Jadi Beli Alat PCR?

0


TANJUNG REDEB, DISWAY –
Lonjakan pasien COVID-19 terus meningkat, rencana pembelian alat Polymerase Chain Reaction (PCR) di RSUD dr Abdul Rivai, sudah lama diwacanakan, bahkan sudah kabarnya dianggarkan. Lalu, apakah jadi dibeli?

Ketua Komisi I DPRD Berau, Feri Kombong mengatakan, RSUD dr Abdul Rivai harus mempertanggungjawabkan anggaran yang telah disetujui untuk melakukan pembelian PCR, jika memang sebelumnya sudah dianggarkan.

“Saya belum tahu informasi terkait sumber anggarannya, tapi setidaknya pembelian alat bisa disegerakan jika melihat kondisi saat ini,” ujarnya.
Dia pun mempertanyakan, alasan kenapa RSUD dr Abdul Rivai belum membeli alat tersebut. Menurutnya, jika melakukan kerja sama dengan klinik swasta berdasarkan informasi yang diterimanya, maka konotasinya adalah bisnis.

“Nanti akan kami panggil manajemen rumah sakit. Kami ingin bertanya soal itu,” katanya.

Feri menegaskan, dengan kondisi pandemik sekarang dan lonjakan jumlah pasien terkonfirmasi yang cukup signifikan, Pemerintah Kabupaten Berau, dan RSUD dr Abdul Rivai harus bisa mencari solusi terbaik, dengan membeli PCR, guna mempercepat pemeriksaan dalam jumlah banyak. Apalagi yang berkaitan dengan kontak erat, sehingga tidak mengeluarkan biaya untuk ke klinik swasta.

“Kalau dilihat kondisi sekarang, seharusnya alat itu jadi prioritas,” ungkapnya.

Selain itu, Dia mempertanyakan seberapa jauh persiapan yang telah dilakukan RSUD.

“Apa saja yang sudah disiapkan. Nanti akan kami pertanyakan juga,” pungkasnya.

Sementara, itu Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi mengakui, jika telah melakukan kerja sama dengan Klinik Tirta Medical Center, untuk penanganan dan skirining pasien terkonfirmasi positif COVID-19.
“Sudah ada kerja sama antara pemerintah dengan klinik swasta,” ujarnya kepada Disway Berau, belum lama ini.

Kerja sama yang dilakukan oleh pihaknya meliputi pengambilan sampel dan uji laboratorium PCR. Diakuinya, dalam kerja sama itu pihaknya tetap melakukan pembayaran. Namun, tarif yang diberikan klinik terhadap pemerintah berbeda dengan tarif ke masyarakat atau perusahaan.“Harganya lebih murah lah,” imbuhnya.

Walaupun lebih murah, Iswahyudi tidak berkenan menyebutkan biaya yang harus dikeluarkan untuk satu kali swab pasien terkonfirmasi.
“Kalau untuk harga saya tidak bisa sebutkan,” tegasnya.

Iswahyudi mengatakan, awalnya sempat ingin mengadakan PCR di RSUD dr Abdul Rivai. Bahkan, sepengetahuannya, RSUD telah menganggarkan untuk pembelian di E-catalog.

“Sudah diajukan kalau tidak salah,” imbuhnya.
Harga satu unit alat PCR itu mencapai nilai yang cukup fantastis. Yakni, Rp 500 juta atau setengah miliar. Dan diketahui, bahwa RSUD dr Abdul Rivai juga diharuskan untuk melakukan perubahan terhadap laboratoriumnya.
“PCR itu laboratoriumnya berbeda. Dan ada standarnya sendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Abdul Rivai, Nurmin Baso saat dimintai keterangan terkait rencana pengadaan alat PCR, tidak merespons. */fst/app


Leave A Reply