Tantangan Pemanfaatan Kawasan Industri

0
Tantangan Pemanfaatan Kawasan Industri
Potret KEK Maloy di Kutai Timur. (IN)

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Banyak Ekonom dan pelaku ekonomi yang merasa aneh dengan Kalimantan Timur (Kaltim). Produsen bahan mentah. Namun sulit mendapat nilai tambah.

Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim menunjukkan, daerah ini masih mendatangkan minyak goreng ribuan ton per tahun. Padahal bahan baku pembuatan minyak goreng berasal dari Bumi Etam.

Itulah yang mengemuka dalam webinar Perkembangan dan Prospek Perekonomian Provinsi Kaltim, yang diselenggarakan BI Kaltim, baru-baru ini. Yang menjadi bahasan menarik lainnya, ialah soal keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Di Kaltim, pemerintah menetapkan kawasan ekonomi khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 85 Tahun 2014.

KEK Maloy diperuntukkan bagi industri pengelolaan minyak sawit (CPO) dan turunannya, industi pengolahan kayu, logistik dan pelabuhan.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI), Sanny Iskandar menjelaskan, kawasan seluas 557,34 hektare (ha) yang berlokasi di Kabupaten Kutai Timur ini memiliki potensi yang sangat besar.

“Sasarannya sangat luas. Optimalisasi kegiatan industri, ekspor, impor dan kegiatan ekonomi lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” kata Sanny baru-baru ini.

Bukan hanya KEK Maloy. Kawasan industri lainnya juga potensial. Seperti Kawasan Industri Kariangau di Balikpapan. Karena itu, ia merekomendasi beberapa hal yang bisa ditindaklanjuti untuk Kaltim.

Di antaranya mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam tidak terbarukan (non-renewable resources): batu bara, bahan bakar fosil, gas alam, batuan dan mineral.

Pengembangan produksi dari bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Selanjutnya, peralihan produksi dan pengolahan SDA maupun energi terbarukan (renewable resources).

Yang tak kalah penting adalah pengembangan industri pionir yang mendukung pengembangan calon ibu kota negara (IKN) baru.

Selain itu, pihaknya menyebut pemerintah daerah juga harus punya kebijakan yang mendukungnya. Harus ada mitra strategis yang mempunyai komitmen dalam pembangunan. “Karena kawasan Kaltim sudah memenuhi unsur strategisnya (di ALKI II). Di mana bahan baku melimpah dan sudah ada pelabuhan laut,” ujar pria yang juga Ketua Apindo Bidang Properti dan Kawasan Ekonomi ini.

Kaltim memiliki beberapa kawasan yang diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Kawasan untuk hilirisasi SDA dan kawasan untuk pariwisata berkualitas.

Pertama, batu bara. Produk turunannya memiliki nilai tambah yang relatif tinggi sudah diminati investor. Kemudian hilirisasi batu bara mendorong terintegrasinya industri pengolahan terkait di satu kawasan.

Kedua, CPO. Sentra produsen nasional setelah Sumatera. Produk hilirisasi CPO berpotensi dikembangkan lebih jauh. Untuk mendorong terintegrasinya industri pengolahan lanjutan berbasis CPO di satu kawasan.

Ketiga, Petrokimia. Terdapat kawasan petrokimia yang sudah terintegrasi di Kawasan Industri (KI) Bontang. Kepala Perwakilan Kaltim Kaltim, Tutuk SH Cahyono mengatakan, provinsi ini memiliki sejumlah kawasan industri. Namun terdapat sejumlah kendala untuk memanfaatkannya.

Misalnya pembangunan KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan yang mengalami kendala di bidang infrastruktur. “Upaya debottlenecking saat ini masih terus berjalan. Meskipun belum menunjukkan hasil yang signifikan,” terangnya saat dihubungi kemarin.

Ke depan, upaya yang perlu dilakukan adalah penguatan kapasitas melalui dukungan pembiayaan swasta dan insentif serta badan pendukung dari pemerintah pusat.

Selanjutnya, KIK di Balikpapan. Kawasan ini mempunyai potensi. Apalagi pelabuhan peti kemas dekat dengan kawasan tersebut. “Sudah banyak perusahaan yang memanfaatkannya,” ujar dia.

Dia mengatakan, di banyak negara, kawasan industri atau KEK menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Di kawasan tersebut terintegrasi industri hilir yang mempunyai nilai tambah besar.

“China saja punya industri. Meski sebagian bahan baku dari Indonesia. Kaltim punya batu bara dan CPO. Masa tidak bisa buat industri hilirnya? Pasti ada yang perlu dibenahi,” sebut Tutuk.

Gasifikasi batu bara dan CPO menjadi berbagai macam produk turunannya sudah mulai dibangun di KEK Maloy. “Tinggal semua pihak yang terkait harus membuat kawasan industri, yang bisa menarik investor mengolah produk turunan. Seperti mengolah batu bara dengan gasifikasi. Dan mengolah CPO jadi bahan makanan atau kosmetik,” ujarnya. (fey/qn)

Share this :

Leave A Reply