Seleksi Ketat di Tempat Rawat

Alur Pendaftaran Pasien di Rumah Sakit Kian Panjang

RS AWS-nomorsatukaltim
Rumah Sakit AWS Samarinda menerapkan seleksi pasien. Memisahkan pasien terindikasi COVID-19 dengan pasien umum. Selain menekan penyebaran virus corona, juga memberikan kenyamanan bagi pasien lain dan keluarganya. (Dian Adi Probo Pranowo / nomorsatukaltim.com)

Andri Nova awalnya waswas kalau saat harus ke rumah sakit. Pandemi COVID-19 membuatnya khawatir tertular. Meski rumah sakit menerapkan protokol ketat. Termasuk pemisahan pasien non covid. Bagaimana penerapannya?

—————-

WARGA Muara Jawa ini harus rutin ke rumah sakit. Menemani sang ayah berobat. Sebulan sekali. Berobat ke RSUD Abdul Wahab Syahrani (AWS) Samarinda. Tidak mengenal adanya COVID-19. Bahkan, harus menginap di sana.

“Awalnya takut. Tapi mau nggak mau. Saya menemani bapak saya,” ungkapnya. “Lama kelamaan sudah biasa. Karena, sudah menjadi rutinitas saya. Selasa nanti (hari ini), saya akan kesana lagi,” katanya lagi.

Ia bercerita protokol di sana ketat. Sejak awal ia datang. Harus melalui antrean di luar. Itupun menggunakan nomor. Dibedakan antara nomor yang ambil langsung di tempat (offline) dan yang online.

Protokol kesehatan wajib dilakukan. Jaga jarak, harus mencuci tangan, pemeriksaan suhu tubuh dan wajib menggunakan masker. “Ribet lah pokoknya. Panas-panasan di luar. Nanti akan dipanggil pakai pengeras suara,” ungkapnya.

Belum lagi berkas harus lengkap. Mulai dari rapid test, KTP dan surat rujukan. Karena ia dari luar kota. Jadi harus menggunakan rapid test yang menunjukan hasil non-reaktif. Beda halnya kalau masyarakat Samarinda. Hanya menggunakan KTP dan surat rujukan.

Jadi selama bolak-balik ke rumah sakit itu, ia harus membuat surat domisili. Karena jika setiap jaga harus dilengkapi syarat rapid test, akan menambah beban biaya lagi.

Itu tahapan pertama. Mereka harus memastikan semua steril dulu baru bisa masuk. Kalau tidak steril tidak boleh masuk. Kalau sudah di dalam, sudah pasti steril. “Itu sih bulan lalu. Nggak tahu sekarang seperti apa,” celetuknya. “Kalau berkas tidak lengkap, mereka tidak mau dilayani. Terutama surat rapid test,” katanya lagi.

Setelah itu, barulah ke ruang poli yang dituju. Kalau orangtuanya ke poli hematologi (penyakit dalam). Nanti di situ baru ditentukan akan rawat inap atau rawat jalan. Karena, orangtuanya mengidap penyakit leukimia (kanker darah) jadi pasti rawat inap.

Karena harus dilakukan penambahan sel darah merah. Tapi, tim medis menggunakan APD. Walaupun tidak selengkap di ruang isolasi. Yang boleh menjaga itupun hanya satu orang. Bisa bergantian. Tapi, harus didata. Saat awal akan dilakukan rawat inap.

“Nanti akan ada yang data saat pendaftaran rawat inap. Kalau beda orang yang didaftarkan tidak boleh masuk. Karena ada kartu penjaga yang kita pegang,” ucapnya.

Ketakutan itu pun yang dirasakan oleh Direktur Politeknik Negeri Samarinda Ramli. Sekarang ini, seandainya dirinya sakit. Ia lebih memilih untuk beristirahat di rumah. Ataupun mencari obat herbal. Menurutnya, rumah sakit bisa lebih mengancam kesehatannya.

