Kreatif di Tengah Pandemi, Nardi Sulap Sabut Kelapa Jadi Pot Bunga

0

Penajam, nomorsatukaltim.com – Situasi pandemi COVID-19 berdampak ke berbagai penjuru. Ekonomi juga sekarat karenanya. Tak sedikit perusahaan memberhentikan pekerjanya.

Warga Penajam Paser Utara (PPU), Nardi ikut terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Dari sebuah perusahaan tambang di Kalimantan Tengah (Kalteng) Mei lalu.

Perekonomian keluarganya macet. Pekerjaan baru tak kunjung ada. Mau tak mau ia harus memutar otak. Mengusahakan apa yang bisa dilakukan. Di PPU banyak sekali tumbuh pohon kelapa. Khususnya di wilayah pesisir. Yang dekat dengan laut. Kecamatan Penajam misalnya.

Nardi melihat potensi yang bisa digali dari komoditas ini. Sabut kelapanya. Ia ubah menjadi pot bunga. “Saya perhatikan, sabut kelapa di belakang rumah mertua saya tak banyak dimanfaatkan. Jadi saya coba-coba buat jadi pot,” katanya ditemui Disway Kaltim, Minggu (6/9).

Ia parut sendiri buah kelapa itu. Hingga menghasilkan sabut. Awalnya alat parut itu dibuat seadanya. Saat ini, ia telah memodifikasi alat parut sabut dari mesin parut kelapa. Milik keluarganya yang sudah tidak dimanfaatkan. Ruang yang dimanfaatkan hanya pekarangan rumahnya.

Usaha ini baru ia rintis. Paling tidak sekira Juni lalu. Berbekal ilmu yang ia pelajari dari internet. Hingga saat ini ada dua produk yang sudah ia produksi. Pot dan cocopeat. Cocopeat ini biasanya digunakan untuk media tanam.

Semua ia buat sendiri. Kadang juga dibantu istri dan kerabat lainnya. Tak pelit, ia juga menjelaskan proses pembuatannya. Bahannya hanya sabut kelapa dan kawat.

Pertama, potong kawat sesuai yang dikehendaki. Lalu dibentuk tabung besar untuk bagian luar. Lalu lingkaran kecil untuk bagian dalam. Serta kawat bentuk untuk alas bawah.

Lalu kawat itu dirangkai menggunakan tang. Selanjutnya tinggal masukkan sabut kelapa sela tabung besar dan kecil. Lalu sabut dimasukkan hingga penuh sambil ditekan-tekan. “Saya mulai produksi sekitar Juli. Sampai saat ini sudah ratusan pot terjual,” jelas Nardi.

Ia masih mempromosikan melalui media sosialnya. Selain dipasarkan ke PPU, selama ini ia juga mendapatkan pesanan dari luar daerah. Penghobi tanaman dari Samarinda dan Kutai Timur (Kutim) juga membeli pot darinya. “Saya juga perhatikan, selama masa COVID-19 ini, banyak masyarakat di rumah saja. Tidak punya kegiatan. Nah, kebanyakan saya perhatikan mereka mulai menggemari bercocok tanam,” urainya.

Hasil atas usahanya ini mampu menghidupi keluarganya. Ke depan, ia berniat menyeriusi usaha ekonomi kerakyatan ini. Memanfaatkan potensi yang ada di lingkungannya. Dengan mulai mendesain berbagai rupa pot. Berbagai ukuran dan bentuk. (rsy/eny)

Share this :

Leave A Reply