Menggali Ceruk Pasar Digital; Kaltim 8 Nasional Skor EV-DCI, Balikpapan Tertinggi di Kalimantan

0

Pemerintah gencar memberikan stimulus bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Namun di tengah kondisi ekonomi saat ini, peluang juga harus digali dengan berinovasi dengan teknologi. Salah satunya memaksimalkan pasar digital. 

—————————————-

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Bank Indonesia mencatat hingga Maret lalu volume transaksi melalui e-commerce di Indonesia mencapai 98,3 juta atau meningkat 18,1% (mtm). Dengan nilai transaksi Rp 20,9 triliun. Meningkat 9,9 persen (mtm).

Peningkatan transaksi terbesar bersumber dari kelompok kebutuhan primer, perlengkapan sekolah, dan perawatan pribadi.

Menurut Staf Khusus Menteri Bidang Hukum, Pengawasan Koperasi, dan Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Agus Santoso, di masa pandemi ini terjadi perubahan perilaku konsumen dengan membatasi interkasi fisik dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

“Perubahan ini dapat memberikan peluang lebih besar kepada UMKM. Tentunya yang sudah terhubung dengan ekosistem digital untuk bertahan atau melaju di tengah pandemi,” kata Agus Santoso, baru-baru ini dalam webinar UMKM di Era New Normal yang digelar Bank Indonesia.

Namun ia menyayangkan peluang tersebut belum dimanfaatkan optimal oleh UMKM. Kata dia, dari sekitar 64 juta populasi UMKM di Indonesia, baru 13 persen yang terhubung dengan ekosistem digital. “Karena itu, harapannya UMKM harus segera melihat peluang ini. Yang sudah mengenal digital juga jangan lengah karena masih ada tantangannya,” ucapnya.

Tantangan yang dimaksud terutama terkait kesiapan baik sisi produk maupun sumber daya manusia (SDM). Salah satu tantangan terberat yang perlu dilakukan adalah meningkatkan literasi manfaat UMKM masuk ke ekosistem digital. Juga inkubasi untuk mengakselerasi kesiapan UMKM.

Agus menilai perlu adanya perhatian akan akses digitalisasi. Seperti kurangnya kejelasan status kemitraan dalam ekosistem digital, kemungkinan praktik pemanfaatan hasil market intelligence untuk pengembangan produk atau usaha. Yang dapat berdampak pada melambatnya pertumbuhan usaha UMKM. Selain itu, kurangnya keberpihakan kepada warung tetangga dan beberapa jenis usaha UMKM yang pada dasarnya sulit untuk di digitalisasi. Sehingga berdampak pada semakin berkurangnya pelanggan warung dan UMKM tersebut.

“UKM yang ada di marketplace juga harus bertahan dan memiliki transaksi berkelanjutan,” tandasnya. Tahun ini pemerintah menargetkan digitalisasi sebanyak 10 juta UMKM. “Dua hal untuk mendukung UMKM. Kemenkop UKM mendorong untuk memperluas akses pasar dan memperbaiki bisnis proses,” ujarnya.

Co-founder Managing Partner East Ventures Melisa Irene mengatakan, Indonesia adalah pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Berkontribusi terhadap 40 persen dari ekonomi internet di regional.

“Dalam menarik uang investor, Indonesia menempati peringkat kedua setelah Singapura. Industri digital Indonesia juga melahirkan lebih banyak unicorn dibanding negara lain di Asia Tenggara,” tandasnya, belum lama ini.

Jumlah penduduk yang mencapai 264 juta jiwa dengan pengguna internet yang mencapai 171 juta pelanggan menunjukkan bahwa adanya potensi untuk berkembang. Hasil pemetaan daya saing digital Indonesia melalui East Ventures-Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2020 menunjukkan bahwa secara umum EV-DCI Indonesia bernilai 27,9.

Dengan skala 0-100, angka ini memperlihatkan bahwa daya saing digital Indonesia masih terbilang rendah. Artinya, Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital.

Berdasarkan pada 9 pilar yang menjadi alat ukur EV-DCI, pilar penggunaan teknologi Information, Communication & Technology (ICT) yang mendapatkan nilai tertinggi.

“Ini berarti dari segi infrastruktur, Indonesia tergolong paling siap dalam ekonomi digital. Sedangkan, pilar sumber daya manusia (SDM) dan kewirausahaan merupakan dua pilar dengan skor terendah yang menandakan bahwa Indonesia harus bekerja keras untuk menyiapkan SDM dan kewirausahaan untuk menghadapi ekonomi digital,” ucap Melisa.

Kaltim Ungguli Bali dan Jawa Tengah

Melisa Irene melanjutkan, Pulau Jawa memimpin pada hampir semua pilar pembangunan EV-DCI. Namun, Kalimantan Timur menjadi provinsi di luar Pulau Jawa yang mampu menempati posisi 8 nasional dengan skor EV-DCI 37,9. “Keberadaan provinsi ini di posisi tersebut cukup melebihi ekspektasi karena melebihi provinsi lain, terutama Bali dan Jawa Tengah,” sebutnya.

Menurutnya, Kaltim memiliki performa paling baik dalam penggunaan ICT dengan skor 72,8. Hal tersebut didukung karena rasio kepemilikan handphone dan komputer di provinsi ini tergolong tinggi.

Sementara dukungan infrastruktur di Kaltim memiliki skor menengah yaitu 43,5 . Sedangkan untuk inklusi keuangan masih memiliki ruang untuk berkembang 39,7. Dari semua pilar input yang dinilai, SDM merupakan pilar dengan nilai terendah yakni 20,2.

“Keterbatasan di SDM membuat perekonomian di sektor digital juga kurang berperforma baik. Kewirausahaan sektor informasi dan komunikasi memiliki skor rendah 30,7, tetapi relatif lebih baik dibandingkan kebanyakan provinsi ,” tambahnya.

Adapun untuk tingkat kota, Balikpapan menjadi kota dengan skor EV-DCI tertinggi di Kalimantan, yaitu sebesar 44,2. Kota ini merupakan pusat bisnis dan industry. Sekaligus memiliki perekonomian terbesar di Kalimantan. “Pilar perekonomian di kota ini mendapatkan skor 53,8,” ungkapnya.

Secara umum, perkembangan ekonomi digital yang cukup pesat tersebut memberikan dampak positif, seperti tumbuhnya berbagai platform e-commerce, transportasi online, jasa keuangan online , hingga digitalisasi pariwisata. (fey/eny)

Share this :

Leave A Reply