Sudah 20 Kali Lakukan Penipuan Online, Semua Dilakukan dari Dalam Rutan

Samarinda, NomorSatuKaltim.com – Unit Reskrim Polsek Sungai Pinang terus mendalami kasus penipuan. Yang dilakoni tiga warga binaan di Rutan Klas II Samarinda.

Dari hasil penyelidikan sementara, diketahui tiga tersangka mengaku telah melakukan penipuan online sebanyak 20 kali. Setiap kali beraksi mereka selalu berhasil mengelabui korbannya. Namun tak ada satupun yang melaporkan tindak kejahatan mereka. Polisi baru berhasil mengungkap aksi penipuan mereka, setelah korban terakhirnya melapor.

“Mereka ini memang komplotan. Dan sudah merencanakan aksinya secara matang sebelum beraksi. Si AA otak kejahatan ini lebih dari 20 kali telah melakukan penipuan online,” ungkap Kanit Reskrim Polsek Sungai Pinang Iptu Fahrudi ketika dikonfirmasi media ini.

Fahrudi mengatakan, korbannya tak hanya warga Kota Samarinda. Namun ada pula yang dari luar daerah. Salah satunya adalah warga Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. “Dari keterangan sementara, sempat juga pelaku ini didatangi oleh korbannya berasal dari Tabalong, Kalsel. Tapi kelanjutannya bagaimana belum diketahui,” ucap Fahrudi.

Dengan modus yang sama setiap kali beraksi. Kala itu korbannya sampai merugi hingga Rp 140 juta. Tertipunya korban saat hendak membeli mobil jenis Avanza. Yang diposting oleh pelaku di sosial media. “Modusnya juga sama, beraksi hanya via telepon. Jadi dia membuat korban dan pembelinya percaya bahwa dialah pengurus atau calonya,” terangnya.

Foto mobil yang diunggah di akun media sosial pelaku, sebenarnya bukan miliknya. Melainkan milik seseorang, yang juga menjual medsos yang sama. Pelaku hanya memposting ulang saja. Saat korbannya tertarik dan hendak membeli, barulah si pemilik asli postingan tersebut dihubungi oleh pelaku.

Kepada penjual online yang asli, pelaku hanya berpura-pura hendak membeli. Dan mengaku ada temannya yang akan mendatangi untuk membayar secara langsung. Teman yang dimaksud itu sebenarnya ialah korban dari pelaku.

Saat kedua korban ini melakukan pertemuan untuk transaksi barang, dari balik jeruji pelaku barulah beraksi. Pelaku akan kembali menghubungi korban sebagai pembeli mobil, untuk mentransfer uang ke nomor rekening yang telah disarankan.

Saat uang telah dikirim korban ke rekening yang diperintahkan pelaku. Pelaku kemudian menonaktifkan nomor seluler miliknya untuk tak bisa lagi dihubungi. Sementara itu di tempat transaksi jual beli yang asli, korban baru akan tersadar kalau dia telah menjadi korban penipuan. “Jadi polanya selalu sama dengan kasus yang sedang kita tangani saat ini,” kuncinya.

Fahrudi menjelaskan, ketiga tersangka yang berstatus narapidana tetap menjalani masa tahanannya di rutan. Sembari menunggu pemberkasan kasus penipuan untuk menjalani proses sidang. Selanjutnya tersangka tinggal menunggu untuk menerima hukuman dan menjalani masa tahanan.

“Untuk pelaku utama AA sudah vonis, nanti dia dijemput untuk sidang terkait kasus penipuan ini. Jadi dia belum sempat bebas lanjut lagi vonisnya. Pasal 378 ancaman maksimal 4/5 tahun penjara,” sambungnya.

Untuk diketahui tiga narapidana pelaku penipuan online tersebut Adalah AA (30), IP (31) dan RS (43). Untuk melancarkan aksinya, mereka juga memiliki dua rekanan di luar sel tahanan. Yakni RH (23) dan ZF.

Untuk pelaku atas nama RH kini telah ditahan di Polsek Sungai Pinang. Sedangkan ZF, hingga kini masih dalam pengejaran alias buron. Pelaku atas nama AA merupakan tahanan kasus curanmor. Sedangkan IP dan RS (43) terkait kasus penyalahgunaan narkotika.

Terpisah, terkait tiga narapidana yang melakukan aksi penipuan online dari balik jeruji ini, Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan Klas II A Samarinda Akhmad Ferdian mengatakan, kini pihaknya telah mengamankan yang bersangkutan dari dalam rutan.

