Penghargaan dari Rasa Penasaran

Berawal dari rasa penasaran. Ruki fokus mempelajari mangrove. Aneh memang. Hanya dari rasa penasaran itu. Seluas 10 hektare lahan ia sulam dengan mangrove selama enam tahun. 

Oleh: Nur Robbi Syai’an

Kiprah luar biasa Siti Rukiyah memang menarik. Media ini coba mendatangi Ruki, panggilannya, beberapa waktu lalu.

Sekretaris Lurah Kampung Baru Achmad Fitriyadi yang mendampingi. Ia pula yang memberikan informasi soal Ruki. “Yang tersulit ialah merubah pola pikir masyarakat untuk peduli. Menggalang gerakan sosial yang manfaatnya bisa dinikmati bersama,” kata Adi, biasa disapa.

IMG 20200724 175941 234
Siti Rukiyah. Robbi/nomorsatukaltim.com)

Sosok Ruki terlihat sebagai seorang yang supel. Tak perlu berlama-lama.  Ruki bersemangat menceritakan kisahnya. Berharap bisa menjadi penyemangat. Tentu juga inspirasi.

Perkenalannya dengan mangrove berawal pada 2002. Yang memang diselimuti keingintahuan. Apa itu mangrove dan apa kegunannya. Pemerintah waktu itu begitu menggalakkan program menanam di pinggir pantai.

Saat itu Ruki, panggilannya, baru bergabung di sebuah kelompok tani. Kala itu, 17 tahun silam, ada program penghijauan di wilayah pesisir. “Cuma bapak-bapak saja waktu itu (pesertanya). Saya (iseng) ikut saja,” katanya.

Bukannya senang, malah kecewa yang membuncah. Mangrove setelah ditanam ditinggal begitu saja. “Terus buat apa?,” tanyanya. Sejak saat itu ia memang penasaran. Apa fungsinya. Ia telusuri dengan suaminya, Syarifuddin Bintang. Teman-temannya masih mengabaikan. “Pokoknya saya menanam-menanam saja,” katanya lagi.

Dari situ pula Ruki telah meniatkan untuk aktif. “Biar tidak ada uangnya, jalan terus. Jangan pas ada uangnya saja baru menanam. Swadaya saja. Saya galakkan terus itu,” jelasnya. “Saya cuma penasaran. Kenapa pemerintah menurunkan program menanam di laut. Saya tidak mengerti,” tambahnya.

Kegiatan itu terus berlangsung. Berlanjut hingga 2005. Di tahun 2007 ia dapat penghargaan tingkat Kaltim. Sebagai pelestari lingkungan. Sejak saat itu kadang ada yang datang membantunya. Kadang juga tidak. “Mungkin mereka kasihan,” ucapnya. Tapi ia cuek saja. Rasa penasarannya masih belum terjawab.

Hingga 2009. Sekira 10 hektare ia sulam. Ia tak perduli. Rasa penasarannya belum terjawab. “Menyuuuulam (menanam) terus saja saya,” ucap Ruki.

Anaknya kadang menemaninya. Ia biarkan dua anak yang masih kecil itu bermain dengan lumpur. Mereka berenang. “Sambil hiburan,” katanya.

Dulu kawasan mangrove hanya sekira 80 meter dari bibir pantai. Tanamannya juga jarang. Bahkan di tahun 80-an air laut bisa naik sampai ke permukiman warga. Sekira 2 kilometer. Tapi sekarang sudah tidak pernah. “Sudah lebat di pinggir pantai sini. Saya jadi tahu fungsinya. Pantas saja ada program itu dari pemerintah,” ungkap Ruki.

Setelah tahu, penasarannya belum sepenuhnya terpuaskan. Ia masih mau mendalami lagi soal mangrove.

Satu hal utama, ia punya harapan. Harapan ini bukan untuk pribadinya. Niatnya untuk membuat teman-temannya dan warga lainnya turut merasakan manfaatnya. “Lalu peduli dan terus melestarikan,” katanya.

Apalagi bisa meningkatkan ekonomi. “Sekarang banyak yang sudah mulai peduli,” ujarnya. Ia tidak pernah menghitung pencapaiannya. Ia hanya mau berjuang saja. Untuk menjawab penasarannya. “Alhamdulillah. Tetap semangat. Selalu. Semangat pagi,” demikian Ruki.

Berkat usahanya itu, saat ini Kelurahan Kampung Baru terkenal dengan wisata mangrovenya. Ada lebih dari dua tempat wisata mangrove ada di sana. Bahkan sampai dibuat kegiatan rutin. Festival Mangrove. Yang sudah dua kali digelar.

Memang bukan berkatnya semua itu terwujud. Tapi, tidak bisa dipungkiri sumbangsihnya adalah yang terbesar. Memengaruhi masyarakat luas. Membuka kepekaan pemerintah untuk peduli.

“Sekarang bukan aktif lagi. Saya mendalami itu,” tegasnya. Saat ini Ruki didapuk menjadi Ketua Konservasi Wanita di wilayah PPU. (eny)

Menahan Abrasi, Menopang Ekonomi

Tidak hanya menahan garis pantai dari abrasi. Ruki juga akhirnya mendapatkan manfaat lain mangrove.

Warga Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Penajam ini memperkenalkan beberapa produk olahan pribadinya. Yang berbahan dasar dari mangrove.

“Ini saya buat sendiri,” ucapnya. Sembari menyodorkan cimi-cimi. Makanan kering khas Kalimantan. Yang dia buat bahannya dari mangrove jenis avicenia. Jenis paling banyak yang ada di PPU.

Awalnya ia tak tahu. Kalau mangrove bisa diolah menjadi bahan makanan. Ia hanya tahu menanam saja. Pun, kata orang tanaman ini beracun jika dikonsumsi.

Awalnya 2012. Ia mengikuti pelatihan di luar daerah. Jogjakarta dan Bogor. Di sana ia mendapat ilmunya. Ilmunya ia bawa pulang. “Ya saya jadi tahu kalau mangrove itu tidak hanya dibuat untuk pelindung saja,” ujarnya.

Rasa penasarannya mendorongnya untuk mencoba. Ia sampaikan ilmunya itu ke warga lainnya. Ke berbagai tempat juga. Hingga akhirnya keinginannya bisa sedikit termulai. “Akhirnya saya dapat pendampingan. Ke Bontang untuk mendapatkan pelatihan dan dukungan lainnya,” kata Ruki.

Tahun 2015 ia mulai. Atas dukungan Yayasan Peduli untuk diadakan pelatihan lebih lanjut. Ilmu yang ia dapat terus dikembangkan. Hingga akhirnya ia bisa menulari ke banyak orang untuk membuat olahan yang sama.

Ruki menjelaskan, hasil utama yang bisa diolah menjadi makanan adalah buahnya. Dibuang kulit. Dibersihkan. Lalu direndam dengan air kapur. Lamanya 3 hari 3 malam. Setiap 6 jam airnya perlu diganti. Baru dijemur. Sampai kering. Terakhir ditumbuk. Sudah jadi tepung. Bahan dasar untuk mengolah panganan.

Berbagai panganan telah ia coba buat. Intinya semua panganan berdasarkan tepung. Kue kering hingga kue basah. “Bruas, bolu, klepon, donat, pidada, dodol. Pokoknya apa saja bisa,” kata dia.

Selain itu, bisa juga diolah menjadi sirup. Caranya buah tinggal diolah dan direbus saja bersama gula. Dia pernah mencoba membuatnya. Sirup bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Awet.

Soal rasa, ia menuturkan rasanya tak kalah dengan produk berbahan lainnya. Memang sedikit kalat. Tapi masih bisa ditutupi dengan rasa khasnya. Lagipula, ia menuturkan seduhan buah mangrove bisa menetralkan gula darah. “Saya biasanya minum. Saya punya diabetes. Kalau kambuh saya minum. Alhamdulillah enak badan saya,” ungkapnya.

Sekira 30 hektare luasan kawasan mangrove yang ada di kampungnya. Di situ ia biasa mencari buahnya. Buahnya musim-musiman. Bisa dua kali berbuah saja dalam setahun.

“Cari buahnya kita berlomba dengan monyet. Karena itu makanannya. Kita ambil yang jatuh-jatuh saja,” kata Ruki.

Bersama kawan Kelompok Usaha Wanita (KUW) yang ia pimpin. Bina Usaha namanya. Ada 23 orang anggotanya. Aktif bersama memanfaatkan hasil mangrove. Sebulan bisa menghasilkan sampai 5 kilogram tepung.

Selain untuk bahan makanan. Ia bersama dengan kelompoknya juga mencoba memanfaatkan hal lain dari tumbuhan ini. Tentu yang memiliki potensi ekonomi juga. Itu yang sedang dia coba. “Kalau batangnya, kulitnya bisa dimanfaatkan untuk menjadi tinta batik. Tangkai-tangkainya juga bisa dibuat menjadi pewarna,” jelasnya.

Hingga saat ini, hasil olahan makanan itu sudah beberapa diproduksi. Pun sudah mulai dipasarkan. Hanya saja masih banyak butuh dukungan pemerintah setempat. Untuk dikembangkan lebih luas.

Awalnya produk-produknya diikutkan pameran. Kadang juga titip di warung-warung. Kalau ada pesanan dibuatkan. Laku. “Saya pernah kirim sampai ke Jawa. Karena mereka di sana sudah banyak yang tahu,” sebutnya. (eny)

Sejumlah Penghargaan yang Diterima Ruki

  1. Piagam Penghargaan kategori Kelompok Usaha Wanita (KUW) sebagai pelaksana gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan terbaik kedua tingkat provinsi dari Gubernur Kaltim 2007
IMG 20200724 180021 717

2. Piagam Penghargaan kategori Kelompok Usaha Wanita (KUW) atas prestasi kepedulian terhadap ekologi dan lingkungan dari Bupati PPU, 2007

3. Piagam Penghargaan kategori Kelompok Usaha Wanita (KUW) atas membangun perisai pesisir membangun masa depan negeri Universitas Terbuka 2014

4. Piagam Penghargaan untuk Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai terbaik Pertama se-PPU dari Kantor Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan PPU 2016

5. Piagam Penghargaan kategori Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai terbaik kedua tingkat Kaltim dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-24 dari Gubernur Kaltim 2017

6. Piagam Penghargaan kategori Kelompok Usaha Wanita (KUW) atas penyelamat lingkungan hidup dari Bupati PPU, 2017

7. Piagam Penghargaan kategori perintis lingkungan dari Gubernur Kaltim 2018

8. Apresiasi Kalpataru kategori Kelompok Usaha Wanita (KUW) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2020

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply