Menuju Reformasi Total UMKM

Menuju Reformasi Total UMKM
Gedung Graha Rahayu yang digunakan Disperindagkop Samarinda. Foto ini diabadikan pada Minggu (13/9) siang. (DIAN ADI PROBO PRANOWO/ Nomorsatukalim)

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Pandemi COVID-19 memunculkan kecemasan bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Penurunan daya beli masyarakat mengakibatkan omzet penjualan mereka ikut merosot. UMKM pun disuruh memilih cara lain untuk tetap bertahan di tengah gelombang pandemi.

Mereka berekspansi dengan menambah jenis saluran penjualan dan pemasaran. Pembatasan aktivitas yang dilakukan pemerintah selama pandemi dapat dilihat sebagai peluang. Untuk berdagang. Dengan mengikuti era digitalisasi.

Teknologi nirsentuh dan tanpa tatap muka (TTM), Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS), bisa menjadi solusi di tengah pandemi. Didukung oleh bank dan non-bank, QRIS terus dikembangkan dan diharapkan bermanfaat bagi semua pihak. Baik untuk pemerintah, pedagang, maupun masyarakat.

Perkembangannya di Kalimantan Timur (Kaltim) cukup pesat. Hingga awal September ini, terjadi percepatan pertumbuhan jumlah merchant. Jumlah QRIS terbanyak di Kaltim adalah Kota Samarinda. Disusul Balikpapan, Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), dan Berau.

Sejatinya, QRIS bertujuan untuk mempercepat terwujudnya UMKM 4.0 di Samarinda. Implementasi piloting QRIS di Samarinda saat ini ada di 4 titik. Pasar Citraniaga: 46 pedagang dan e-retribusinya; Pasar Palaran 65 pedagang dan e-retribusinya, dan Pasar Merdeka 28 pedagang dan e-retribusinya.

“Pasar Citraniaga ada 532, Palaran ada 299, dan Pasar Merdeka ada 368. Serta ada 34 lokasi rumah ibadah juga. Semuanya dalam proses,” terang Tutuk SH Cahyono, kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, dalam laporan Recent Economic Development (RED) Kaltim, Kamis (10/9).

Terpisah, dalam pelaksanaan program BI yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, khususnya Dinas Industri dan OJK Kaltim, mengundang 100 peserta. Acara tersebut diadakan selama 4 hari: 12-15 September 2020.

Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Samarinda memfasilitasi dan mengundang UMKM di Samarinda yang bergerak di bidang kriya, handycfraff, batik dan tenun.

Asisten Manager di Pengembangan UMKM Kantor Perwakilan BI Kaltim, Sheila Reswari menyebut, peserta akan dibagi selama 4 hari. Sehari untuk 25 peserta.

“Dibuka webinar dahulu. Lalu narsum (narasumber) tingkat nasional. Yakni Denny Santoso dan Darwis Triadi,” ucapnya saat ditemui di Gedung Disperindag Kota Samarinda, Jalan Juanda, kemarin.

Materi yang disampaikan berupa akses pembiayaan dan regulasi QRIS. Agar UMKM bisa melakukan pembayaran non-tunai. “Apalagi pandemi COVID-19 ini tetap bisa mengembangkan UMKM masing-masing,” ujarnya.

Peserta diajarkan strategi penjualan secara online di market place. Cara-cara melakukan foto produk, copywriting, juga diajarkan. Agar UMKM mampu menarik perhatian pelanggan.

Account Manager Business Service Telkom, Surya Handoko mengatakan, pelaku usaha yang hadir sebagai peserta berasal dari berbagai usia. Baik muda maupun yang sudah lanjut usia (lansia).

“Dari Telkom, untuk teman-teman yang muda, yang awam, atau yang lansia, itu kita kawal terus. Kita kunjungi dan kita tanya apa yang kurang. Intinya jika sudah aman, mereka sanggup bertransaksi sendiri, nanti mereka lagi yang melakukan sharing ke teman-teman baru,” tuturnya.

Setiap UMKM memang harus bergerak ke dunia digital. Pelaku usaha yang dibina saat ini diharapkan bisa mendapatkan kemudahan.

Maria (42), pengrajin manik-manik di Desa Pampang yang hadir sebagai peserta, mengaku belajar secara otodidak. Melalui kegiatan tersebut, ia ingin mengetahui secara jelas tentang digitalisasi pasar yang saat ini mulai digeluti publik.

Ia juga mengikuti kegiatan tersebut karena dilatari keinginan untuk memanfaatkan waktu luang. “Sebelum corona, banyak event yang kita geluti. Tapi saat ini semua turun,” katanya.

Saat ini, dia memanfaatkan aplikasi pesan instan atau WhatsApp untuk memudahkan pemasaran. Kemudian untuk penggunaan aplikasi, Maria tidak terlalu kebingungan. “Jika ada cara yang lebih mudah dan cepat, kenapa tidak? Biar tidak jadul,” lugasnya.

Penurunan omzet juga dialami Maria. Barang dagangannya di Desa Pampang hanya terjual sedikit. “Penurunan harga kita lakukan sedikit. Itu pasti. Tapi tidak drastis,” sambungnya.

Anindya Monika Putri (24), pengusaha yang bergerak di bidang handycraft, juga memberikan tanggapan. Dia menyebut, program seperti ini bisa memberikan manfaat baginya. Agar lebih mudah memperluas usahanya. “Saya bergerak di UMKM florist. Sudah hampir setahun. Di sini banyak ilmu yang saya dapatkan,” ucapnya.

Anindya mengaku akan menggunakan QRIS. Sebelumnya, dia hanya melakukan transaksi dengan cara langsung transfer ke rekening pribadi.

“Saya sudah ingin coba (QRIS). Tapi belum ada arahan. Nah, semoga setelah ikut kegiatan ini bisa membantu dan ada manfaatnya di usaha saya,” pungkasnya. (nad/qn)

Tinggalkan Balasan