Rentetan Banjir pada Musim Kemarau di PPU

PPU, nomorsatukaltim.com – Seharusnya, September ini PPU memasuki musim kemarau. Sebagaimana daerah lainnya. Selain secara terorinya memang begitu. BMKG pun menyatakan demikian. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Curah hujan intensitas tinggi masih saja terjadi.

“Tiba-tiba panas, tiba-tiba hujan. Tiba-tiba muncul titik hotspot, tiba-tiba banjir,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila Selasa (15/09/2020).

Kebakaran hutan dan lahan (karhutlah) dan banjir memang menjadi poin utama kesiagaan BPBD PPU. Untuk titik hotspot, seminggu terakhir nihil. Tapi dalam dua pekan terakhir, banjir terjadi di beberapa titik.

Penyebabnya curah hujan tinggi. Juga pasang-surut (pasut) air laut. Karena di beberapa titik banjir itu diakibatkan luapan sungai.

“Kalau curah hujan tinggi, atau berlangsung lama, air sungai meluber ke pemukiman warga,” ujar dia.

Seperti yang terjadi di Kecamatan Babulu, Waru, dan Sepaku. Pemukiman dan ladang warga di sekitaran Sungai Sesulu, Sungai Labangka, dan Sungai Sepaku, calap.

Akibatnya, beberapa RT dan puluhan rumah warga serta areal persawahan tergenang.

Banjir menggenangi 5 RT di Desa Labangka pada 6 September lalu. Empat RT di Kelurahan Waru juga terendam keesokan harinya. Meluas ke 2 RT di Desa Sesulu pada 8-9 September lalu.

“Bukan di titik baru, tapi lokasi-lokasi banjir itu sebelumnya pernah banjir. Hanya ada titik luasan baru saja. Di situ-situ saja,” urai Laila, sapaannya.

Penanganan yang dilakukan BPBD PPU ialah evakuasi, pendataan serta pemenuhan kebutuhan logistik dan bahan makanan.

Ia menduga penyebabnya ialah pendangkalan sungai, penyempitan aliran. Serta sistem drainase di pemukiman yang mampet. Bahkan di beberapa titik tidak ada.

“Saluran pembuangannya ada, tapi kecil. Tidak berfungsi maksimal. Belum lagi saluran air banyak kelokan,” urai dia.

Untuk langkah antisipasi, Laila menuturkan telah berkoordinasi dengan dinas terkait.

Terpisah, Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) PPU Fatmawati mengatakan pihaknya telah melakukan beberapa langkah. Terkait normalisasi sungai.

“Ada beberapa proyek normalisasi sungai yang sedang kami kerjakan tahun ini,” kata dia.

Di antaranya Sungai Labangka di Babulu, Sungai Sesulu di Waru dan Seungai Sepaku di Sepaku. Ada beberapa kilometer.

Yang dilakukan ialah pendalaman dan membuka ruang yang sempit. Unit eksavator dan alat berat long arm dimaksimalkan.

“Soalnya kita juga mau tuntaskan normalisasinya. Agar warga tidak terdampak banjir lagi,” tutup Fatma.

Selain tiga sungai itu, bidangnya memiliki 8 sungai lagi yang akan dinormalisasi. (rsy/ava)

Tinggalkan Balasan