Ormas Islam Geruduk Perusahaan Swedia, Ada Apa?

0

BALIKPAPAN, nomorsatukaltim.com – Sejumlah ormas Islam dan tokoh muslim Balikpapan mendatangi salah satu perusahaan milik Swedia di kawasan Jalan Soekarno Hatta KM 17,5, Jumat (11/9/2020) pukul 14.00 Wita. Kedatangan mereka ini terkait peristiwa pembakaran kitab suci Alquran yang terjadi di Swedia, baru-baru ini.

Kejadian tersebut tentunya memicu kekesalan dari masyarakat muslim, tanpa terkecuali di Indonesia khususnya di Balikpapan. Bagaimana tidak, insiden tersebut dinilai sebagai sebuah penistaan bagi Islam. Puluhan massa berbondong-bondong ke kantor perusahaan tersebut dan berkeinginan menyampaikan apa yang menjadi keluhannya.

“Kami sangat mengutuk tindakan yang terjadi dalam aksi demonstrasi anti-Islam disertai penistaan Alquran, khususnya di Swedia oleh sekelompok kafir harbi tak beradab, jahil murakkab,” ujar Perwakilan Aliansi Muslim Bersatu, Oki usai pertemuan.

Aksi demo yang digelar di salah satu perusahaan milik Swedia tersebut, lantaran agar pihak perusahaan Swedia mau menyampaikan aspirasi atau tuntutan umat Islam di Balikpapan ke pemerintah Swedia.

“Kami di Balikpapan merupakan kota kecil di Kalimantan, umat muslimnya tidak terima kalau kitab sucinya dihina atau dinistakan,” jelasnya.

Dalam aksi ini, perwakilan dari Front Pembela Islam (FPI) menyampaikan sejumlah poin kecaman dan tuntutan mereka. Salah satu dari tiga tuntutannya ialah agar Swedia segera menindak tegas para pelaku kriminal yang telah menistakan Islam tersebut.

“Kami mendesak Duta Besar Swedia bersama perusahaan milik Swedia yang ada di Indonesia, untuk segera menyampaikan pesan kepada pemerintah Swedia bahwa seharusnya para pelaku kriminal tersebut dihukum berat, atau para pelaku dapat diekstadisikan di negara muslim untuk di qisas ataupun ke Indonesia,” tambahnya.

Aksi tersebut berjalan lancar dengan dimediasi oleh petugas serta perwakilan perusahaan. Hanya saja pihak perusahaan enggan untuk berkomentar lebih lanjut.

Untuk diketahui, peristiwa pembakaran Alquran tersebut dilakukan oleh kelompok anti-Islam Denmark, Stram Kurs di wilayah komunitas muslim di Rinkeby, Stockholm. Kelompok yang dipimpin Rasmus Paludan tersebut sehari sebelumnya meminta izin kepada polisi setempat untuk membakar salinan kitab suci umat Islam, namun pengajuan izin ditolak.

Keesokan harinya, mereka nekat datang dan menjalankan aksi yang sudah direncanakan itu, lalu pergi sebelum terjadi keributan yang tak diinginkan. Tak ayal tindakan penistaan tersebut mendapat kecaman dari negara muslim, salah satunya Indonesia. (Bom/zul)

Share this :

Leave A Reply