Masih Tradisional

TAS anyaman rotan hasil kerajinan warga Berau di Dekranasda.

Tanjung Redeb, Disway – Kerajinan dengan bahan dasar rotan, memiliki potensi yang cukup menjanjikan. Apalagi, bahan baku bisa diperoleh dengan mudah di Berau.

Seperti di Kecamatan Kelay dan Segah.

Namun, hasil kerajinan menggunakan rotan seperti yang diproduksi pengrajin di Berau, masih tradisional. Dan, model pun dinilai Kasi Agro dan Hutan, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Annas, masih belum bisa bersaing di pasar nasional.

Yang jadi persoalan, kata dia, pengrajin pun kesulitan mendapatkan referensi model yang dapat diproduksi, agar bersaing di pasar nasional.

“Mereka terkendala jaringan internet. Padahal, dari kehalusan dan kerapian anyaman, tergolong bagus,” ujar Annas, Senin (20/7).

Alat untuk meraut rotan pun, kata dia, masih menggunakan alat tradisional. Dengan demikian, membutuhkan waktu lama. Sehingga, produksi tidak bisa dalam jumlah banyak dalam waktu sebentar.

Karena waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah produk cukup lama. Maka, berdampak pada harga. Dia menyebut, harga untuk sebuah produk kerajinan rotan, dihargai antara Rp 400-600 ribu. Dengan demikian, membuat produk kerajinan sulit dipasarkan, karena dianggap mahal.

Apalagi, untuk pasar dalam negeri.

“Dulu pernah ada dari Bali yang menawar dalam jumlah banyak, namun terkendala harga yang masih mahal,” ujarnya.

Jika pasar Eropa, kata Annas, harga mahal tidak masalah. Namun, lanjutnya, produksi yang masih terbatas pun tidak bisa masuk ke pasar Eropa.

“Kalau satu tahun hanya mampu memproduksi 5, tidak bisa kita sasarannya ekspor. Sebab, terlalu sedikit. Akan mahal dibiaya produksi saja, tidak balik modal bagi para pengrajin,” ungkapnya.

Selain tas, dia juga berharap ke depannya pengrajin bisa membuat produk lain. Misal, mebel. */RAP/REY

unmul
Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: