Bertumpu pada Marketing Langit

0
IMG 20200911 WA0010
Santi memperlihatkan outlet Es Teler Dioji yang bertempat di Balikpapan. (DARUL ASMAWAN/ Nomorsatukaltim)

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Tidak banyak pelaku usaha, khususnya di sektor UMKM, yang mampu bertahan dan mencatatkan pertumbuhan di tengah gulungan badai pandemi COVID-19. Dianti, salah satu yang melakukannya. Dia adalah pemilik usaha Es Teler Dioji di Balikpapan.

Kepiawaiannya mengelola usaha memang tak diragukan. Perempuan yang akrab disapa Santi itu memiliki semuanya. Untuk menjalankan usaha: marketing skill, manajemen, pencatatan keuangan, dan komunikasi.

Pengalaman hidupnya yang panjang membuatnya lebih tenang menghadapi ketidakpastian ekonomi. Pandemi justru membuatnya berhasil menunjukkan kapasitasnya berwirausaha.

Wabah virus corona membuat usaha es teler yang digelutinya anjlok. Pada fase awal SARS-CoV-2 merebak, omzetnya turun 50 persen. Kemudian jatuh 80 persen ketika pemerintah mengampanyekan work from home.

“Bayangkan itu menurun 80 persen?” cetus Santi kala ditemui awal pekan ini di salah satu outlet es teler miliknya. Biasanya dia menjual sehari 60 sampai 70 cup es teler. Kini hanya 8 cup per hari.

Dalam situasi itu, Santi mengaku tak bisa melakukan banyak hal. Tapi ia tetap berusaha menguatkan strategi “marketing langit”. Bukan teori-teori manajemen bisnis lagi. Yang dia maksud “marketing langit” adalah kekuatan doa dan sedekah.

Santi mengungkapkan, alasan satu-satunya tidak menyetop usaha meski dalam keadaan merugi ialah pekerjanya. “Saya fokus memikirkan karyawan saja waktu itu. Karena ada karyawan saya yang perantauan,” ungkapnya.

Walau begitu, keputusan Santi itu telah dipikirkannya dengan matang. Dia berembuk dengan suaminya yang juga masih berupaya mencari pekerjaan. Keduanya sepakat untuk bertahan hidup dari tabungan. Untuk sementara waktu. Karena waktu itu, menurutnya, wabah pandemi tidak bertahan lama. Dia mengira hanya akan berlansung 3-4 bulan. Kemudian setelah itu berakhir.

Perkiraan Santi dan suaminya ternyata meleset. Sudah sekitar 6 bulan wabah belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Hal itulah yang membuat Santi berpikir ulang. Dia pun memilih belajar lagi. Berusaha memahami situasi. Ia terus menggali berbagai potensi di masa-masa paceklik ini.

“Awal-awal pandemi memang sempat syok. Saya berpikir, mungkin memang disuruh istirahat dulu. Jadi, ya sudah. Sambil belajar lagi. Marketing langit dikencangin. Itulah salah satu pembuka pintu rezeki,” ujar dia.

Akhirnya, Santi menemukan ide segar: jualan produk-produk makanan frozen. Ia menganalisa, permintaan produk tersebut tinggi. Penjualannya pun tidak sulit.

Tentu saja untuk memulainya ada risiko. Namun, inilah titik pembuktian kapasitasnya. Ide itu segera dieksekusinya. Santi menghubungi teman-temannya yang memproduksi berbagai varian makanan frozen.

Awalnya, dia menawarkan konsinyasi. Ia menjualkan dagangan teman-temannya sesama UMKM. Yang juga tengah kesulitan.

Terbukti. Produk-produk frozen itu laku terjual. Bahkan antusias pelanggan terus meningkat. Puncaknya, bulan Ramadan lalu: penjualan melejit.

Kemudian, Santi mengajak lebih banyak orang untuk menitipkan dagangan. Sekitar 40-50 item produk yang berhasil dikumpulkan. Frozen dan non-frozen.

“Saya pikir-pikir. Saya ini skill-nya memang di sales. Makanya saya ajak saja teman-teman yang lain. Untuk bergabung,” tuturnya.

