Pemindah COVID-19

0

Catatan Dr. Abdul Rais SH. MH

(Penasihat hukum tinggal di Balikpapan).

KORBAN coronavirus disease 2019, yang lebih populer dengan sebutan COVID-19, akhir-akhir cenderung meningkat tajam. Yang membuat miris, semakin banyak tenaga kesehatan (nakes) ikut terpapar. Maka terus merebaklah isu penutupan rumah sakit. Lantas harus kemana lagi orang sakit, harus dirawat?

Pekan lalu saya melakukan perjalanan dinas, naik pesawat. Mengurus tugas-tugas perusahaan. Dari Balikpapan ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Transit di Surabaya. Menginap semalam di Lombok, besoknya terbang lagi ke Jakarta. Dan setelah itu terbang lagi ke Balikpapan.

Cukup ramai penumpang pesawat. Walaupun setiap penumpang wajib menunjukkan hasil rapid test non-reaktif, sebagai syarat. Hasil tes cepat itu jadi pertanda penumpang tersebut sedang tidak berpotensi membawa COVID-19

Para awak pesawat pun selalu mengingatkan, semua penumpang harus selalu waspada terhadap COVID-19. Dengan menjaga jarak antar penumpang dan wajib menggunakan masker.

Bahkan untuk penerbangan dari Lombok ke Jakarta, awak pesawat berusaha mengatur penumpang ketika menuruni pesawat, agar tetap menjaga jarak.

Mereka yang akan turun diatur, boleh berdiri dulu dan mengambil bagasi di kabin. Dimulai dengan lima baris pertama, tempat duduk dari depan. Selanjutnya lima baris kedua, dan seterusnya.

Namun hampir semua penumpang mengindahkan aturan itu. Penumpang dari tempat duduk belakang bersama-sama menerobos deretan penumpang di depannya.

Betapa memprihatinkan sikap masyarakat kita terhadap ketertiban terhadap aturan. Meski untuk bersama-sama peduli dan waspada terhadap COVID-19. Tentu sikap seperti inilah yang membuat angka korban COVID-19 cenderung meningkat tajam akhir-akhir ini.

Demikian pula dengan video-video fakta berita, yang viral di media sosial hari-hari ini. Yang menggambarkan banyaknya warga Samarinda, berkerumun menikmati malam di kawasan Citra Niaga. Ketika petugas gugus penanggulangan COVID-19, melakukan tes, hasilnya beberapa di antara mereka ternyata pembawa COVID-19.

Pun di beberapa kawasan di Balikpapan, setiap malam banyak warga yang berkumpul dan bercengkrama. Sepertinya tidak peduli lagi dengan semakin banyaknya korban COVID-19 akhir-akhir ini. Sungguh sangat memprihatinkan.

Padahal sudah sangat banyak peringatan, untuk publik, yang menjelaskan bahwa COVID-19 tidak bisa berpindah sendiri dari satu tempat ke tempat lainnya. Manusia lah yang memindahkan COVID-19, hingga bisa menyebar kemana-mana. Dengan cepat dan masif seperti sekarang ini.

Di lain pihak semua orang menginginkan bencana COVID-19 cepat berlalu. Bahkan disertai dengan doa-doa yang masif pula. Namun sikap masyarakat tampak paradoks. Ingin COVID-19 cepat berlalu, tetapi masih saja ceroboh terhadap COVID-19. Entah masih akan berapa banyak lagi korban COVID-19 berjatuhan? (*)

Bagikan:

Leave A Reply