Berawal dari Hobi

Pina yang berdomisili di Berau, cukup aktif dalam membuat dan mendesain baju model cutting.(IST)

Berangkat dari hobi memadukan pakaian, bisa memacu seseorang memiliki passion menjadi desainer fashion. Seperti halnya Vina Hidayanti pemilik Pinaya Studio, yang berdomisili di Bumi Batiwakkal 

Padahal, di perkuliahan, perempuan yang akrab disapa Pina ini, justru bergelut dengan angka dan rumus. Karena berkuliah di jurusan Ekonomi Akutansi, Universitas Balikpapan. Tentu saja sangat berbeda pada dunianya sekarang, yang penuh dengan jarum jahit dan bahan segala jenis kain. Dulu Pina ingin mengikuti jejak sang ibu, bekerja kantoran sebagai akuntan. 

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Pina mengakui, hobinya itu muncul ketika semasa perkuliahan, di mana senang memadukan pakaian mulai dari atas hingga bawah, beserta aksesorinya pun tidak tertinggal. Merasa dunia fashion sangat menarik untuk digeluti, Pina kembali berpikir ulang apakah bergelut di dunia fashion akan menjadi peruntungan baginya. 

“Kebetulan juga, waktu semasa kuliah sering nongkrongnya di distro dan ketemu banyak teman dengan fashion yang unik-unik, saat itu juga jadi terpacu,” jelasnya kepada Disway Berau, (18/9).

Bukan hanya memadukan baju, tapi Pina juga merombak jenis baju menjadi model yang lain. Selain itu, dia juga sudah memiliki ketertarikan untuk mengoleksi sepatu yang menjadikan dirinya membuka brand sepatu handmade sesuai dengan pesanan yang datang.

  • kpu kutim1
  • kpu kutim2
  • kpu kutim3

Disebutkannya, brand sepatu miliknya yaitu we need this little thing yang lahir pada tahun 2010. Semakin banyak pesanan yang masuk, di situlah Pina melihat peluang fashion sebagai bisnis. Akhirnya dia membuka brand tersebut dengan salah seorang teman di Bandung. Mereka menjual sepatu ataupun sandal perempuan, wedges, flat shoes bahkan hingga tas. 

Namun, usaha pertama Pina tidak berjalan lancar. Mereka bersama harus kandas lantaran salah satu partner sibuk untuk urusan skripsi.

“Lalu akhirnya saya memutuskan untuk kursus menjahit, pertama di Balikpapan, hanya 3 bulan saja. Setelah punya kerjaan dulu, nabung dan akhirnya uangnya dibuat belajar ke Jogja, di situ saya benar-benar tekun,” jelas perempuan kelahiran Samarinda, 19 Juni 1992. 

Mahir dalam segi jahit menjahit, Pina mengakui pernah mengikuti satu ajang yang menurutnya sangat besar. Yaitu Jogja Fashion Week. Kebetulan dirinya mengikuti fashion camp. Di mana mereka dilatih keahliannya dan mendapat mentor. Ternyata, desain Pina terpilih untuk dipamerkan di tahun 2018. 

Walaupun belum memiliki signature dalam mode pakaian yang Ia buat, namun lebih suka untuk dengan mode cutting. Mode tersebut seperti mode potongan baju di bagian kiri dan kanan, atas dan bawahnya berbeda kain dan berbeda model. Itu menimbulkan kesan yang unik Bagi Pina. Dia pun masih proses mencari signature dirinya sendiri, dan masih mencoba banyak karya. 

“Masih proses pencarian, masih terus harus berpikir kreatif. Karena selama ini masih suka mengikuti kemauan konsumen setiap proses pembuatan baju, tapi kadang saya arahkan bagusnya seperti apa sesuai bentuk tubuhnya,” ungkapnya. 

Menurut Pina, sebab Ia sekarang berdomisili di Berau, masih sulit untuk melihat pasar mode di sini. Berbeda ketika di luar Berau. Jadi masih harus berhati-hati dalam membaca pasar. Padahal sudah memiliki konsep brand terkhususnya untuk baju. Sudah di tahap model, nama dan jenis bahan, tetapi berencana untuk menggandeng partner. 

“Saya ada brand lain, tapi itu hanya modal iseng saja. Bentuknya sebuah scarf, tapi ketika di bawa ke Berau tidak banyak peminatnya, jadi tidak diteruskan. Lebih fokus untuk pakaian dulu,” terangnya. 

Selain pasar, Pina bercerita tentang bekerja di dunia fashion, yaitu kadangkala apa yang mereka imajinasikan, bisa berbeda jauh dengan hasilnya. Kadang bisa jadi ada kendala di bahan baku dan warna. Dia pun masih sering mencari cara agar bisa mencapai karya yang terbaik dan memuaskan keinginan konsumen.

“Saya masih belajar apalagi ketika pandemik, ini adalah kesempatan sekali bisa jadi lebih kreatif. Tapi kalau berbicara proses kreatif sukanya nongkrong di toilet, bahkan ada kursi khusus sambil cari referensi di sana, dan tengah malam kadang. Aneh ya? tapi memang inspirasi datang tidak terduga kok,” ucapnya. 

Sementara itu, jika ada yang menggunakan jasa Pina, mematok harga terkhususnya di Berau mulai dari Rp 200 ribu.  *RAP/APP

kpu kukar

Saksikan video menarik berikut ini: