Pemkot Samarinda Susun Raperda Pangan dan Gizi

SAMARINDA, nomorsatukaltim.com  – Pemkot Samarinda kembali menyusun rancangan peraturan daerah (Raperda). Raperda itu mengenai ketahanan pangan dan gizi. Pembahasannya pun dilakukan secara virtual.

Dalam pemaparannya Pemkot Samarinda melibatkan tim perumus dari Universitas 17 Agustus Surabaya. Asisten I Sekretariat Kota Samarinda Tejo Sutarnoto mengatakan, sebelum masuk dalam program legislatif, Pemkot perlu merumuskan penyusunan akademisi dengan melibatkan berbagai pakar yang mengerti di bidangnya. Sebab, sampai sekarang pemkot menyadari kalau kebutuhan pangan di Kota Tepian masih bergantung dari luar daerah.

“Sehingga saat masuk tahap finalisasi nanti yang dibahas bersama anggota DPRD. Isi Perda tak hanya menyebutkan ketersediaan dan distribusi pangan saja,” katanya saat dihubungi Nomor Satu Kaltim melalui jaringan telepon, Kamis (17/9/2020).

“Ada juga yang membahas jaminan ketersediannya, gizi pangan yang berkualitas baik. Karena sampai sekarang kita masih banyak mengharapkan pasokan pangan dari luar Samarinda. Kita belum memiliki kesediaan pangan sendiri,” tambahnya lagi.

Stunting atau gizi buruk masih menghantui Samarinda. Salah satu faktornya ialah pola hidup tidak sehat. Karena itu Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda pun memberikan tablet penambah darah untuk remaja. Khusus tingkat SMP dan SMA sederajat.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) DKK Samarinda drg Annie Rachmajanti mengatakan pencegahan stunting tidak hanya saat 1000 hari pertama kehidupan janin. Jauh sebelum itu. Pencegahan bisa dilakukan sejak perempuan masih remaja.

“Remaja putri ini kan biasanya kalau lagi haid itu biasanya kekurangan darah. Nah, ditambah dengan pola hidup yang tidak sehat. Makan serba instan. Dan jarang berolahraga. Untuk itu, kami memberikan pil penambah darah yang rutin seminggu sekali untuk satu orang,” katanya kepada Nomor Satu Kaltim kala itu.

Dijelaskannya, stunting dapat terjadi akibat kekurangan gizi mikro. Kalau karbohidrat, lemak dan protein bersifat gizi makro. Nah, kebutuhan gizi mikro itu terkadang disepelekan. Untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro tersebut, pemerintah memberikan pil tambahan. Pengadaan pil tersebut dari hasil patungan.

Pencegahan stunting ini dilakukan di semua lini. Termasuk ibu mengandung. Diskes Samarinda juga sangat getol memperhatikan suplai gizi kepada ibu hamil. Bahkan hingga anak tersebut lahir. Pemantauan rutin setiap bulan juga dilakukan di posyandu. Anak-anak yang mengalami dua kali tidak naik berat badannya (2T), bakal langsung diperiksa kondisinya. (mic/boy)

Saksikan video menarik berikut ini:

Komentar