Dewan Minta Disdik Perbanyak Sosialisasi Pembelajaran Daring

Maswedi, Anggota Komisi IV DPRD Samarinda. (Sammy/Nomorsatukaltim)

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Tahun ajaran baru 2020/2021 siswa tingkat SD, SMP dan SMA sederajat menjalani sistem pembelajaran baru yaitu dengan pola dalam jaringan (daring). Sistem ini diberlakukan mengingat kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia yang belum menunjukkan kepada kondisi yang semakin baik.

Di Samarinda pola daring ini juga mulai diterapkan, baik bagi siswa tingkat SD hingga SMA. Namun memang pada realisasinya masih banyak kendala yang dihadapi. Salah satunya yang dialami Tuti, warga Kelurahan Lempake, Samarinda Utara. Pada penerapan sistem daring ini ia mengalami beberapa kendala dalam jaringan internet yang tidak stabil. “Hasil rapat di SD anak saya beberapa tugas akan dikirim melalui WA orang tua, tapi kadang-kadang sinyal tidak bagus, kadang tugas yang diberikan terlambat masuk,” kata dia.

Menurut orang tua salah satu murid SD Negeri di kawasan Lempake ini, kondisi sinyal yang tidak stabil ini bukan hanya dirasakan dirinya saja. Beberapa orang tua murid lainnya juga mengalami hal yang sama. Bahkan terkadang harus mencari sinyal dahulu setiap pagi agar bisa menerima tugas secara daring.

Terkait kondisi ini, anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Maswedi meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda untuk memperbanyak sosialisasi ke masyarakat, khususnya orang tua murid SD dan SMP. Sebab, dikhawatirkan kondisi ini justru Memperburuk sistem belajar mengajar siswa.
“Dalam waktu dekat kita akan gelar hearing bersama Disdik terkait masalah ini. Memang yang dikhawatirkan bukan cuma tugas-tugas secara daring, tetapi teknis pemberian tugas saya yakin belum seluruh orang tua murid paham,” kata politikus Partai Nasdem ini.

Maswedi menambahkan, bahwa terkait kuota masing-masing orang tua murid sedikit banyak akan berpengaruh dalam pembelajaran sistem daring ini. Sehingga pihaknya akan meminta Disdik untuk mencari solusi terbaik, agar sistem belajar tetap berjalan maksimal dalam kondisi pandemi ini.
“Ada dana Rp 350 Miliar untuk penanggulangan Covid-19 di Samarinda, yang terserap baru sedikit. Kalau memungkinkan dana tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menanggulangi kondisi dunia pendidikan yang ikut terdampak karena Covid ini, ” tutupnya. (Sam)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*