Dari interograsi awal, pihaknya mendapatkan keterangan terkait handphone yang digunakan saat beraksi melakukan penipuan. Rupanya para tersangka mendapatkan ponsel dari warga binaan yang telah bebas.

“Dari keterangan mereka, bisa mendapatkan handphone-nya dari warga binaan yang sudah bebas, itu dia beli dan kami juga tidak tahu dari mana bisa masuk ke dalam rutan. Pengakuannya memang sudah ada di dalam,” ungkapnya saat dikonfirmasi Selasa (1/9).

Ferdian sapaan karibnya mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian. Selain telah mengamankan ketiganya, petugas rutan juga telah mendapatkan barang bukti handphone yang digunakan dalam aksi penipuan.

“Dari rutan pada dasarnya sudah membantu untuk memfasilitasi kepolisian. Kita sudah panggil yang bersangkutan dan kita serahkan juga temuan handphone-nya,” terangnya.

Kendati demikian, pihak rutan masih belum mendapatkan klarifikasi lanjutan dari jajaran Polsek Sungai Pinang yang menangani kasus ini. Terkait apakah ketiganya telah terbukti memenuhi unsur pidana atau tidak. “Kalau sudah sampai ada unsur pidananya, mungkin kami bisa serahkan saja langsung,” ucapnya.

Untuk saat ini, peran rutan disebutnya hanya sekedar mengamankan yang bersangkutan. “Agar ketika sewaktu-waktu diperlukan di kepolisian, kami bisa langsung keluarkan mereka,” ucapnya.

“Karena masih pandemi Covid kami tidak bisa langsung mengeluarkan tahanan kecuali pihak penyidik kepolisian yang datang kesini,” sambungnya.

Kini ketiga narapidana tersebut telah dipisahkan dari para tahanan yang lain. Dan dimasukan kedalam sel tahanan khusus.

Disebutkannya, bahwa ketiga napi tersebut berada didalam sel yang berbeda. Masing-masing napi adalah penghuni sel di blok A7, A3 dan A24. “Jadi kemungkinan mereka berinteraksinya pada saat keluar dari blok sel tahanan. Ya mungkin pada saat keluar dari blok itu,” sebutnya. (aaa/eny)

Tak Mendeteksi Masuknya Gadget

Sementara itu, disinggung terkait penggunaan gadget di dalam sel tahanan. Ferdian menegaskan bahwa hal tersebut tak diperbolehkan. Bila ada warga binaan yang kedapatan nekat menyelundupkan ponsel, maka ada hukuman yang telah disiapkan.

“Minimal kami ada hukuman kurungan isolasi di ruang sunyi. Artinya dia diasingkan sendiri. Tidak boleh dibesuk dan tidak boleh ada apa-apa di sana. Ada tahapannya, minimal itu diawal selama 6 hari hukumannya. Kemudian kalau tertangkap lagi, maka akan dihukum tiga kali lipat. Seperti itu seterusnya,” ucapnya.

Untuk hukuman terberat bagi warga binaan yang tertangkap menyelundupkan handphone, maka akan dicabut haknya berupa penerimaan remisi hingga pengurusan pembebasan bersyarat.

Ferdian tak menampik bahwa handphone berhasil diselundupkan ke dalam rutan. “Informasi yang terakhir kita terima dari dia, bahwasanya HP itu didapatkan dari orang yang sebelumnya ditahan kemudian sudah bebas. Mereka beli dari mantan tahanan ini,” tegasnya.

Kendati demikian ia tak bisa menjelaskan sela bagi para tahanan untuk bisa memasukkan handphone ke dalam rutan. “Kita belum tahu, keterangan dia HP itu sudah ada di dalam dan mereka beli,” ujarnya.

Dirinya menegaskan bahwa pihaknya selalu rutin melangsungkan razia di dalam sel tahanan. “Ada razia rutin minimal dua minggu sekali. Itu selalu ada. Terus untuk pemeriksaan masuknya ke dalam sudah diperketat. Cuma ya itu, masih saja kami temukan barang-barang seperti itu di dalam,” ucapnya.

Pasca adanya temuan kasus tersebut, pihaknya pada Selasa (1/9) pagi kemarin, langsung melakukan razia. Hasilnya petugas menemukan sejumlah barang di dalam sel tahanan. Yakni berupa headset dan tiga buah handphone. “Ke depannya kami tingkatkan lagi razia. Barusan kami juga telah laksanakan razia,” ucapnya. (aaa/eny)

Komentar