Ekonomi Afrika Selatan Minus 51 Persen

0
IMG 20200910 WA0016
Penyaluran bantuan untuk pelajar di Afrika Selatan selama pemerintah menerapkan karantina wilayah. (IN)

Bloemfontein, nomorsatukaltim.com – Pertumbuhan ekonomi Afrika Selatan semakin anjlok. Produk Domestik Bruto (PDB) Afrika Selatan telah minus selama 4 kuartal berturut-turut. Menempatkan negara itu berada dalam resesi yang panjang.

Penurunan pertumbuhan ekonomi tak lain disebabkan oleh karantina wilayah. Untuk menghindari penyebaran COVID-19. Sehingga menghantam ekonomi pada April, Mei, dan Juni.

Mengutip Bloomberg, Rabu (9/8), terbatasnya mobilisasi warga Afrika Selatan telah menempatkan ekonominya ke dalam resesi terpanjang dalam 28 tahun. Dengan kontraksi PDB di kuartal II-2020 lebih tajam dari perkiraan.

Badan Statistik Afrika Selatan mengumumkan, PDB telah menyusut minus 51 persen secara tahunan (year on year/yoy) di kuartal II-2020. Menyusul kontraksi minus 1,8 persen dalam 3 bulan pertama (kuartal I-2020).

Angka itu merupakan penurunan PDB paling tajam. Setidaknya sejak 1990. Memperpanjang resesi hingga kuartal IV-2020. Bahkan ini merupakan periode kontraksi kuartalan terpanjang berturut-turut sejak 1992.

Lockdown secara nasional yang dimulai pada 27 Maret 2020 memperdalam kemerosotan ekonomi. Yang terjebak dalam siklus penurunan terpanjang. Setidaknya sejak Perang Dunia II.

Saat lockdown, masyarakat diizinkan meninggalkan rumah. Hanya untuk membeli makanan dan mencari perawatan medis. Lockdown kemudian dibuka secara bertahap pada 1 Mei 2020. Sayangnya, banyak perusahaan tutup permanen dan memecat pekerjanya selama lockdown terjadi.

Susutnya pertumbuhan ekonomi lebih dalam dari perkiraan bank sentral yang sebesar 40,1 persen. Hal ini meningkatkan kemungkinan bank sentral bakal menurunkan suku bunga acuan keenam kalinya tahun ini.

Bulan lalu, gubernur bank sentral Afrika, Lesetja Kganyago mengatakan, rendahnya inflasi yang menuju pada deflasi memberi ruang pada komite kebijakan moneter untuk merespons, jika guncangan ekonomi akibat pandemi ternyata lebih buruk dari perkiraan.

Di lain hal, kontraksi yang berlanjut akan membebani penyerapan pendapatan negara. Kontraksi pun akan membuat pemerintah semakin sulit. Untuk menstabilkan utang dan mempersempit defisit anggaran.

Kontraksi juga akan mempersulit pemerintah menurunkan tingkat pengangguran sebesar 30,1 persen. Yang dipandang sebagai rintangan utama. Untuk mengurangi kemiskinan di salah satu negara paling timpang di dunia ini. (kmp/qn)

Share this :

Leave A Reply