“Syukur saja selama COVID-19 ini, saya tidak pernah sakit,” kata Ramli, Jumat (24/7). “Tapi, saya takut ke rumah sakit selama wabah ini melanda,” tambahnya.

SELEKSI PASIEN

Sementara itu, Kepala Bagian Humas RSUD AWS Samarinda dr Arysia Andhina menjelaskan, pembedaan pasien itu pasti ada. Gejala COVID-19 dengan yang non-COVID-19. Triage. Proses penentuan atau seleksi pasien. Ada beberapa kategori Triage. Tertuang dalam empat garis berwarna.

Ada kategori merah. Pasien kategori ini membutuhkan penanganan prioritas pertama. Karena, kondisinya sudah kritis. Ada juga kategori kuning. Kalau ini prioritas kedua. Tapi, juga membutuhkan pertolongan segera. Hanya saja, pasien tidak kritis.

Kalau kategori hijau, pasien dengan cedera ringan. Biasanya mampu berjalan atau mencari pertolongan sendiri. Sementara hitam untuk pasien yang meninggal. “Habis dari triage ini, langsung ruang COVID-19. Kalau indikasinya ke ciri-ciri penderita virus ini,” tuturnya.

Dalam pemisahannya pun, tim medis tetap menggunakan alat pelindung diri (APD). Sehingga, tenaga medis aman. Pasien juga aman dari paparan virus tadi. Kalau masalah stok APD, di RSUD AWS masih sangat cukup. “Masih ada,” singkatnya.

Sama halnya di RSUD IA Moeis, di Jalan Rifaddin, Samarinda Seberang. Direktur RSUD IA Moeis Syarifah Rahimah menjelaskan, juga menggunakan sistem triage tadi. Mereka juga menggunakan form skrining dari Kementerian Kesehatan. Untuk pembedaan penanganan pasien.

Pun sampai sekarang, rumah sakit ini tidak mengenal namanya protokol kesehatan. Mereka menggunakan standar prosedur operasional (SPO). Banyak yang diatur di dalamnya. Salah satunya penggunaan APD saat melayani pasien. Dalam kondisi apapun.

APD ini juga terbagi menjadi tiga level. Kalau level satu, dipakai oleh tim keamanan. Atau, karyawan non-medis. Atau tidak bersentuhan langsung dengan pasien. Kalau APD level dua untuk ruang poliklinik.

Sementara kalau APD level tiga, diperuntukkan tim medis bersentuhan langsung dengan pasien. Seperti di ruang IGD Triage, ruang isolasi dan ruang operasi. “Setiap level ada aturannya juga. Itu ada tertulis. Saya tidak hafal,” ungkapnya.

Ada komite K3RS yang memantau SPO tadi. Mereka juga yang menjamin kesehatan dan keselamatan kerja. Seluruh karyawan pun harus melakukan rapid test. Pengujian ini rutin dilakukan. “Pemeriksaan swab ke karyawan juga kami lakukan,” tambahnya.

Di waktu yang berbeda, Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Andi M Ishak mengungkapkan, protap penanganan pasien COVID-19 dan non memang ada.

Pastinya dibedakan kedua kategori tadi. Penanganannya juga berbeda. Tenaga medis, alat medis semua dipisah. Tidak dicampur. “Semua sudah diatur dalam aturan dari Kementerian Kesehatan,” celetuknya.

Tapi terkait penilaian atau evaluasi untuk itu belum ada. Ada yang mengawasi sendiri. Karena, setiap rumah sakit memiliki protap sendiri. Kalau mereka tidak melakukan aturan tersebut akan berpengaruh terhadap akreditasi rumah sakit.

“Akreditasi mereka akan turun. Itu sudah berjalan secara sistem. Itu akan selalu di evaluasi oleh tim akreditasi. Jadi, pasti mereka akan lebih taat dengan aturan tersebut,” pungkasnya. (mic/eny/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*