Dekan FE Uniba soal Langkah Tangkal Dampak Resesi: Saatnya Maksimalkan Sektor Hulu

1

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menyiratkan. Pada kuartal III pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diprediksi sulit beranjak dari zona minus. Maka, hampir bisa dipastikan Indonesia akan mengalami resesi ekonomi pada kuartal depan.

IMG 20200329 WA0029 e1599028366134
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Balikpapan, Misna Ariani. (Istimewa)

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Balikpapan Misna Ariani memperkirakan, semua daerah akan merasakan dampak ekonomi minus dan resesi tersebut.

Maka, dalam keadaan ini, menurutnya, setiap daerah dituntut mampu mempertahankan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Agar bisa bertahan dalam kelesuan ekonomi. Di samping harus memenuhi kebutuhan pokok daerah.

Sebab, kata dia, kunci pertumbuhan ekonomi paling dipengaruhi oleh pola konsumsi kebutuhan pokok masyarakat. Jika meningkat maka otomatis perekonomian akan meningkat pula.

Oleh karena itu, dia mengatakan, sudah saatnya pemenuhan kebutuhan pokok daerah sejalan dengan peningkatan PAD. Namun persoalannya kemudian, tidak semua daerah mampu memenuhi kebutuhan pokok secara mandiri.

Bagi daerah seperti Kalimantan Timur, hal ini menjadi persoalan sendiri. Sebagai daerah yang kebutuhan pokoknya bergantung kepada daerah lain. Dan pemenuhan PAD didominasi satu sektor.

Maka, dia menyarankan, Kaltim harus berupaya melihat sektor hulu. Menggali peluang yang dapat menunjang PAD, sekaligus menjamin pemenuhan kebutuhan pokok daerah.

Untuk memperkuat sektor hulu bagi Kaltim, dia menyodorkan beberapa potensi yang dimiliki Benua Etam. Seperti obat-obatan alami, makanan dan minuman khas daerah dan produk-produk kreatif baik berupa penganan maupun kerajinan-kerajinan yang bernilai jual.

Kata dia, pemerintah daerah harus mendorong orientasi konsumsi masyarakat ke produk lokal. Paling tidak diutamakan. Sehingga uang beredar kembali ke Kaltim.

“Itu salah satu solusi yang bisa diupayakan Kaltim untuk mengantisipasi resesi jika terjadi,” urai Misna Ariani diwawancara Minggu, (31/8).

baca juga: Pulihkan Ekonomi lewat UMKM

Sebagai langkah awal untuk mewujudkan gagasan tersebut, Misna mendorong koordinasi antara dinas-dinas terkait pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan untuk diperkuat. “Semoga bisa kita terapkan, pasar itu diisi oleh kita, dan dibeli oleh kita,” tambahnya.

Selain opsi itu, Kaltim bisa bertahan dengan penguatan investasi. Mendatangkan modal ke daerah. Investasi yang baik menurutnya adalah dengan pola Public Private People Partnership. Untuk hal ini, salah satu yang dapat didorong ialah Dinas Pariwisata.

Sementara sektor pertambangan batu bara Kaltim, katanya, masih lebih ke arah wait and see. Sebab, diketahui harga batu bara global tengah anjlok seiring dengan menurunnya permintaan. Walaupun akan berdampak kepada pengusaha batu bara. Karena harus menaggung biaya operasional yang tidak kecil. Sehingga solusinya menurut dia tergantung kepada perusahaan yang bergerak di sektor tersebut. “Tergantung mereka, mau melakukan transaksi jual atau tidak,” imbuh Misna. (das/eny)   

Share this :

Leave A Reply