Tingkatkan Produktivitas Padi, Kembangkan Kawasan Pertanian Berbasis Inovasi

0

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Desa Manunggal Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) jadi kawasan pertanian berbasis inovasi (KPI) padi. Pengembangan kawasan ini dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kaltim.

Kepala BPTP Kaltim, Muhammad Amin mengatakan, pengembangan KPI ini merupakan salah satu terobosan. Untuk menciptakan sistem pertanian yang maju, mandiri, dan modern di wilayah Bumi Etam.

“Dengan KPI ini diharapkan bisa meningkatkan produktivitas hasil panen, dan menyejahterakan para petani,” katanya kepada Nomor Satu Kaltim  dalam acara panen padi KPI di Desa Manunggal Jaya, Tenggarong Seberang, Selasa (8/9/2020).

Total lahan yang dikelola BPTP sebagai KPI seluas 20 hektare. Bekerja sama dengan empat kelompok tani di desa setempat. Yakni Kelompok Tani Sidomaju, Sumber Rejeki, Rukun Karya, dan Sumber Rejeki Putra. Inovasi yang dilakukan adalah penggunaan bibit tanam Varietas Unggul Baru (VUB) Inpari 30. Dengan sistem tanam Jajar Legowo (Jarwo) 2:1 dan 4:1.

Sistem tanam Jarwo adalah metode menanam padi sawah dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong. Dengan sistem tanam ini, dapat meningkatkan jumlah populasi tanaman padi hingga 33 persen, dibanding pola tanam biasa.

Peran inovasi teknologi ini, kata Amin sangat penting dalam menunjang pertanian yang maju dan modern. Ke depan, pengembangan inovasi pertanian lainnya akan terus dilakukan. Terutama pengembangan sistem integrasi pertanian dengan tanaman holtikultura dan peternakan.

Dalam kesempatan yang sama, Sriwulan Pamuji Rahayu, Peneliti BPTP sekaligus penanggung jawab KPI Desa Manunggal Jaya melaporkan, hasil panen padi KPI diperkirakan akan mencapai produktivitas 7,2 ton per hektare. Cukup tinggi dibandingkan dengan hasil panen sebelumnya, yang berkisar antara 4 hingga 5 ton per hektare.

“Hasil rata-rata untuk Inpari 30 adalah 7,2 ton per hektare. Dengan tinggi tanaman 101 sentimeter yang dipanen pada umur 97 hari, dan struktur nasi pulen,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga membimbing para petani untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Sembari menunggu hasil panen padi, dengan memperkenalkan metode tumpang sari. Yakni pertanaman campuran dua jenis tanaman atau lebih pada satu areal lahan tanam.

Para petani kemudian memanfaatkan lahan galengan sawah untuk menanam sayuran. Seperti kacang panjang, buncis, dan timur, serta tanaman palawija. Seperti jagung manis dan jagung pipil. (Krv/zul)

Share this :

Leave A Reply