Peluang Transaksi Digital Berpotensi Tumbuh

Bisnis berbasis digital punya pasar luas. Bahkan hingga dunia. Asal produk punya kualitas dan bernilai jual tinggi. Digitalisasi kini menjadi kunci.

—————

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Ekonomi dan keuangan digital diproyeksikan meningkat dan terus bertumbuh. Nominal transaksi e-commerce per Maret 2020 tumbuh 9,9%. Dengan volume transaksi naik 18,1% (mtm).

Pelaku usaha diharapkan bisa mengambil peluang ini. Di Indonesia saja, pengguna internet hingga 150 juta orang.

Salah satu indikator pertumbuhan tersebut adalah kesadaran masyarakat terhadap penggunaan e-commerce. Khususnya di masa pandemi COVID-19. Metode pembayaran di e-commerce didominasi penggunaan digital banking dan uang elektronik (UE).

Bank Indonesia merilis data digital payments tumbuh di kisaran 20% pada dua tahun terakhir (2018-2019). Pasar digital payments diproyeksi akan terus tumbuh di kisaran 9%-19% pada 2020-2021.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur Tutuk SH Cahyono mengatakan, ekonomi digital di Indonesia meningkat pesat. Dengan jumlah pengguna yang relatif besar seiring terjadinya pandemi. “Maka potensi dan percepatannya ke depan juga luar biasa,” jelas Tutuk SH Cahyono saat dihubungi Minggu, (6/9) kemarin.

Berdasarkan survei tahap III yang dilaksanakan Bank Indonesia di Kaltim pada Juli 2020. Bahwa 71,15% UMKM mengalami penurunan penjualan, 53,26% UMKM mengalami penurunan harga jual, 46,79% UMKM mengalami penurunan pasokan bahan baku, 37,82% UMKM melakukan PHK dan 63,37% UMKM kesulitan melakukan pembayaran cicilan.

“Permasalahan utama yang dihadapi oleh UMKM adalah pemasaran sebesar 35% dan permintaan 34% secara nasional. Sektor industri makan dan kreatif menjadi industri yang paling terdampak pandemi ini,” bebernya.

Di tengah tantangan berat, pelaku usaha ataupun konsumen dihadapkan pada peluang baru agar mampu bertahan dan bangkit kembali di era new normal. Digitalisasi menjadi kunci. Dimana tren digitalisasi menekankan pada mobilitas, kecepatan, fleksibilitas serta keamanan menjadi solusi yang sangat relevan dalam memitigasi risiko COVID-19.

Ia mengatakan, digitalisasi sistem pembayaran menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga laju perlambatan aktivitas ekonomi di masyarakat. Dalam kondisi ekonomi global yang terkontraksi. Perkembangan digital membuka peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebagai new growth engine.

“Tren digitalisasi mulai menunjukan peningkatan secara bertahap. Peningkatan terlihat dari transaksi digital payment,” ujar Tutuk.

Berdasarkan data Bank Indonesia Kaltim. Pertumbuhan QRIS mengalami percepatan. “Di Kalimantan jumlah merchant di Kaltim pertumbuhannya tertinggi. Merchant sebagian besar berasal dari UMKM,” sebutnya.

Jumlah merchant QRIS di Kalimantan Timur sebanyak 74.013. Angka tersebut berasal dari Kota Samarinda sebanyak 29.102, Balikpapan mencapai 21.163, Kutai Kartanegara sebanyak 8.602, Kutai Timur 6.271 dan Berau sebanyak 3.390 merchant.

Ia menilai digitallisasi ini momen bagus untuk mengembangkan UMKM menjadi salah satu kekuatan ekonomi. Dengan digital, UMKM punya kemampuan untuk menerobos jarak dan menghilangkan asimetri informasi yang dihadapi. “Tentunya semuanya dengan syarat produk UMKM benar, dijaga kualitas dan konsistensinya serta pasokan sesuai permintaan,” tandasnya.

Namun sayangnya, literasi digital para UMKM masih relatif rendah. Hal itu terkendala dengan SDM dan kemampuan mengakses. “Yang terkadang kalah dengan perusahaan besar yang memiliki SDM dan akses (modal, informasi dan lain-lain) lebih bagus,” terangnya kepada Disway Kaltim.

Meski literasi para UMKM relatif rendah. Peran UMKM sangat strategis. Karena memiliki paling besar menyerap tenaga kerja dan lainnya. Sehingga perannya masih bisa dioptimalkan. “Kalau UMKM lebih besar, maka dengan sendirinya pengangguran akan jauh berkurang (dibandingkan perusahaan tambang yang membesar misalnya, relatif kurang menyerap tenaga kerja),” jelas Tutuk SH Cahyono.

Sejak awal, jauh sebelum COVID-19, Bank Indonesia berupaya mendorong UMKM untuk Go Digital. Berbagai upaya itu di antaranya sudah punya paket pelatihan agar UMKM bisa on boarding atau go digital. “Awalnya melalui conversational commerce (seperti pemasaran lewat Instagram, FB, WA dll),” sebutnya.

Selanjutnya di awal 2020, pihaknya juga memperkenalkan pelatihan online. “Saat ini lebih kencang lagi. bahkan kami beberapa kali mengadakan webinar dengan menghadirkan pelaku/ pemerhati/ ahli/ otoritas di bidang bisnis UMKM di era digital level nasional dan bahkan internasional,” ujar pria yang pernah menjabat sebagai kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Balikpapan.

Tutuk mengatakan, BI juga memfasilitasi beberapa UMKM yang sudah punya daya saing. Dan siap untuk diberi pelatihan dan pendampingan selama beberapa bulan oleh ahlinya, yang dikoordinir oleh BI pusat. “Saat ini kami gencar melakukan digitalisasi guna mendukung terwujudnya UMKM 4.0,” tukasnya.

Disinggung mengenai tumbuhnya industri rumahan yang banyak muncul di tengah pandemi. Pihaknya menyarankan kepada pelaku usaha untuk memasukan produk usahanya ke platform digital dengan tampilan menarik.

Hal itu agar produk tidak dikenal hanya masyarakat di sekelilingnya atau di suatu daerah saja. Tetapi bisa dikenal di seluruh Indonesia bahkan dunia. Syaratnya, produknya harus bersaing. “Syukur-syukur bisa unik yang tidak ada saingannya,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Bimo Epyanto menyebut bahwa transaksi digital di Balikpapan tumbuh pesat. “Secara umum penggunaan transaksi digital di Balikpapan cukup pesat,” ucapnya tanpa menyebutkan data pastinya.

Menurutnya, transaksi digital merupakan salah satu solusi bagi masyarakat dalam beraktivitas di dalam era kebiasaan baru. Di tengah aturan social distancing, transaksi digital dapat dilakukan kapan saja, di mana saja dan tanpa mengenal jarak. “Transaksi digital akan meningkatkan efisiensi usaha karena dengan transaksi digital berlangsung cepat, transparan dan aman,” sebutnya, Minggu (6/9).

Penggunaan transaksi digital oleh UMKM akan membuat UMKM naik kelas. Karena semua transaksi dilakukan secara tercatat secara akurat dan tepat waktu. Kondisi ini akan memudahkan penilaian kelayakan usaha para UMKM apabila mereka berinteraksi dengan lembaga keuangan. “Transaksi digital mendukung kebijakan keuangan inklusif,” tambah Bimo Epyanto. (fey/eny)

Leave A Reply