Longsor di Nepal Tewaskan 11 Orang

Longsor di Nepal Tewaskan 11 Orang
Aparat keamanan dan warga di Nepal bahu-membahu mencari korban yang tertimpa longsoran tanah. (IN)

Kathmandu, nomorsatukaltim.com – Hujan lebat yang terjadi pada Minggu (13/9) memicu terjadinya tanah longsor di wilayah perbukitan Nepal. Sedikitnya 11 orang dilaporkan tewas dan 20 lainnya hilang akibat tanah longsor di daerah yang berbatasan dengan Tibet.

Sekitar 28 rumah dilaporkan tertimbun tanah longsor di Desa Barhabise, distrik Sindhupalchok. Tim penyelamat sejak Sabtu (12/9) berupaya menemukan korban yang tertimbun longsor.

Cuaca buruk menghambat tentara, kepolisian, dan warga melakukan proses penyelamatan terhadap korban. Sebanyak 3 orang yang ditemukan dalam kondisi terluka telah dibawa ke rumah sakit. Untuk mendapat perawatan.

“Tim penyelamat sedang bekerja keras. Tetapi menemukan korban hilang dalam kondisi hidup tampaknya tidak mungkin,” kata Shreedhar Neupane, sekretaris pers Ketua DPR Nepal, Agni Prasad Sapkota, mengutip The New York Times.

Distrik Sindhupalchok berada di daerah perbukitan yang rawan longsor. Dalam gempa 2015, lebih dari 8.700 orang tewas dan 3.440 di antaranya berasal dari distrik Sindhupalcok.

Asisten profesor geologi Universitas Tribhuvanm, Basanta Raj Adhikari mengatakan, retakan yang terbentuk akibat gempa membuat daerah tersebut rawan ditempa tanah longsor.

Hal itu terbukti saat longsor pada pertengahan Agustus lalu: sekitar 36 orang ditemukan tewas tertimbun longsor dan 37 rumah hancur total.

Selain Nepal, hujan deras disertai angin muson juga memicu banjir dan tanah longsor pada pertengahan Agustus lalu juga terjadi di India dan Bangladesh.

Kondisi geografi pegunungan di distrik tersebut menjadikannya kian tidak stabil setelah diguncang gempa. Alat berat yang dikerahkan untuk membangun kembali jalan di lereng curam kian memperburuk kondisi tanah yang rapuh.

“Retakan yang terbentuk akibat gempa sebelumnya, sekarang aktif kembali selama musim hujan. Merelokasi permukiman yang tidak aman ke tempat yang lebih aman merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan orang,” kata Basanta. (cnn/qn)

Tinggalkan Balasan