Dulu Berperang, Sekarang Berpelukan

0
IMG 20200917 WA0005
Warga melintas di jalan yang dipasangi latar bendera Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Israel, dan Bahrain. (REUTERS)

Jakarta, nomorsatukaltim.com – Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain resmi mencapai kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel dengan Amerika Serikat (AS) sebagai penengah di Gedung Putih, Selasa (15/9). Kesepakatan damai ini merupakan langkah bersejarah. Mengingat negara-negara Timur Tengah yang tergabung dalam Liga Arab menolak hubungan diplomatik dengan Israel.

Sejauh ini, hanya Mesir dan Yordania yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Mesir berdamai dengan Israel pada 1979. Sementara Yordania pada 1994.

Jauh sebelum kesepakatan damai, negara-negara Timur Tengah kerap menolak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Demi membela Palestina. Sejarah kontemporer dari konflik Israel-Arab sangat dipengaruhi oleh kepercayaan agama dan pandangan dari masing-masing pihak.

Konflik panjang antara Israel dan negara-negara Timur Tengah tak terlepas dari ketegangan politik, konflik militer, dan perselisihan yang meningkat sejak abad ke-19.

Konflik bermula dari klaim yang saling bertentangan atas tanah yang diklaim bangsa Yahudi sebagai tanah air leluhur mereka. Sementara di saat yang sama gerakan Pan Arab yang nasionalis menyatakan tanah itu milik Palestina.

Konflik sektarian, di wilayah yang saat itu dimandatkan kepada Inggris, antara bangsa Yahudi dan Arab Palestina meningkat saat terjadi perang sipil pada 15 Mei 1948. Peristiwa itu dikenal sebagai Perang Kemerdekaan oleh bangsa Israel. Perang ini menandai konflik bersenjata pertama antara Israel dan negara-negara tetangga Arab.

Bagi warga Palestina, Perang Arab menandai awal dari rangkaian kejadian yang menjadi “bencana” dan mimpi buruk mereka. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) justru memutuskan untuk menerbitkan keputusan yang membagi wilayah Palestina ke tangan Israel.

Keputusan PBB tersebut ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah dan negara-negara muslim. Kendati bangsa Yahudi hanya 30 persen dari total daerah yang baru diputuskan PBB, namun mereka mendapat 55 persen dari seluruh wilayah.

Israel kemudian mendeklarasikan kemerdekaan pada 14 Mei 1948 yang disampaikan oleh David Ben-Gurion, kepala eksekutif Organisasi Zionis Dunia. Saat itu, tidak disebutkan batas negara antara Israel dan para tetangga negara Arab.

Selang sehari setelahnya, tentara gabungan Libanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak, dan negara Arab lainnya langsung menyerbu Israel. Israel memenangkan perang tersebut dan malah merebut kurang lebih 70 persen dari total wilayah yang menjadi mandat PBB.

Kapten Avraham Adan kemudian mengibarkan bendera Israel di Umm Rashrash (sekarang Eliat) pada 20 Juli 1949. Sebagai tanda berakhirnya perang.

Penguasaan Israel setelah memenangkan perang membuat bangsa Palestina terpaksa mengungsi dari tanah kelahiran mereka. Sementara negara-negara Arab mengusir bangsa Yahudi yang berada di negara mereka.

MASA TRANSISI

Hubungan antara Israel dan negara-negara Timur Tengah tak kunjung membaik selepas Perang Arab-Israel 1948. Merespons perlakuan Israel, pada 1956 Mesir menutup Selat Tiran dan Teluk Aqaba yang menjadi pintu keluar masuk pengiriman ke Israel. Banyak pihak menganggap keputusan tersebut bertentangan dengan Konvensi Konstantinopel 1888 dan Perjanjian Gencatan Senjata 1949. Mesir melanjutkan aksi penutupan akses pengiriman Israel dengan menasionalisasi perusahaan dan menutup Terusan Suez.

Menanggapi keputusan tersebut, Israel dengan dukungan militer Inggris dan Prancis kemudian menginvasi Semenanjung Sinai pada 29 Oktober 1965. Demi membuka kembali akses pelayaran. Selama krisis Terusan Suez, Israel merebut Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai. Untuk mengekspansi wilayah kekuasaannya.

Atas permintaan AS dan PBB, Israel akhirnya sepakat untuk melakukan gencatan senjata dan mundur dari wilayah Mesir. Kendati didesak mundur, Israel juga berhasil memaksa Mesir memberi jaminan keleluasaan kapal-kapalnya lalu lalang di Selat Tiran.

Sementara itu, Mesir sepakat memberi kebebasan navigasi di wilayah tersebut dan demiliterisasi Sinai. Keputusan demiliterisasi diawasi oleh Pasukan Darurat PBB (UNEF) di area perbatasan Mesir. Lantaran Israel tak memberi izin mereka berada di wilayahnya. Pada 19 Mei 1967, Mesir mengusir UNEF dari daerahnya dan mengerahkan 100 ribu tentara di Semenanjung Sinai.

Sebagai perwujudan impian membangun pemukiman Yahudi di gurun Negev, Israel merancang proyek untuk mentransfer alokasi air sungai Yordania ke wilayahnya.

Kecewa dengan sikap Israel, orang-orang Arab mencoba mengalihkan hulu sungai Yordania. Tindakan ini membuat konflik antara Israel dan Suriah berkembang.

Pada 30 Mei 1967, Yordania menandatangani pakta pertahanan dengan Mesir. Yang menyepakati mobilisasi tentara di Sinai dan perbatasan selatan Israel dengan melintasi garis PBB.

Kecewa dengan kesepakatan itu, Israel melancarkan serangan ke Mesir pada 5 Juni 1967. Angkatan Udara Israel (IAF) menghancurkan sebagian besar Angkatan Udara Mesir. Dalam sebuah serangan mendadak yang di luar dugaan.

Di saat bersamaan, Israel juga melancarkan serangan darat ke Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai. Sebuah serangan yang juga di luar dugaan Mesir.

Setelah bertahan dari gempuran Israel, Presiden Mesir Gamal Abdul Nasir akhirnya memerintahkan evakuasi warga dari Semenanjung Sinai. Pasukan Israel terus bergerak ke arah barat. Dengan memburu dan menyerang pasukan Mesir yang sedang ditarik mundur hingga berhasil menguasai Semenanjung Sinai. (cnn/qn)

Share this :

Leave A Reply