Pulihkan Ekonomi lewat UMKM

Balikpapan, nomorsatukaltim.com– Keberadaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sangat penting bagi geliat ekonomi. Menurut Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim Made Yoga Sudharma, UMKM sangat penting karena mampu menyerap tenaga kerja. Mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkontribusi 61% dari PDB, memiliki keberagaman sektor, mendorong ekspor dan penyediaan inovasi.

“Dari 64,2 juta unit UMKM di Indonesia, bahwa 97 persen menyerap tenaga kerja,” ucapnya, dalam materi akses modal dan upaya restrukturisasi pembiayaan UMKM pada webinar mengawal UMKM eksis di era new normal, Selasa (1/9) kemarin.

Untuk itu, di masa pandemi saat ini, peningkatan akses keuangan UMKM diperlukan. Mengingat sektor ini sangat terdampak. Akibat dari merosotnya permintaan domestik dan gangguan pasokan.

Berdasarkan survei cepat Asian Development Bank (ADB) terhadap UMKM, dampaknya adalah pengurangan tenaga kerja dan kurangnya modal kerja dalam mempertahankan usaha.

“Tren pendanaan UMKM di masa pandemi, UMKM lebih bergantung pada sektor pendanaan informal untuk bertahan. Sedangkan akses ke layanan keuangan formal relatif terbatas,” terang Made.

Selain itu, pada masa ini terjadi perubahan mobilitas masyarakat. Sehingga di era new normal pengembangan digital sangat dibutuhkan UMKM.

Dari data OJK Kaltim, jumlah UMKM yang potensi terdampak COVID-19 mencapai 100.834 debitur. Dengan realisasi restrukturisasi kredit sebanyak 38.733 rekening. Dari jumlah tersebut nilai outstanding sebesar Rp 2,47 triliun.

Sektor ekonomi usaha debitur yang paling terdampak adalah perdagangan besar dan eceran. Yaitu 85.504 rekening dengan baki debet sebesar Rp 6,79 triliun. “Dari debitur yang terkena dampak COVID-19 tersebut, sebanyak 38.111 rekening (44,83%) yang telah mengajukan. Dengan baki debet sebesar Rp 3,17 triliun,” terang Made.

berita terkait: Kawal Eksistensi UMKM dengan UCCB

Dari yang mengajukan relaksasi, 29,829 rekening (77,81%) telah disetujui dengan total baki debet sebesar Rp 2,77 triliun. Sedangkan dari debitur yang telah mengajukan permohonan tersebut, sebanyak 662 rekening (1,73%) yang ditolak dengan baki debet sebesar Rp 53,07 miliar. Dan sisanya dalam proses analisis bank.

Beberapa upaya konkrit dilakukan Bank Indonesia untuk mendorong kinerja UMKM di tengah pandemi. Di antaranya program UMKM Bangkit yang terdiri atas program UMKM Digital Academy, UMKM Connect/Balikpapan Pop Line, dan yang terakhir UMKM Care Center Balikpapan.

“Bank Indonesia juga terus berupaya melakukan pengembangan UMKM melalui penguatan kelembagaan (korporatisasi), penguatan SDM dan usaha (perluasan kapasitas) serta penguatan akses pembiayaan sehingga UMKM dapat menjadi UMKM 4.0 sebagai kekuatan baru ekonomi nasional,” jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Bimo Epyanto.

baca juga: Dekan FE Uniba soal Langkah Tangkal Dampak Resesi: Saatnya Maksimalkan Sektor Hulu

Penguatan korporatisasi UMKM dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha melalui penguatan kelembagaan dan perluasan akses pasar secara digital. “Penguatan kapasitas produksi juga dilakukan dengan mendorong kualitas produk dan manajemen UMKM melalui UMKM digital academy, serta mendampingi UMKM terdampak,” ujarnya dalam pemaparan Perekonomian daerah dan Upaya BI Dalam Mendorong Sektor Riil.

Sementara itu, Kementerian Koperasi dan UMKM menekankan dukungan terhadap UMKM di era new normal melalui perluasan akses pasar. Salah satunya dengan aktivasi Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI).  Dan memperbaiki bisnis proses terutama dari sisi kolaborasi, membangun budaya local heroes, peningkatan kapasitas SDM serta perluasan segmentasi.

Staf Khusus Kementerian Koperasi dan UKM RI Agus Santoso mengatakan, langkah Pemerintah Kota Balikpapan bersama Bank Indonesia dalam membentuk UMKM Center Care Balikpapan (UCCB) diharapkan dapat mempercepat pemulihan UMKM di era new normal.

“Keberadaan UCCB diharapkan dapat menjaga kinerja UMKM di tengah pandemi COVID-19 dan menggerakkan perekonomian Balikpapan,” harapnya. (fey/eny)

Tinggalkan Balasan