UMKM Batik Tulis Pertama di Samarinda

0

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Canting merupakan salah satu alat yang digunakan untuk membuat karya batik tulis. Notabenenya, hal ini hanya ada di tanah Jawa.

Namun, seni batik canting kini ada di Samarinda. Tepatnya di Jalan Pramuka. Kesenian batik canting yang memberdayakan guru, warga sekitar, juga kaum disabilitas ini pertama kali ada di Kota Tepian.

Produksi usaha mikro kecil menengah (UMKM) ini belum dilakukan secara massal. Lantaran, lebih tertuju hanya untuk edukasi saja. Penggunaan produknya pun hanya perorangan. Hal ini disampaikan Owner Batik Atiiqna Silvi Vidiarti.

“Awalnya begitu, karena mereka bangga (menggunakan). Kemudian dilihat oleh BI (Bank Indonesia). Semua dilakukan dengan manual, hingga akhirnya Atiiqna Batik Baqa Doet dipakai oleh model-model untuk dipamerkan,” ucapnya yang ditemui di tempat pengrajin batik usahanya, Senin (14/9) lalu.

Mengangkat kearifan lokal Samarinda, industri ini sebelumnya pada 2000 silam hanya sekadar perkumpulan pelatihan biasa. Kemudian hingga di 2018 unit batik dibentuk.

Pelatihan membatik juga dilakukan bersama Teman Tuli. Yang bekerjasama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim. Sebanyak 40 Teman Tuli diajarkan mencanting, kemudian mereka juga memproduksi batik tulis. “Jika ada tanda kedua telapak tangan, itu berarti batik tulis buatan dari teman-teman tuli,” jelasnya.

Untuk saat ini diterangkan Silvi, penjualan produk hanya via sosial media. Dan dalam per hari produksinya pun tak menentu. Namun tak hanya kain batik begitu saja yang mereka hasilkan. Melainkan masker serta busana juga mereka buat.

Di hari yang sama, Dinas Perindustrian (Disperin) mengunjungi tempat usahanya. Kunjungan tersebut juga dilakukan bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Samarinda Puji Setyowati. Istri wali kota ini mengaku bangga dengan adanya seni batik lukis menggunakan canting di Kota Tepian.

“Khasnya (Samarinda) tertuang dalam secarik kain. Berbagai macam kebudayaan ada. Seperti buah Bolok, pohon Ulin, bunga Ulin. Ini sebagai alat penyampaian juga jadinya,” terang Puji.

Toni Kuncoro, salah satu pengajar di SMK Negeri 11 Jurusan Tata Busana yang juga ikut mengawasi produksi batik tulis ikut berkomentar. Ia menuturkan, dirinya membantu menentukan pola-pola juga model dari batik tulis tersebut.

“Tapi tetap semua kembali pada kreativitas yang melakukan. Yang nyanting (orang yang melakukan canting), mereka yang langsung menuangkan idenya di sini,” tuturnya.

Pembina Komunitas Batik Samarinda Syahril Darmawi yang hadir juga memberikan tanggapan. Syahril sendiri ikut memberikan usulan agar pelatihan batik tulis ada di Samarinda. “Pola-pola batik tulis itu hanya ada di Jawa. Di Samarinda belum ada. Hal ini bagus jika sudah dipatenkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan tujuannya tak lain, agar kesenian dan ciri khas yang tertuang dalam pola bisa menjadi unggulan tersendiri bagi Samarinda. Ia menegaskan batik Samarinda memang harus diperhatikan.

“Masalah batik memang yang unggul di Jawa, di Kalimantan belum ada. Tapi khasnya daerah Borneo itu kental, bahkan orang dari Solo juga datang ke sini untuk belajar. Itu perlu dijaga,” tegasnya. (nad/eny)

Share this :

Leave A Reply