Ekspor Karet di Kaltim Meningkat

0
IMG 20200910 WA0011
Proses ekspor karet Indonesia ke sejumlah negara. (IN)

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Ekspor karet kembali meningkat semenjak adanya kebijakan baru new normal. Ribuan ton dikirimkan dari wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) ke pasar internasional.

Soal harga, para petani karet tidak perlu khawatir. Lantaran harga per kilogramnya mulai dari Rp 4.000 sampai Rp 6000. Harga itu pun ditentukan. Tergantung kadar kering karet.

Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, Surya Dharma Herman mengatakan, 10 Unit Pengolahan dan Pemasaran BOKAR (UPPB) yang dibentuk untuk mencapai tujuan perbaikan mutu karet alam nasional dengan fungsi kelembagaan dan pemasaran yang terorganisir di Kaltim, mampu menghasilkan karet yang berkualitas.

“Ada 2 pabrik karet yang kita miliki: PT MKC (Multi Kusuma Cemerlang) yang ada di Palaran dan PT DSI (Davco Sendawar Industri) di Kutai Barat (Kubar),” ucapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (8/9).

Surya menjelaskan, sebagian kelompok tani (poktan) karet masih melakukan panen dengan cara tradisional. Tetapi mampu memenuhi standarisasi kedua perusahaan tersebut.

Ia menyebut, kualitas karet ini berhubungan dengan harga. Jika kualitasnya bagus, maka harganya pun akan tinggi. Jika tidak, harganya bisa turun. Kadar karet kering (KKK) juga menentukan nilai jualnya.

“Kita selalu memberikan bantuan untuk poktan. Khususnya UPPB yang kita bina. Per kelompok diberikan bantuan sebesar Rp 100 juta per tahun. Tapi diberikan dalam bentuk alat. Mereka akan memberikan proposal ke kita,” terangnya.

Setiap kelompok yang terdiri dari 20 anggota akan meminta 7 jenis alat bantuan: pisau sadap, mangkok sadap karet, ring mangkok sadap, talang sadap, bak pembeku, bahan pembeku lateks, dan saringan lateks.

Penjualan pun tidak hanya ke kedua perusahaan tersebut. Poktan juga akan menjual karetnya ke pengepul. Namun standarisasi KKK akan berbeda dari MKC dan Davco.

“Harganya pun berbeda. Jika ke MKC dan Davco Rp 6.500 per kilo. Ke pengepul bisa Rp 5.800 atau Rp 5.600. Poktan pun akan mengantarkan ke pengepul langsung. Biar tidak ada ongkirnya,” jelas dia.

Terpisah, General Manager PT MKC, Sudarmaji menerangkan, secara berkelanjutan pihaknya memproduksi karet alam yang dijual ke pasar internasional seperti Eropa, Amerika, dan Asia. Anak perusahaan Michelin ini hanya menjualnya untuk bahan baku ban.

Bahan Olah Karet Rakyat (BOKAR) yang diperoleh dari petani memang memiliki standarisasi tertentu. Tak lain agar keuntungan harga untuk petani bisa dicapai. “Kita turun ke lapangan (poktan). Mereka bisa jual ke kita secara langsung juga,” tandasnya

Pengambilan karet dilakukan setiap hari. MKC menerima karet dari poktan bisa mencapai ratusan ton per hari. “Harga kita berikan secara transparan. Tidak bisa kita tetapkan. Tergantung dari harga pasar Singapura-Sicom,” ujarnya.

Diketahui, harga karet di bursa Singapura-Sicom, untuk kontrak berjangka September 2020 menguat US$ 1,1 atau 0,85 persen ke posisi 132,7. Untuk perdagangan karet di bursa Shanghai (SHFE), harga karet kontrak Januari 2021 berada di posisi 12475 yuan. Naik 85 yuan atau 0,94 persen dari posisi sebelumnya. “Penjualan kita rata-rata 2.000 ton per bulan,” tambah Sudarmaji.

Ia menjelaskan, pemasaran tidak dilakukan di pasar terbuka. Hanya sesuai arahan pimpinan perusahaan. “Nanti bagian-bagian (pemasaran) itu yang mengatur sendiri ke tempatnya. Di mana saja akan dijual,” tandasnya. (nad/qn)

Share this :

Leave A Reply