Berseri karena Sektor Industri

Di tengah banyaknya sentimen negatif dari dalam dan luar negeri, perekonomian nasional diperkirakan pada trek yang benar. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan situasi segera rebound alias berbalik arah menuju pertumbuhan positif. Sektor industry menjadi kunci.

Sampai semester awal tahun ini, data-data ekonomi memang cenderung negatif. Misalnya saja, triwulan pertama tahun ini, perekonomian tumbuh sebesar 2,97 persen. Menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,07 persen.  Sedangkan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas tumbuh 2,01 persen. Angka ini juga turun jika dibandingkan dengan triwulan I tahun 2019 sebesar 4,80 persen.

Pertumbuhan melambat dialami semua negara di dunia sebagai dampak pandemi COVID-19. Namun perlahan, ekonomi bangkit.  Hal itu, disampaikan Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian dalam Mid-Year Economic Out Look 2020, Selasa (28/7).

“Kontribusi industri pengolahan atau manufaktur terhadap PDB nasional triwulan I 2020 sebesar 19,98 persen.  17,86 persennya, industri pengolahan non migas. Dimana ini memberikan porsi terbesar terhadap kontribusi PDB,” ujarnya.

Agus optimis. Perekonomian Indonesia bisa segera pulih. Indikatornya kata dia, berdasarkan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang sudah mulai menunjukkan  pertumbuhan rebound. Selama masa COVID, titik terendah dari PMI Indonesia adalah 27,5 poin. Namun saat ini, angka tersebut sudah berangsur pulih. Tercatat  pada Juni 2020 sudah pada titik 39,1 poin. Meski masih jauh jika dibandingkan pada titik Februari 2020 dimana PMI Indonesia mencapai 51,9 poin. Tapi paling tidak, kata Agus, peningkatan poin PMI menjadi indikator ekonomi Nusantara sudah rebound kembali.

Purchasing Managers’ Index atau PMI adalah indikator ekonomi yang dibuat dengan melakukan survei terhadap sejumlah purchasing manager di berbagai sektor bisnis. Indeks yang paling diperhatikan investor dan analis adalah untuk sektor manufaktur yang disebut indeks PMI Manufacturing dan sektor jasa yang disebut indeks PMI Services. Hampir semua negara industri maju merilis indikator ini dari berbagai lembaga survey termasuk negara-negara mata uang utama.

Pemulihan ekonomi juga dapat dilihat dari nilai investasi industri. Pada semester I/  2020, nilai investasi industri mengalami kenaikan 24 persen dibanding tahun lalu. Pada periode Januari Juni 2019, nilai investasi industri sebesar Rp 104,6 triliun. Tahun ini, meningkat menjadi Rp 129,6 triliun.

“Ini merupakan perkembangan yang sangat positif. bisa meningkatkan confidence kita terhadap perekonomian,” ungkapnya.  Kemenperin juga terus berusaha mempertahankan dan  menjaga pertumbuhan industri di masa COVID dengan berbagai kebijakan. Di antaranya adalah upaya menjaga produktivitas industri.

Dan memberikan stimulus tambahan berupa penghapusan minimum 40 jam nyala untuk listrik bagi dunia usaha, fasilitasi penyerapan bahan baku bagi IKM khususnya bahan aku dari petani dan nelayan, serta relaksasi sector penerimaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pandemi juga menjadi momentum meningkatkan kemadirian ekonomi. Berdasarkan hasil survey Mckinsey,  69 persen responden cenderung menggunakan produk lokal baik selama mau pun setelah pandemi berakhir. Momentum ini kata Agus dapat meningkatkan kapasitas dan permintaan dalam negeri untuk produk lokal. Serta dapat mengurangi ketergantugan pada impor.

Untuk itu, Agus menyampaikan, industri dalam negeri perlu dibenahi. Terutama dalam hal pendalaman struktur industri,  kemandirian bahan baku, regulasi dan dukungan isentif. Serta penerapan  program Promosi Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) secara optimal.

“Sebab itu, kami sedang dalam proses merumuskan roadmap dalam program subtitusi impor sebesar 35 persen pada tahun 2022,” ungkapnya.

Ada 7 sektor yang potensial untuk mendorong subtitusi impor. Di antaranya, sector elektronik, otomotif, kimia, makanan dan minuman, tekstik dan busana, farmasi dan alat kesehatan (alkes).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia,  Rosan Roeslani mengatakan berdasarkan survey Mckinsey, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling otimis daalm rangka pemulihan ekonomi yang cepat setelah COVID. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi para pengusaha menggeliatkan sektor riil.

Sementara, sebagian besar pengusaha terutama disektor UMKM banyak yang terdampak akibat pandemi COVID- 19.

Data survey Asian Development Bank (ADB) pada Juli 2020, menunjukkan sebanyak 48,6 persen dari total UMKM di Indonesia melakukan penutupan usaha dengan seketika. Dan 30,5 persen mengalami pernurunan permintaan domestik. Serta 19,8 persen mengalami gangguan produksi dan rantai pasokan. Sementara 14,1 persen UMKM  mengalami pembatalan kontrak.

Rosan menyebut implementasi dari berbagai program stimulus UMKM dari pemerintah cenderung lambat. Sehingga banyak UMKM yang belum bisa pulih dari keterpurukan.

“Karena lambat, sehinggga tekanan ekonomi kita menjadi lebih besar,” ungkapnya.

Sehingga ia berharap implementasi stimulus UMKM harus cepat tepat dan terarah. Agar perekonomian juga segera kembali pulih. (krv)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*