Dampak Corona Terhadap Generasi Muda

0
IMG 20200904 095754
ARIFUDDIN RACHMAT FISU

OLEH: ARIFUDDIN RACHMAT FISU*

Virus corona telah mengubah dunia. Di awal kehadirannya, virus ini menghentikan hampir seluruh aktivitas yang selama ini kita lakukan. Bagi anak muda, terutama bagi mereka yang kurang beruntung, COVID-19 ini menimbulkan dampak yang cukup besar. Terutama pada pendidikan, pekerjaan, kesehatan mental, hingga penghasilan.

Generasi saat ini maupun generasi mendatang akan menanggung sebagian besar konsekuensi ekonomi dan sosial jangka panjang dari krisis ini. Kesejahteraan mereka mungkin akan terganggu oleh pertimbangan ekonomi jangka pendek yang diambil oleh pemerintah.

Dalam kasus COVID-19 ini, anak muda mungkin tidak termasuk dalam kategori kelompok rentan dalam aspek kesehatan jika dibandingkan dengan kelas usia yang lebih tua. Namun seperti yang dijelaskan sebelumnya, COVID-19 tidak hanya berakibat pada kesehatan. Melainkan menyerang hampir seluruh sendi kehidupan kita.

Akses pendidikan dan kesempatan kerja yang terganggu sangat terasa bagi anak muda. Ketidakjelasan waktu berakhirnya COVID-19 membuat semakin suram kondisi mereka. Grafik penyebarannya tidak kunjung menurun bahkan cenderung meningkat. Ini kondisi yang sangat berbahaya bagi anak muda.

AKSES PENDIDIKAN

Salah satu kelompok generasi muda yang paling terdampak COVID-19 adalah mereka yang masih dalam usia sekolah. Baik sekolah dasar, menengah maupun pendidikan tinggi. Sejak COVID-19 pertama kali muncul hingga saat ini, PBB melaporkan kurang lebih 1,52 miliar remaja atau anak muda di dunia terhenti aktivitasnya di sekolah dan universitas akibat pandemi COVID-19. Hal ini tentu sangat mengganggu perkembangan akademik, sosial dan perilaku mereka.

Sementara itu, aktivitas pendidikan tidak lagi berjalan normal semenjak COVID-19 menyerang manusia. Bahkan di era yang dianggap new normal saat ini pun kita belum bisa menerapkan pendidikan normal seperti sebelumnya.

Saat memasuki masa new normal atau normal baru, kegiatan belajar mengajar, baik di sekolah ataupun kampus, dilakukan secara online. Pembelajaran daring atau jarak jauh ini dilakukan pasca pemerintah mengeluarkan kebijakan melalui Surat Edaran Kemdikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa COVID-19.

Setidaknya ada beberapa poin kebijakan terkait pembelajaran online tersebut. Pembelajaran daring dilakukan untuk memberi pengalaman belajar tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan. Aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk dengan mempertimbangkan kesenjangan fasilitas belajar mengajar.

Namun kita sering mendengar cerita betapa sulitnya seorang siswa atau mahasiswa menjalani pembelajaran jarak jauh yang diberikan oleh pihak sekolah atau kampus. Kesulitan tersebut semakin meningkat berdasarkan tempat tinggal siswa. Di mana semakin ke desa semakin sulit dan begitu pun sebaliknya.

Kesenjangan infrastruktur penunjang pembelajaran online seperti penggunaan smartphone, internet serta laptop antara siswa yang tinggal di kota dan desa masih sangat jauh. Untuk penggunaan internet, siswa perkotaan memiliki persentase lebih tinggi (62,51 persen) dibandingkan siswa perdesaan (40,53 persen).

Penggunaan telepon seluler siswa perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan siswa di perdesaan (76,60 persen vs 64,69 persen). Sementara itu, siswa yang menggunakan komputer di perkotaan dua kali lipat dibandingkan siswa di perdesaan: 31,37 persen berbanding 15,43 persen.