Setelah berjalan sebulan, dengan pertumbuhan yang bagus, akhirnya dia mengubah sistem. Produk-produk tadi dibelinya secara langsung. Istilahnya, beli putus. Dibayar langsung. Cash. Teman-temannya bertindak sebagai suplier. Dia sebagai reseller-nya.

Saat ini ada sekitar 70 item produk yang dijualnya. Jenis frozen dan non-frozen. Metode penjualannya hanya dilakukan dari rumah. Pemasarannya lewat online. Pelanggan tinggal memesan. Lalu dikirim memakai jasa kurir.

Meskipun, menurutnya, ada metode penjualan online memiliki kekurangan: ketika permintaan dan pertanyaan dari pelanggan yang datang bertubi-tubi secara bersamaan. Dia merasa kewalahan melayani pelanggan.

Karena itu, dia juga menjualnya secara langsung. Di beberapa outlet miliknya. Terutama saat memasuki akhir pekan.

“Memang kalau jualan langsung itu ramainya di weekend: Jumat, Sabtu, Minggu. Kalau yang online, ramai saat hari kerja. Week day,” jelasnya.

Dia menerapkan sistem pembayaran non-tunai dalam setiap transaksi online. Transfer antar rekening bank. Untuk memudahkannya menggunakan aplikasi transfer uang digital: Flip.

Usahanya terus berkembang. Akhirnya muncul ide baru. Membuat brand anyar: Dioji Food. Dioji Food inilah yang menjual produk-produk frozen dan non-frozen tadi. Dari tahu bakso, siomay, singkong frozen, sambel pecel, jahe merah, madu sampai alpukat.

Salah satu andalan Dioji Food adalah alpukat. Karena penjualannya bagus. Dia pun sudah paham betul bagaimana menangani alpokat. Sehingga ia tidak perlu takut membeli dalam jumlah banyak dari suplier di pasar: seminggu bisa sampai 300 kg.

Kini, Dioji Food menjadi suplier alpukat untuk usaha Es Teler Dioji miliknya. Di samping itu, alpukat juga dijual langsung. Karena permintaannya yang banyak. “Luar biasa permintaannya,” kata dia.

Kedua usahanya itu memang dibuat 2 badan usaha berbeda. Termasuk sistem pencatatan, keuntungan, modal dan sebagainya. Semacam 2 holding berbeda dengan pemilik yang sama.

Seiring berkembangnya Dioji Food, penjualan Es Teler Dioji secara perlahan turut meningkat. “Dari awalnya buka hanya untuk gaji karyawan dan sewa tempat,” kata Santi. Saat ini usahanya mulai mencatatkan keuntungan.

Meski demikian, Santi juga merasa kehilangan peluang “panen” saat Lebaran. Pupus. Padahal saat Lebaran, biasanya banyak pesanan secara partai. Tapi setelah melewati fase itu, Es Teler Dioji mendapat orderan rutin setiap pekan. “Pesanan untuk sedekah Jumat. Itu cukup membantu keuangan bisnis. Membuat penjualan lumayan stabil lagi,” ujarnya.

Padahal, penjualan Es Teler Dioji sempat anjlok. Ketika pemerintah memberlakukan sejumlah pembatasan. Bahkan Es Teler Dioji sempat meminjam dana dari Dioji Food. “Memang sistem pencatatan keuangan 2 usaha ini dibedakan. Agar tidak kacau manajemennya,” terang dia.

Kini kedua usahanya berjalan dengan baik. Bertumbuh dari sisi penjualan. Meskipun masih harus berjibaku dan menghadapi ketidakpastian situasi ekonomi, daya beli, tren dan minat belanja masyarakat.

Tetapi Santi bersyukur bisa mengambil hikmah positif dari pandemi ini. Bahkan dia bisa menambah usaha, brand, dan turut membantu banyak orang.

“Buat yang lain (pelaku UMKM), jangan melihat ini sebagai masalah. Gunakan saja waktu dan kesempatan yang ada sebaik-baiknya. Positive thinking saja,” tutupnya. (das/qn)

Share this :

Leave A Reply