Ternak Sapi Butuh Modal, Andil Perusahaan Diharapkan

Potensi Pembibitan Sapi Ternak Lokal Kaltim

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Tiap tahunnya, Kalimantan Timur (Kaltim) membutuhkan kurang lebih 60.000 ekor sapi. Namun kapasitas peternak lokal hanya mampu menyediakan 15.000 ekor per tahunnya. Kondisi ini menyebabkan urgensi peningkatan pembibitan ternak sapi di Bumi Etam.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Kawasan dan Usaha Peternakan Dinas Peternakan dan Kehewanan (DPKH) Kaltim I Gusti Made Jaya Adhi, mayoritas ternak potong di Kaltim masih didatangkan dari luar daerah. Seperti Sulawesi Selatan (Sulsel), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ketika ternak datang, para pengusaha ternak akan menampung ternak di penampungan selama satu minggu. Lalu, segera dijual atau dipotong. Hal ini cukup disayangkan oleh pria yang akrab disapa Made ini.

“Kita berharap kedepannya tidak seperti itu, banyak peternak yang bisa ikut berkiprah (mengembangkan pembibitan). Dan kalau diternakan di sini, ternaknya yang digemukkan itu pun setelah digemukkan jauh kualitasnya, dagingnya jauh lebih bagus,” ucap Made saat diwawancarai di kantornya, Jumat (18/9).

Baca Juga: Kebutuhan Sapi di Kaltim Naik Terus

1. Kemampuan Peternak Kaltim Mumpuni

Untuk kemampuan peternak Kaltim tak perlu diragukan. Made menjelaskan, mayoritas peternak sudah cukup mumpuni. Soal tempat atau ketersediaan lokasi beternak, dikatakan Made sudah tercukupi. “Kita cuma kekurangan pemodal aja, kalau peternak lain juga mulai bagus, makanya kami mendorong ke arah sana,” terang Made.

Ia mengatakan, bahwa pihaknya sebetulnya menginginkan adanya penambahan penghasilan dari peternak – peternak di Kaltim. Yang menurutnya bisa didorong oleh perusahaan – perusahaan besar.

Made mencontohkan, seperti salah satu perusahaan yang bernama PT Berkah Salama Jaya. Melalui koperasi, perusahaan tersebut membantu pengadaan anggota koperasi. Dan membeli hasil dari penggemukan ternak.

“Ini yang bisa dilihat oleh calon-calon pemodal. Peternak juga cukup senang dengan kegiatan itu. Mereka kan sudah ada hasil dalam 3 bulan, meskipun agak lama di pembibitan dan pengembangan, tapi hal ini, sangat diperlukan untuk memajukan pemberdayaan peternak lokal dan pemenuhan kebutuhan pangan di Kaltim,” bebernya.

Dari hal itu pun, ada 2 manfaat yang bisa didapatkan. Adanya calon indukan (betina) dan calon bakalan (jantan). “Yang jantan-jantan kan enggak semuanya jadi pejantan. Nah, itu yang digemukkan. Sehingga biar dapat hasil penggemukan harus dilakukanlah pembibitan,” jelasnya.

Diterangkan Made lagi, hampir semua kabupaten/kota di Kaltim ada penggemukannya. Berdasarkan pantauan Made sendiri, lokasi tersebut menghasilkan dalam waktu maksimal 4 bulan.

“Sehari bisa naik 1 kilo sapinya kalau bagus, kalau harganya 45 ribu per kilo kan lumayan itu, dipotong misaalnya biaya pemeliharaan 15 ribu per hari, kan masih ada untungnya 30 ribu sehari, itu bisa dipakai buat membeli bakalan calon yang baru,” tandasnya mengakhiri.

2. Stimulus 223 Ekor Sapi

Sementara itu, sebanyak 6 daerah diberikan bantuan ternak oleh pemerintah provinsi melalui Dinas Peternakan dan Kehewanan (DPKH) Kaltim.

Adapun total jumlahnya yakni sebanyak 60 ekor sapi di Kutai Barat (Kubar) 40 ekor sapi di Kutai Kartanegara (Kukar), 60 ekor sapi di Kutai Timur (Kutim), 34 ekor sapi di Berau, 14 ekor sapi di Kota Balikpapan, dan 15 ekor sapi di Kota Samarinda.

Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Sekertaris DPKH Yakop Pangedongan. Tak hanya itu, sosialisasi budi daya ternak sapi bibit juga diberikan kepada kelompok ternak di keenam wilayah tersebut. Tujuannya untuk mengedukasi dan memberikan pemahaman terkait hak dan kewajiban para kelompok ternak.

“Kita (DPKH Kaltim) memiliki harapan yang besar kepada para kelompok ternak agar program (stimulus) ini dapat berjalan dengan baik,” terangnya saat dihubungi melalui telepon seluler, Minggu (20/9).

Program yang dimaksud Yakop adalah stimulus 223 ekor sapi. Yang digelontorkan pemerintah lewat DPKH Kaltim. Ia menyebut keinginannya agar stimulus sapi ini mampu berjalan secara sustainable. Atau bergulir antar kelompok.

“Minimal bisa berkelanjutan 3 sampai 5 tahun kedepan,” ucap Yakop.

Diketahui ada 15 kelompok ternak yang hadir pada saat pelatihan stimulus sapi tersebut. Dimana Yakop sendiri kembali mengingatkan pentingnya pertanggungjawaban oleh pihak peternak. Untuk lebih merasa memiliki ternak yang telah dihibahkan.

“Kita tidak terlalu banyak mengintervensi, tapi kita juga ingin melihat bagaimana perkembangan dan pertanggungjawaban terhadap sapi ternak yang diberikan. Jangan sampai mindset-nya kalau hibah itu diberikan secara cuma-cuma,” pungkas Yakop. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar