PDIP Selalu Kalah di Sumbar

0
IMG 20200907 WA0026
Para pendukung PDIP berdemonstrasi soal RUU HIP. (IN)

Jakarta, nomorsatukaltim.com – Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, membeberkan sejumlah penyebab PDIP selalu kalah pemilu dan pilpres di Sumatera Barat (Sumbar).

“Mungkin faktor geanologi politik dan ideologi masih dominan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan,” kata Karyono dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/9).

Geanologi politik masyarakat Sumbar saat ini belum lepas dari politik aliran di masa lalu. Partai Masyumi sangat kuat di wilayah ini.

Dalam konteks ideologis, kata Karyono, pengaruhnya masih kuat hingga sekarang. Meskipun ada pergeseran konstalasi politik pasca Pemilu 1955 dan sejak Masyumi dibubarkan.

Sebelumnya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengaku bertanya-tanya mengapa PDIP masih sulit memenangkan pilkada di Sumbar. Meskipun, PDIP sudah mulai memiliki kantor DPC dan DPD di Bumi Minangkabau itu.

“Saya pikir kenapa ya, rakyat di Sumbar itu sepertinya belum menyukai PDI Perjuangan,” kata Megawati pada Rabu (2/9).

Menurut Karyono, salah satu faktor lemahnya dukungan PDIP di ranah Minang itu juga karena tidak memiliki tokoh berpengaruh yang dapat menarik pemilih. Padahal dalam marketing politik dibutuhkan strategi endorsements tokoh yang berpengaruh sebagai pengepul suara atau vote getter.

Jika ditarik lebih jauh, Karyono mengatakan, terdapat faktor sejarah hubungan Presiden RI pertama, Sukarno, dengan sejumlah tokoh Sumbar. Terutama dengan tokoh yang saat itu terlibat dalam PRRI/PERMESATA.

Sosok Sukarno dipandang sebagai pihak yang mengerahkan militer untuk menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumbar, yang membuat sosok Sukarno kurang diterima di Bumi Minangkabau.

Namun, sejak Reformasi telah terjadi pergeseran kekuatan politik yang menunjukkan masyarakat Sumbar semakin cair. Yaitu peta perolehan suara partai dalam sejumlah pemilu dimenangi partai berhaluan nasionalis: Golkar (2004), Demokrat (2009), Golkar (2014), dan Gerindra (2019).

“Dalam sejarah pemilu di Sumbar memang tergolong fenomenal. Yakni partai yang dekat dengan sosok Sukarno. Baik PNI, PDI dan PDIP tidak pernah menang,” katanya.

Ia menuturkan, fenomena tersebut mestinya mendorong PDIP melakukan evaluasi secara menyeluruh. Dengan melakukan penelitian yang sistematis. Untuk menggali dan mengetahui perilaku warga Sumbar. Sehingga penelitian dapat menghasilkan rekomendasi. Untuk menyusun strategi meningkatkan akseptabilitas dan elektabilitas di Sumbar.

“Untuk meluluhkan hati masyarakat Sumbar memerlukan pendekatan persuasif dan beradaptasi dengan budaya lokal. Tidak cukup dengan cara-cara parsial, sporadis, dan instan,” ujar Karyono. (sp/qn)

Share this :

Leave A Reply