Bisnis dari Hobi Memang Mengasyikkan

Samarinda, nomorsatukaltim.com Dari dapur sederhana, dengan peralatan seadanya, Rossy Vanesha membuat olahan makanan cepat saji dari hobi yang langsung digemari oleh pelanggan setianya.

Sambil menggunakan daster, dan dibantu anak pertamanya serta seorang wanita paruh baya, dalam sehari Rossy bisa memproduksi sebanyak 30 porsi burger.

Berawal dari kegemarannya yang suka memasak roti burger untuk bekal suaminya. Yang hobi bersepeda bersama teman-temannya. Rossy pun melihat peluang itu untuk dijadikan bisnis. Akhirnya Rossy pun menggeluti bidang tersebut.

“Sekitar Mei, saya masak cuma untuk suami aja. Suami bilang enak, terus nyeletuk ‘kenapa tidak dijual saja?’. Awalnya enggak pede sih,” ucap Rossy yang ditemui di rumahnya, Kamis (3/9) sore.

Kemudian masakan Rossy pun ditawarkan kepada teman-teman suaminya yang juga tergabung di komunitas sepeda. Merasa cocok dengan rasa, rekan-rekan suami Rossy pun menyukai burger yang terbilang berbeda. Lantaran daging yang berada di dalam burger merupakan daging belly yang sudah diolah sendiri oleh Rossy.

Modal awal Rossy hanya Rp 300 ribu. Lalu Rossy memilih roti yang menurutnya paling enak. Kemudian membeli bahan-bahan lainnya dengan modal yang terbilang kecil tersebut. Dari modal segitu pula, Rossy bisa membuat hingga 20 burger.

“Harga pertama kita jual Rp 20 ribu untuk size standar, lalu yang size jumbo kita jual Rp 25 ribu. Isian menyesuaikan bentuk roti,” terangnya.

Dijelaskan Rossy, kemasan awal pun hanya sekadar kertas biasa. Tanpa membuat nota khusus dengan logo. Benar-benar hanya kertas polosan.

Namun kemudian, kembali dari dukungan suami, dirinya membuat akun instagram khusus untuk usaha belly burgernya. Serta melengkapi usahanya dengan nota dan kemasan yang menarik sesuai dengan logo yang dirinya inginkan.

 

“Suami yang fotoin. Semua foto juga diambil cuma di teras dan di ruang tengah rumah. Kebetulan suami berprofesi sebagai fotografer,” bebernya.

Dalam sehari, daging yang Rossy sediakan untuk jadi bahan utama belly burger sebanyak 2 kilogram. Daging tersebut tidak diolah langsung semuanya. “Sekilo dulu saya olah, lalu jika ada lagi orderan, baru saya olah lagi sekilonya. Tapi dari 2 kilogram daging itu, selalu habis,” katanya.

Dari 2 kilogram daging, Rossy bisa mengolah hingga 25 burger dalam sehari. Untuk saat ini, harga per burgernya pun berbeda. Ukuran jumbo dibanderol Rp 27 ribu, dan yang medium Rp 22,5 ribu. “Itu juga kata teman-teman sudah murah banget,” tambahnya.

Untuk pemasaran saat ini hanya melalui aplikasi pesan instan. Dimana teman-temannya rutin mengorder via grup chat yang mereka miliki. Kemudian dengan akun Instagram yang dikelola sendiri oleh suaminya, Rossy pun sering mendapatkan orderan dari Direct Message (DM).

“Kita selalu nanya kekurangannya apa kalau yang order teman sendiri. Kita terima masukkan pelanggan. Karena itu penting menurut kita,” jelasnya.

Dirinya sendiri ingin mengembangkan usahanya. Tawaran untuk bermitra pun banyak Rossy terima. Baik dari teman-teman maupun pelanggan yang merasa burger belly miliknya memiliki nilai pasar berbeda dibandingkan burger lainnya. “Rencananya mau bikin rombong (gerobak jualan) di Jalan Ahmad Dahlan, di sana ramai kan situasinya, mau coba untuk di situ dulu,” lanjut Rossy lagi.

Untuk pemesanan, Rossy mengaku jualannya masih belum terdaftar di ojek online. Tetapi dirinya memiliki metode pengantaran yang berbeda. “Tetap order ojek online yang digunakan untuk pengantaran, cuma bukan di fitur biasanya (Go-Food), tapi fitur lain yang kategorinya itu seperti belanja di toko (Go-Shop),” pungkas Rossy. (nad/eny)

Komentar