Melawan Arus di Bulan Agustus

Ketika semua sektor properti menahan diri, developer raksasa Agung Podomoro Land berani unjuk gigi. Pemilik proyek ikonis di berbagai kota besar itu bersiap meluncurkan produk baru. Berpotensi menggerakkan ekonomi?       

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Banyak pengembang kelimpungan terdampak pandemi COVID-19.  Ada yang menahan ekspansi, memilih wait and see, atau menunda proyek baru. Bahkan ada yang sampai digugat pailit kreditur.

Namun di tengah kondisi yang penuh tantangan ini, PT Agung Podomoro Land Tbk diam-diam menyiapkan amunisi baru. Rencana itu dibenarkan General Manager Plaza Balikpapan Aries Adriyanto, Senin (20/7).

“Saya belum berani bicara banyak. Nanti pusat yang akan menjelaskan,” katanya. Namun dia akui, sebuah acara besar akan digelar pada 17 Agustus 2020 mendatang.

Pada momentum Hari Kemerdekaan itu,  APLN akan melakukan pemancangan perdana pembangunan SOHO (Small Office Home Office). Atau hunian yang menyatu dengan kantor. Konsep ini disebut sesuai dengan perkembangan teknologi serta perubahan kebiasaan bekerja dari rumah.

unmul

Konsep ini untuk memenuhi kebutuhan pebisnis yang butuh efektivitas dan efisiensi. Terutama dari segi waktu. Bukan sekadar tempat kerja yang satu atap dengan hunian. SOHO menawarkan keleluasaan dan fleksibilitas dengan tetap menjaga produktivitas.

Aries belum bersedia bicara banyak soal produk barunya itu. Namun dia sedikit memberi bocoran. Untuk tahap awal, akan dibangun hanya 44 unit. Bangunan tiga lantai itu akan dipasarkan mulai bulan depan. “Soal harga dan luasan, kita tunggu saja informasi dari pusat,” katanya lagi.

SOHO akan dibangun tepat di belakang Plaza Balikpapan, mengambil tempat di tepi pantai. Dengan begitu, para penghuni bisa mendapatkan atmosfir yang beragam. Kalau lagi butuh inspirasi, bisa melongok ke pantai.

Aries menjelaskan, langkah ini melihat prospek bisnis properti di Balikpapan yang masih tinggi. Apalagi, Kaltim sudah ditetapkan sebagai ibu kota negara baru dan. “Dengan penetapan itu, otomatis Balikpapan bakal menjadi Kota Penyangga yang punya posisi strategis,” kata dia.

“Memang masih lama tapi untuk berinvestasi sejak awal lebih baik. Kalau menunggu ramai, pasti harga sudah naik.”

Selain itu, faktor infrastruktur juga menjadi pertimbangan. Balikpapan punya daya pikat bagi investasi. Selain proyek ibu kota negara, perluasan kilang minyak Balikpapan juga bisa menjadi daya dorong.   Aries optimis, pembangunan SOHO bakal menggerakan bisnis properti kawasan.  Ini karena properti punya multiplier effect yang besar.

Soal pangsa pasar, APLN akan menyasar masyarakat Kalimantan Timur dan kota-kota yang memiliki hub langsung dengan Balikpapan.

disway iduladha

APLN semakin optimistis perekonomian bangkit lagi karena relaksasi aktivitas sosial sudah berjalan. Optimisnya bisnis property, sama halnya dengan kunjungan mal. “Kehadiran SOHO juga akan mendongkrak tingkat kunjungan,” ujarnya.

Sat ini, APL telah mengembangkan kawasan Borneo Bay City. Di dalamnya terdapat apartemen, hotel bintang lima nature park dan juga mal.

Dalam situs perusahaan tertulis SOHO Borneo Bay merupakan satu satunya Home Office di Balikpapan  yang berada di pusat bisnis strategis. 

SOHO Borneo Bay menawarkan konsep One Stop Living dimana penghuni dapat memenuhi semua kebutuhannya dengan fasilitas yang ditawarkan seperti lobby area, gym, shopping area, kolam renang, playground, sky park dan pusat kuliner. Dari balkon yang didesain istimewa, penghuni juga dapat bersantai sambil menikmati pemandangan kota dan fasilitas lain di bawahnya. 

Pendapatan Naik

Dalam laporan keuangan yang disampaikan kepada otoritas bursa, pada kuartal I/2020, APLN membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp 1,3 triliun. Pendapatan mereka naik 75,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp754 miliar.

Jumlah itu berasal dari pengakuan penjualan sebesar Rp997,4 miliar dibukukan pada 1Q2020 naik dari Rp416,5 miliar dibukukan pada 1Q2019.

“Sehubungan dengan penerapan PSAK 72, sementara pendapatan berulang sebesar Rp324,2 miliar dibukukan dalam 1Q2020 turun dari Rp337,5 miliar dibukukan pada 1Q2019,” tulis Sekretaris Perusahaan, Justini Omas.

Perusahaan membukukan laba kotor sebesar Rp548,6 miliar pada 1Q2020 dengan marjin laba kotor 41,5% dibandingkan sebesar Rp343,8 miliar dengan marjin laba kotor 45,6% pada 1Q2019.

Perusahaan membukukan rugi bersih periode berjalan sebesar Rp325,7 milliar pada 1Q2020 utamanya disebabkan oleh rugi selisih kurs bersih sebesar Rp377,8 miliar.

Rugi selisih kurs sebesar Rp1,046 triliun dikurangi oleh laba instrumen keuangan derivatif sebesar Rp668,6 miliar.

Perusahaan membukukan penjualan pemasaran (marketing sales) di luar PPN sebesar Rp266,7 miliar pada 1Q2020. Dimana Podomoro Park Bandung, Podomoro Golf View dan Podomoro City Deli Medan berkontribusi lebih dari 80%.  

Pengembang Lokal: Nonton Dulu

Para pengembang lokal hanya mampu melihat gerakan para raksasa properti. Lesunya penjualan menjadi penyebab para developer memilih puasa. 

Menurut Wakil Ketua Komisariat Real Estate Indonesia (REI) Balikpapan Andi Arief Mulya, pada semester I/2020, penjualan rumah lesu. Daya beli masyarakat makin menurun. Hal itu sebagai akibat perekonomian daerah yang terdampak wabah.

Praktis, enam bulan ini, penjualan rumah tidak menunjukan kenaikan. “Dalam kondisi ini, hanya pengembang besar yang tetap menjalankan rencana, meski selektif,” kata Andi Arief Mulya.

Ia menyebut, developer raksasa tetap jalan karena peluangnya masih besar pada bisnis properti. “Kalau kami ya dalam posisi see (melihat)aja. Jadi penonton dulu. Wait-nya nanti kalau ekonomi sudah menunjukkan pergerakan kenaikan,” jelasnya dalam kesempatan terpisah.

Dia menilai secara makro ekonomi saat ini masih berada di pintu krisis meskipun belum terjadi krisis. “Jangan sampai krisis. Harapannya naik lagi sehingga daya beli masyarakat kembali bergairah,” tandasnya.

Diperkirakan pada semester II ke depan kondisi masih akan sama dengan semester sebelumnya. Sehingga pengembang memutuskan untuk menjual stok yang tersedia. “Rata-rata pengembang menjual stok yang ada saja, belum membangun dulu. Karena tidak mungkin jalan tapi marketnya agak susah,” imbuhnya.

Terkait penjualan dengan stok tersedia. Dari laporan pengembang masih mampu melakukan penjualan. “Misal target penjualan 3 unit perbulan dan itu terpenuhi. Walaupun tidak profit,” ujarnya.

Disinggung mengenai berbagai relaksasi dan stimulus yang diberikan pemerintah untuk menanggulangi dampak ekonomi akibat Corona. Pihaknya mengatakan relaksasi tersebut akan berdampak jangan menengah dan jangka panjang. Sedangkan jangka pendeknya belum dirasakan. “Dampaknya mungkin bukan short term, ya. Lebih ke medium atau long term,” tandasnya.

Meski demikian, pihaknya optimis bisnis properti akan tetap bergairah karena potensi itu masih ada. Apalagi pemerintah berupaya mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mengerakkan ekonomi dari berbagai sektor usaha. “Kita harus optimis pemangkasan suku bunga dapat menggenjot investasi dan memperingan konsumen untuk spending via KPR,” ujarnya.

Selain itu, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pertemuan dengan sejumlah pengembang perumahan di Balikpapan. “Pertemuan akan membahas perkembangan properti baik penjualan maupun kondisi yang terjadi selama pandemi,” tutupnya. (fey)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: