Bukan Pengaruh COVID-19

0

Yusran (DOK)

TANJUNG REDEB, DISWAY – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat. Ada 3 kasus. Sesuai data di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Berau.

Kasus itu terjadi pada Juli. Sebelumnya hanya terjadi pada Maret, 1 kasus. Peningkatan tiga kasus di Kecamatan Sambaliung satu kasus dan dua lainnya di Kecamatan Tanjung Redeb. Sedangkan pada 2018 lalu, kasus KDRT sebanyak 4 kasus. Pada 2019 hanya ada satu kasus.

“KDRT menjadi sorotan di tengah pandemik. Karena kemungkinan ada pola rumah tangga yang berbeda. Saat lebih banyak berdiam diri di rumah,” ujar Kepala UPTD PPA Yusran kepada Disway Berau, Senin (7/9).

Namun dari tiga kasus yang terjadi tahun ini, penyebabnya bukan imbas dari COVID-19. Yang memengaruhi ekonomi keluarga. Namun, KDRT adalah akumulasi sebelum adanya pandemik.

Juga tidak ada hubungannya dengan tingkat pendidikan dalam suatu keluarga. Sebab, dari banyaknya kasus yang ditangani, tidak sedikit pelaku memiliki pendidikan yang mumpuni.

“Faktor ekonomi juga tidak semua. Biasanya karena pertengkaran. Misalnya salah satu pihak yang menuntut lebih, entah itu perhatian, atau lainnya. Bisa juga karena pertengkaran akibat kecemburuan dan perselingkuhan,” jelasnya.

Yusran mengaku, pihaknya biasanya melakukan mediasi. Agar kembali membina rumah tangga yang baik. Demi kepentingan keluarga. “Kita melibatkan psikolog dan pengacara,” ujar Yusran.

Tetapi sering ada yang bersikeras cerai. “Kalau sudah dimediasi namun gagal, yetap ingin pisah, ya kita arahkan ke pengadilan agama,” tandas Yusran. Namun ada beberapa kasus berhasil dimediasi. “Pertimbangannya karena anak. Kalau demikian, dua-duanya diberi penyuluhan, agar ke depan tidak lagi terjadi,” ungkapnya.

Yusran mengungkapkan, jumlah yang ditangani kemungkinan sedikit dari kasus yang terjadi. KDRT disebutkan sulit terlacak. Sebab masih ada yang menilai aib. Malu melaporkan. Alasannya menjaga nama baik keluarga. (*)

Share this :

Leave A Reply