Ajakan untuk Konsumsi Pangan Lokal

0
IMG 20200909 WA0026

Seorang petani di Kaltim sedang memanen jagung. (IN)

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Indonesia memiliki berbagai pangan lokal. Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah mengajak masyarakat untuk mencintai pangan lokal. Bukan hanya karena bergizi dan sehat. Tapi juga menjaga kualitas konsumsi masyarakat.

Pangan lokal itu seperti ubi kayu (singkong), ubi jalar, sukun, jagung, sagu, pisang, sorgum, serelia, umbi, buah dan pangan lokal lainnya.

Meski pandemi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menggencarkan diversifikasi pangan lokal. Baru-baru ini, Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim menggelar kegiatan sarapan tanpa nasi. Yang diganti dengan pangan lokal. Kegiatan tersebut dilakukan sebulan sekali.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DPPP) Balikpapan, Heria Prisni mengatakan, gerakan diversifikasi pangan semakin intensif disosialisasikan ke masyarakat.

“Beberapa kali pertemuan selalu mengajak masyarakat mencintai pangan lokal. Mengolah pangan lokal menjadi makanan yang bisa disukai masyarakat,” kata Heria saat ditemui Selasa (8/9).

Pangan lokal tidak hanya sehat dan bergizi. Pangan lokal juga penting. Dalam memperbaiki kualitas konsumsi masyarakat. Di dalamnya ada peran UMKM yang sangat besar. Dalam mewujudkan pola pangan impian tersebut.

Karena itu, dalam setiap kesempatan dia selalu mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi pangan lokal. Seperti jagung, singkong, dan lainnya. “Ayo diversifikasi pangan dengan mengonsumsi pangan lokal,” imbuhnya.

Ia memastikan, apabila masyarakat mulai mengonsumsi pangan lokal, daerah mampu memenuhi kebutuhannya. Petani di Balikpapan bahkan mampu berkontribusi dalam surplus singkong dan jagung. Per tahun, Balikpapan mampu memproduksi 425 ton jagung. Sementara ubi kayu mencapai 6.909 ton.

Sebagai upaya mengolah pangan lokal, dia menyebut, baru-baru ini ada warga yang membuat bubur COVID-19. Bahannya pun dari jagung.

Heria menambahkan, dalam kondisi pandemi, upaya menggalakkan pangan lokal terus dilakukan. Meski pergerakannya masih terbatas. “Sebenarnya kalau tidak ada pandemi, bisa lebih dimasifkan lagi sosialisasinya,” ujar dia.

Diketahui, gerakan diversifikasi pangan menjadi program nasional. Pemerintah pusat melalui beberapa kementerian terkait berslogan Sehat, Bahagia dengan Pangan Lokal terus mengajak masyarakat untuk mengonsumsi pangan lokal yang bergizi berimbang, sehat, dan aman (B2SA). (fey/qn)

Share this :

Leave A Reply