Masalah pendidikan di tengah pandemi COVID-19 ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembagian paket data dan pulsa gratis per bulan. Karena permasalahan ini bukan hanya soal ada atau tidaknya kuota internet. Tetapi bagaimana kualitas pendidikan tetap terjaga. Agar kita tidak kehilangan generasi emas.

ANGKATAN KERJA

Kelompok kedua dari generasi muda yang terkena dampak COVID-19 adalah mereka yang lulus pada saat krisis serta mereka yang memiliki pekerjaan dengan gaji rendah. Untuk yang pertama, anak muda yang lulus pada saat krisis akan lebih sulit mendapatkan pekerjaan. Hal ini akan memperlambat jalan mereka menuju kemandirian finansial.

Angka pengangguran di dunia selama krisis COVID-19 cenderung meningkat. Hal ini diperkuat oleh laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), sebuah organisasi yang bergerak pada bidang kerja sama dan pembangunan ekonomi. Dalam laporannya, OECD menunjukkan bahwa anak muda (dengan usia 15-24) merupakan kelompok yang paling terpengaruh oleh peningkatan pengangguran antara Februari dan Maret.

Kartu pra-kerja yang digadang-gadang sebagai solusi bagi angkatan baru belum memberikan dampak positif. Seperti istilah jauh panggang dari api, efektivitas program kartu pra-kerja masih menjadi misteri untuk dibuktikan keampuhannya. Bahkan program tersebut sempat viral dan menjadi bahan candaan netizen di media sosial.

Selain mereka yang baru lulus, nasib nahas juga menimpa pekerja yang bergaji rendah. Kemiskinan mengintai mereka setiap saat. Mereka akan lebih mudah jatuh miskin. Karena bisa dipastikan hanya memiliki sedikit tabungan untuk digunakan saat krisis ini.

Terlebih lagi mereka yang umumnya bekerja di sektor-sektor yang paling parah terkena dampak krisis seperti bidang pariwisata, restoran, kafe ataupun industri pertunjukan. Di mana pada sektor tersebut para pemuda banyak menggantungkan hidupnya.

Tak ada solusi yang mudah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh angkatan kerja baru ini. Tetapi yang pasti, mereka tidak boleh kehilangan harapan. Karena berusia muda di waktu yang berbahaya seperti kondisi krisis saat ini.

MENANGKAP PELUANG

Pandemi COVID-19 sangat berdampak terhadap penghasilan beberapa orang. Terutama para pelaku usaha menengah mikro, kecil dan menengah (UMKM). Tak ayal, mereka harus menanggung rugi hingga menutup usaha. Karena kehilangan pelanggan. Lalu menderita kerugian. Akibatnya, mereka harus memutar otak untuk mencari sumber penghasilan alternatif.

Pilihan paling memungkinkan adalah mencari pekerjaan sampingan yang mungkin tidak terdampak krisis. Salah satu sektor yang bertumbuh selama masa krisis pandemi saat ini adalah sektor pertanian. Sektor ini selalu memberi angin segar bagi negara dalam kondisi krisis. Siapa sangka, sektor yang selama ini tidak dilirik bahkan ditinggalkan oleh anak muda menjadi oase di tengah krisis.

Bagi mereka yang ingin terjun dalam dunia bisnis, sektor pertanian, termasuk di dalamnya peternakan dan perikanan, dapat menjadi opsi bagi anak muda. Sektor ini terbukti andal dalam berbagai situasi.

Nilai tambah bagi anak muda adalah kreativitas yang mereka miliki serta menguasai teknologi informasi. Dengan begitu, upaya untuk mengembangkan pertanian Indonesia menjadi lebih modern segera terwujud. Sehingga konsep agropreneur tidak hanya menjadi jargon semata. Namun dapat mewujud melalui partisipasi para pemuda untuk terjun langsung. (*Alumni Tekhnik Sipil Universitas Hasanauddin)

Share this :

Leave A Reply