Bulog Belum Bisa Beli Jagung

0

Apriansyah (Renata/Disway)

TANJUNG REDEB, DISWAY – Meski produksi jagung di Bumi Batiwakkal berlimpah, sayang wacana Perum Bulog Berau untuk menyerapnya belum bisa terealisasi. Harga di petani masih cukup tinggi.

Kepala Perum Bulog Berau, Apriansyah membenarkan, bahwa pihaknya memang berencana untuk menyerap komoditas jagung di petani Berau. Bahkan, telah menyiapkan modal untuk pembelian jagung sebanyak 300 ton untuk estimasi 2 bulan. Dan modal yang disetujui hanya untuk 100 ton.

“Di cabang Bulog lain memang ada penyerapan untuk khusus komoditas jagung,” ujarnya kepada Disway Berau.

Menurut Apri, penyerapan jagung sebenarnya akan bermanfaat pada asosiasi peternak ayam petelur, yang masih saja mengeluhkan pakan ayam mahal, sebab mendatangkan dari pulau lain. Asosiasi tersebut di Kabupaten Berau membutuhkan minimal 135 ton dalam satu bulan.

Sementara itu, sulitnya penyerapan jagung karena harga petani yang tidak cocok dengan ketentuan harga Bulog.

Bulog memiliki harga acuan pembelian yang terbagi berdasarkan kadar air yang sudah ditentukan. Kadar air 15 persen dibeli dengan harga tertinggi yaitu Rp 3.150 per kilogram. Sedangkan kadar air hingga 35 persen dihargai Rp 2.500 per kilogram.

Target Bulog Berau, penyerapan jagung dari petani Talisayan dan Biatan. Dua wilayah itu berpotensi dengan realisasi panen 36.411 ton Talisayan dan Biatan sebesar 10.950 ton.

“Kondisi jagung yang paling bagus itu memang ada di Talisayan, beberapa kali sudah berdiskusi juga dengan petani dan dinas yang terkait, karena mereka beberapa kali meminta untuk adanya penyerapan jagung di Bulog,” jelasnya.

Namun petani tidak bisa dengan harga yang dipatok oleh pihaknya. Petani meminta harga sebesar Rp 4.000-4.500 per kilogram. Dan pihaknya tidak bisa mengeluarkan modal dengan harga seperti itu, jika tidak sesuai dengan kualitas jagungnya.

“Tapi kalau memang ada yang membeli sesuai dengan harga mereka, kami kesimpulannya menganggap bahwa petani memang sudah sejahtera, dan itu artinya bagus. Karena peran kami memang penstabil harga, jika tidak bisa dengan harga seperti yang ditawarkan, kami tidak apa-apa,” jelasnya.

Bukan hanya Bulog saja yang keberatan dengan harga yang dipatok para petani, namun dengan asosiasi peternak ayam petelur juga tidak bisa mengeluarkan modal yang besar untuk harga tersebut.

“Kalau sewaktu-waktu akan terserap jagung pun kami sudah siap dengan adanya gudang pakan, pembangunannya memang kami siapkan untuk penambahan penduduk Kabupaten Berau dan komoditas lainnya,” tutupnya. *RAP/APP


Bagikan:

Leave A Reply