Lawan Selalu Dua Kali Lipat

Lawan Selalu Dua Kali Lipat

Balikpapan, Nomorsatukaltim.com – SUDAH buah bibir, uanglah yang menggerakkan massa. Jadi motor strategi lapangan di banyak pilkada. Mobilisasi massa, saksi-saksi, hingga lobi-lobi elite. Soal ini posisi Ahmad Basir memang gamang. Bagaimana melawan kekuatan pihak lain. Yang selalu menjanjikan 2 kali lipat dari kekuatan dana operasionalnya. Begitulah kabar beredar.

Kekuatan uang memang hal lumrah dalam pilkada. Sekelas Amerika Serikat saja, pilpresnya adalah pertempuran para miliuner. Seperti perang legislatif 2018 lalu. Bermunculan George Soros, Charles Koch, hingga Thomas Steyer, yang total kekayaan mereka mencapai Rp 973 triliun (kurs Rp 14.900).

Salahsatu contoh George Soros. Pria berusia 90 tahun ini menyumbang USD 16 juta. Atau hampir Rp 300 miliar untuk kandidat Partai Demokrat. Soros adalah sosok yang juga dikenal sebagai “The Man Who Broke the Bank of England”. Karena penjualan singkatnya senilai USD 10 miliar pounds, yang membuatnya untung USD 1 miliar selama krisis mata uang Inggris pada 1992.
Ada pula mantan wali kota New York, Michael Bloomberg. Juga menceburkan USD 110 juta (Rp 1,6 triliun) untuk para kader Partai Demokrat memenangkan DPR, senator dan gubernur di AS.
Di Indonesia, sudah jamak kabar pengusaha kelas berat terlibat dalam pilkada. Tak terkecuali di Balikpapan. Selaras adagium politik berbunyi: calon harus memiliki popularitas, elektabilitas, dan isi tas. Yang terakhir ini juga sangat menentukan. Bahkan tak jarang menjadi penentu utama partai memilihnya sebagai calon yang diusung.
Namun pengakuan isi tas ini selalu malu-malu kucing. Antara ada dan tidak ada. Kelihatan dan tidak kelihatan. Faktanya, baunya selalu tersebar di khalayak. Bila disangkutkan, isi tas ini masuk kategori operasional pemenangan. Baik alat peraga, kampanye, biaya logistik, hingga saksi-saksi. Tentu juga mobilisasi massa. Ke berbagai titik kampanye.
Dalam pilkada Balikpapan, Basir juga mempersiapkan dana menghadapi kampanye. Namun rumor yang beredar, ada pihak lain yang sangat kuat. Mempersiapkan dana hingga Rp 30,5 miliar. Khusus melawan manuver politik Basir. Angka itu disebut-sebut dua kali lipat dari kekuatan operasional Basir. Bahkan kalau Basir nekat menaikkan, angka Basir akan dikali-dua lagi. Basir seperti menghadapi gunung duit. Tidak ada habisnya bila melawan.
“Dalam politik isu seperti ini biasa terdengar. Namun ya beginilah kondisi politik kita,” kata Basir, saat ditemui Disway Kaltim-Nomorsatukaltim.com.
Ketika nyerempet soal isu gunung uang yang menghadang, gesture Basir muncul. Pergelangan kakinya yang diakhiri pantopel bermerek, berkali-kali bergoyang. Menurut ahli psikologi, menggerakkan kaki saat duduk itu umumnya luapan emosi. Bisa berupa marah, gelisah, atau sedih. Penyaluran emosi memang berimbas pada gerak tubuh. Umumnya kaki, saat sedang duduk.
“Saya sangat bangga dengan NasDem. Tidak sepeserpun menyebut angka. Ternyata saya membuktikan sendiri,” lanjutnya. Lalu stop. Dia tidak mau berbicara partai lain.
Dia lantas bercerita. Selama dua bulan sempat bergerilya di Jakarta. Sebelum masa perpanjangan penerimaan calon wali kota Balikpapan ditutup KPU. Pada 13 September.
Basir berangkat tidak sendirian. Membawa beberapa tokoh politik di Balikpapan. Juga sang istri. Irma Syarifudin. Mencoba berkomunikasi dengan pengurus pusat partai-partai. Lobi terakhir untuk mendapatkan perahu. Namun dia gagal. Hingga detik terakhir, hanya NasDem dan Hanura yang bertahan. Di hari terakhir dia tinggal berdua dengan istri. Di Jakarta. Yang lain pulang duluan. Dengan alasan ada kegiatan penting. Basir dan istri lantas mempersiapkan hati. Paling pertama, harus menggelar konferensi pers di Balikpapan nanti.
Yang Basir dengar, ada begitu banyak isu janji-janji politik. Tidak hanya uang operasional pemenangan yang nilainya miliaran. Lahan-lahan pun dijadikan tawaran. Bahkan ada isu yang menyebut, peta daerah dibawa-bawa. Jadi alat bargaining. “Itulah isu yang saya dengar. Semoga tidak benar,” katanya. (che/bersambung)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar