Dosen Unmul Ciptakan Produk Pakan Unggas dari Daun Tahongai

Universitas Mulawarman melahirkan banyak inventor hebat. Para akademisinya banyak menjadi rujukan pengambil kebijakan. Perguruan tinggi negeri pertama di Kalimantan Timur itu tak hanya memproduksi sumber daya siap kerja. Namun juga menciptakan lapangan kerja. 

Selain Profesor Esti Hndayani Hardi yang sukses menciptakan suplemen untuk budidaya ikan, Unmul juga punya Ir. Julinda Romauli Manullang M.P.  Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian (Faperta) ini berhasil memberdayakan tanaman khas Kalimantan untuk kesehatan.

Bukan hanya untuk manusia. Tetapi juga mahluk hidup lainnya: unggas. Tanaman yang diteliti ialah daun tahongai. Tanaman yang biasa digunakan sebagai obat herbal itu, kini juga diproduksi menjadi produk pakan ternak unggas.

Julinda Romauli Manullang adalah orang yang menemukan inovasi tersebut. Ia melakukan riset sejak 2015. Dan mulai mengembangkan produk aditif pakan unggas dari daun tahongai pada 2019. Dengan brand Herbal Mixx.

“Dengan pakan unggas ini, akan menghasilkan daging yang rendah lemak dan rendah kolesterol,” katanya, belum lama ii. Pakan unggas ini juga berfungsi sebagai antibakteri alami untuk menekan pertumbuhan bakteri pathogen pada usus unggas sehingga bisa menekan mortalitas.

Produk inovasi Herbal Mixx ini juga dikembangkan untuk mendukung program feed safety and food safety dari pemerintah. Sejalan dengan larangan penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP) sebagai imbuhan pakan ternak unggas oleh Kementerian Pertanian sejak 2018. Karena menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Produk Herbal Mixx ini, kata Julinda hadir sebagai produk pengganti antibiotik sintetis yang dibuat dari tanaman herbal.

Dari pengembangan produk Herbal Mixx in, Julinda menginisiasi beridinya badan usaha  CV. Agro Herba pada 2019. Dan kini sudah menjadi Start Up mandiri yang memproduksi produk pakan hewan dari tanaman herbal.

Dalam proses produksi, Julinda menyebut pihaknya memanfaatkan masyarakat sekitar untuk menciptakan social entrepreneur di Kelurahan Lempake, Samarinda.

“Jadi karang taruna di sana mengumpulkan daun tahongai dan ibu-ibu sekitar membantu dalam proses memipil daun. Dan itu semua kami bayar secara profesional,” jelas Julinda.

Ia juga menjelaskan proses pembuatan Pakan aditif dari tahongai ini. Pertama, daun tahongai yang sudah dipipil, dikering anginkan selama beberapa hari. Kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 40 hingga 50 derajat celcius selama 4 sampai 6  jam. Kemudian, daun yang sudah kering dimasukkan ke dalam  penggilingan. Setelah itu, dicampurkan dengan vitamin dan mineral. Kemudian dikemas dalam ukuran 1 kilo gram dan 5 kilogram.

Produk Herbal Mixx ini dijual dengan harga Rp 79 ribu per kilogram. Dan sudah dipasarkan ke beberapa perusahaan peternak di Kaltim. Yang bisa digunakan sebagai bahan campuran pakan unggas dengan ukuran 6 gram per kilo gram pakan. Produk ini juga sering ditampilkan dalam pameran sebagai produk pakan herbal dari Bumi Etam.

“Bedanya ini dengan yang lain adalah produk yang kami hasilkan ini berbasis riset dan melalui uji lab. Sehingga sudah terbukti aman,” ujar Julinda menjelaskan keunggulan produknya.

Ia berharap produk Herbal Mixx dapat lebih berkembang dan dikenal masyarakat secara luas. (krv)

Saksikan video menarik berikut ini: