alexa

Manisnya Laba Pepaya California

Kegandrungan masyarakat Indonesia dengan buah impor memang cukup tinggi. Makanya tak heran kalau nama-nama buah seringkali berasal dari nama kota di luar negeri. Contohnya jambu bangkok, atau pepaya california.   

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Itulah mengapa, varietas unggul itu pakai nama asing. Berdasarkan berbagai literatur, pepaya california dikembangkan Sriani Sujiprihati, ilmuwan dari Pusat Kajian Buah Tropika, Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak 2001. Kemudian penemuan varietas baru ini diberi nama pepaya callina. Dan diresmikan oleh Kementerian Pertanian pada 3 Oktober 2010.

Namun, setelah buahnya dijual ke pasar, jenis pepaya ini lebih dikenal dengan pepaya california. Supaya terdengar seperti buah impor dari California agar lebih mudah terjual. 

Salah satu yang mengembangkan komoditi pepaya California ialah warga Lubuk Sawah, Kelurahan Mugirejo Samarinda, Minarko.  ini memang petani ulung. Selain bertani ia juga merupakan seorang peternak sapi.

Ia mengatakan sudah mulai menanam pepaya California sejak 6 tahun lalu. Tertarik menanam komoditi ini karena prospeknya besar dan permintaan yang tinggi. “Permintaan besar sekali. Mulai dari supermarket, perhotelan, dan pasar,” katanya kepada Disway Kaltim, Senin (20/7).

Bahkan ia masih kewalahan melayani tingginya permintaan.  Dari tengkulak, biasanya meminta pepaya California sebanyak 1 hingga 2 ton per hari. Ia bersama Kelompok Tani Lubuk Makmur, hanya mampu memenuhi permintaan sebanyak 1 ton per hari.

Dibandingkan dengan pepaya biasa, pepaya California memang lebih unggul. Dari segi rasa, pepaya California lebih manis dan kenyal. Rasanya hampir seperti mangga. Ukurannya pun jauh lebih besar. Beratnya bisa mencapai 2,5 kilogram per buah.

Dari sisi petani, juga lebih menguntungkan karena harga jual yang lebih kompetitif. Minarko bisa menjual dengan harga Rp 4.500 sampai Rp 6 ribu per kilogram.

Minarko memiliki luasan lahan kebun pepaya California seluas 1 hektare. Dengan kapasitas 800 pohon. Yang bisa dipanen dalam 5 hari sekali. Dan masa  produksi pohon selama 4 tahun.

Dalam sekali panen, Minarko bisa mengumpulkan 6 hingga 8 kwintal pepaya California. Dengan produktivitas, rata-rata   3 ton per bulan. Dari hasil tersebut, Minarko bisa mendapatkan penghasilan sebanyak Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Dari penjualan pepaya California.

Meski ia mengaku, usaha pertaniannya juga sempat terdampak COVID-19. Harga jual pepaya California sempat turun menjadi Rp 3 ribu selama COVID. Selama 3 bulan terakhir, permintaan juga menurun. Hanya 1/2 ton per hari.  

“Baru 2 minggu ini sudah mulai membaik,” ucap Minarko.  Kendala lain, yang sering dialami Minarko adalah cuaca ekstrem. Apalagi jika musim hujan deras. Sehingga menyebabkan pohon rusak dan tumbang. (krv)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

1 Komentar

Leave A Reply