

“Yaitu akan membangun hydropower di Kalimantan Timur. Rencananya di Kutai Kartanegara yang ada sumber airnya. Nilainya lebih dari 3 bilion USD,” tukas Isran Noor.

Menurutnya, pembangunan hydropower tersebut untuk energi listrik. Karena listrik ini jangka panjang dan masih akan dibutuhkan. “Kemarin (awal September) mereka rapat dengan kita yang dipimpin Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. Energi listrik dalam jangka panjang masih dibutuhkan. PLTA hydropower,” ujarnya lagi.

Dari data yang dilansir Antara, potensi penggunaan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di Kaltim berada di 32 titik. Dengan total daya 3.557 KW. PLTMH sudah digunakan di empat kabupaten, yaitu Kutai Timur, Paser, Berau dan Kutai Barat. (fey/dah)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar