Hikayat Transkon Mendobrak Tradisi

Rencana PT Transkon Jaya melantai di bursa saham menjadi perbincangan di kalangan pengusaha lokal. Perusahaan penyewaan kendaraan khusus tambang itu dinilai berani mendobrak tradisi.

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Balikpapan, Gatotkoco menilai langkah manajemen Transkon Jaya patut diapresiasi. Ketika perusahaan lain memilih konsolidasi menghadapi pandemi, perusahaan lokal bisa berkibar. 

Keputusan melepas sebagian sahamnya ke publik bisa berdampak positif terhadap dunia usaha di Kaltim. Setidaknya, para investor nasional semakin menyadari, potensi bisnis di daerah ini sangat menjanjikan.

“Dengan melepas sebagian sahamnya ke publik, masyarakat Balikpapan punya peluang berinvestasi dan ikut memiliki perusahaan itu,” kata penggemar off road ini saat dihubungi malam tadi. Gatotkoco mengatakan, sejauh ini belum ada perusahaan lokal yang berani masuk bursa. “Dulu pernah ada (yang masuk bursa) tapi pusatnya bukan Balikpapan,” kata Gatot lagi.

Terkait dengan Transkon Jaya, ia bilang perusahaan salah satu penyedia jasa rental terbaik. “Mereka punya ribuan armada,” imbuh pengusaha penyewaan alat berat ini. Langkah Transkon Jaya dinilai bisa mendorong perusahaan lokal untuk mengikuti jejaknya.

Seluruh tahapan untuk menjadi anggota bursa sudah dilakukan Transkon Jaya. Terakhir sebelum resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan melakukan paparan publik.  Pada kegiatan yang berlangsung akhir Juli lalu, Transkon akan melepas setidaknya 375 juta lembar saham atau sekitar 24,83% dari saham yang ditempatkan dan disetor penuh.

Baca Juga: Transkon Jaya Lepas 375 Juta Saham

PT UOB Kay Hian Sekuritas akan bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek. Perusahaan yang bermarkas di Jalan Mulawarman Balikappan Timur ditawarkan dengan rentang harga antara Rp 200-Rp300 per lembar saham.

“Dengan IPO kami akan ekspansi besar-besaran,” terang Presiden Direktur PT Transkon Jaya, Lexi Roland Rompas kepada Disway Kaltim, Selasa (4/4). Didampingi Chief Financial Officer, Alexander Syauta, Lexi Rompas menjelaskan, perseroan berniat memperluas jaringan bisnis pada lini sewa kendaraan Light Vehicle (LV) pendukung pertambangan, terutama pada wilayah di luar Pulau Kalimantan, seperti Sumatera dan sekitarnya.

Rencana itu sejalan dengan peluang pemindahan ibu kota negara baru dan peningkatan kapasitas listrik dengan menggunakan batu bara. Dua hal itu menjadi katalis positif pada pertumbuhan pendapatan perseroan. Dana hasil Initial Public Offering/IPO akan dipakai pembelian pembayaran uang muka pembelian kendaraan baru dengan tujuan untuk disewakan sesuai dengan dengan alokasi dana sebesar 70%.

Kemudian sisanya sebanyak  30% digunakan untuk penunjang kendaran tersebut seperti pengadaan suku cadang ban, oli kendaraan dan juga sebagai modal kerja.

“Selain itu dengan menjadi perusahaan terbuka, Perseroan dituntut untuk menerapkan good corporate governance dalam menjalankan kegiatan usahanya serta memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan para pemangku kepentingan,” imbuh Lexi Rompas.

Saat ini Perseroan memiliki armada jenis 4×4, 4×2, dan bus kecil yang melayani perusahaan tambang. Di Kalimantan, Lexi mengklaim menguasai 85 persen pangsa pasar.  “Armada 4×4 itu spesial. Bisa dikatakan kita pemain satu-satunya,” ujarnya.

Tumbuh dari Krisis

Transkon Jaya berdiri mulai 2002. Saat itu, perusahaan masih melakukan kegiatan penyewaan secara general. Perlahan, melihat prospek bisnis tambang yang menggurita,  mereka mulai konsen dengan kendaraan spek tambang.

Kesempatan datang pada 2003. Mereka mulai membangun bisnis LV dan semakin membesar. Perseroan mendapat kepercayaan dari perusahaan raksasa BHP Billiton. Selain menjadi penyuplai inti rental LV, mereka juga menyediakan kendaraan khusus seperti ambulans dan kendaraan rescue.

Mereka juga melayani Petrosea yang memiliki site sampai Kalimantan Selatan. Bahkan, Transkon juga menjadi partner Orica/DNX/ AEL, perusahaan bahan peledak di lapangan milik KPC, Kideco dan perusahaan tambang batu bara lainnya.

“Kami sudah mengenal user, sehingga bisa memenuhi ekspektasi mereka,” kata Lexi.

Sebelum 2015, kompetitor cukup banyak. Namun ketika komoditas batu bara anjlok, banyak yang tumbang. Sedangkan Transkon mampu recovery dengan cepat karena memiliki partner di bisnis lain.

Tumbangnya sejumlah kompetitor mempercepat pertumbuhan Transkon. Sebelum harga batu bara turun, armada mereka masih ratusan. Tetapi setelah krisis itu, “armada kami berkembang menjadi ribuan,” kata Lexi.

Salah satu strateginya ialah konsisten bertahan pada industri ini. “Sedangkan pesaing-pesaing kami keluar dari industri ini karena mereka takut dibayarnya lama, perputaran cashflow semakin terbatas. Kalau kami mau kemana, ya ini nasinya kalau tidak (bertahan), kami tak berkembang.”

Setelah itu, perseroan memutuskan ekspansi keluar Kalimantan. Transkon masuk ke Papua dan wilayah lain. “Walaupun sebarannya di luar pulau memang terbatas tetapi saya berani mengatakan bahwa operasional kami di seluruh Indonesia. Bukan lagi di Kalimantan,” tambah Alex.

Saat itu, mereka mampu membeli kendaraan sampai 400 unit setahun, dari sebelumnya hanya 10 unit. Saat ini, untuk Kalimantan saja, Transkon sudah memilik 1.700 armada. Karena itulah saat perusahaan lain merumahkan karyawan, Transkon justru membuka lowongan pekerjaan. (fey)

Saksikan video menarik berikut ini: