GUGUS Tugas Percepatan Penangan COVID-19 saat melakukan pendataan kelengkapan protokol kesehatan di THM, belum lama ini. Masih ada yang belum melakukan transaksi online.

Waspadai OTG dan Penularan di THM
Tanjung Redeb, Disway – Bupati Berau Muharram mengingatkan, agar masyarakat tak mengabaikan imbauan pemerintah terhadap protokol kesehatan, serta waspada terhadap Orang Tanpa Gejala (OTG).
Menurut Muharram, mereka yang menjadi OTG, sangat berbahaya menularkan tanpa disadari, atau tanpa diketahui yang tertular. Kasus ini diduga sudah terjadi di Kabupaten Berau, pada kasus nomor 45.
“Mereka (OTG) merasa tidak menunjukkan gejala, tidak sakit, sehingga mereka bebas mengunjungi sanak keluarga, mobilitasnya masih tinggi dan itu menjadi sumber penularan,” ujarnya, Rabu (8/7)
Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Berau, ditegaskan Muharram, terus berupaya memerangi wabah ini dengan mewajibkan masyarakat memakai masker, menerapkan social distancing saat di tempat ramai, serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Ia tak menampik, di tengah situasi seperti sekarang, masyarakat juga belum terbiasa dengan aturan yang diterapkan, dan akan muncul berbagai pro serta kontra.
“ Yang baru di rilis oleh Dinas kesehatan satu keluarga merupakan klaster lokal, mereka diduga tertular OTG, karena tidak melakukan perjalanan kemana-mana, tetapi mungkin karena aktivitasnya yang padat dan bertemu banyak orang jadi penyebab mereka tertular,” jelasnya.
Di situasi menuju normal saat ini, semua warga Berau diminta untuk patuh dan taat dengan apa yang disampaikn pemerintah maupun tim gugus tugas.
Saat ini, Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSD C-19) Berau yang berdiri tiga bulan telah resmi di tutup. Muharram khawatir, Ketika masyarakat abai dengan yang dianjurkan pemerintah, RSD C-19 kembali dibuka.
Bila ini terjadi, tentu akan memakan biaya yang lebih besar lagi. Selain itu, tentu akan memengaruhi keuangan daerah pada anggaran tahun 2021 mendatang. Jika masyarakat bisa membuka mindset dan tetap menerapkan imbauan pemerintah, pandemik ini akan bisa dilewati.
” COVID-19 adalah pandemik yang melanda dunia, bukan hanya kita saja di Indonesia, tapi di seluruh belahan dunia merasakan dampaknya,”ujarnya.
Untuk itu, Muharram mengajak masyarakat agar tertib pada aturan yang diberlakukan. Karena pemerintah tidak akan bisa berbuat maksimal tanpa dukungan masyarakat dan elemen lainnya.
Penularan di THM Juga Perlu Diwaspadai
Sebagai upaya pencegahan penularan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di Tempat Hiburan Malam (THM), Gugus Tugas Percepatan Penangan COVID-19 Berau, memerintahkan untuk menggunakan pembayaran non-tunai.
Imbauan itu sudah disosialisasikan bersamaan dengan keputusan dibukanya kembali THM, Juni lalu. Namun, berdasarkan inspeksi lapangan yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Operasional (Pusdalops) Gugus Tugas Berau, masih banyak THM yang belum mengindahkan aturan tersebut.
Hal itu disampaikan oleh Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat. Inspeksi THM telah berlangsung sejak 1 Juli lalu. Dalam satu minggu pihaknya menggelar inspeksi atau patroli tiga kali. Yakni, Minggu malam, Rabu dan Jumat.
Dari hasil inspeksi yang dilaksanakan pada 21 THM yang tersebar di sekitaran kota. Pihaknya hanya mendapati beberapa yang telah menggunakan mode pembayaran non-tunai.
“Kalau tidak salah, baru 4 atau 5 yang sudah menggunakan mode pembayaran non-tunai itu,” ujarnya kepada Disway Berau, Rabu (8/6).
Menurutnya, alasan tidak digunakannya mode pembayaran non-tunai dikarenakan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kurang mumpuni.
“Mungkin para pekerja kurang paham tentang transaksi online. Makanya mereka masih belum menggunakan mode pembayaran tersebut,” katanya.
Selain itu, metode yang digunakan adalah pola lama dan belum melek terhadap kemajuan teknologi atau perkembangan zaman. “Mungkin juga mereka berprinsip ada uang maka ada barang,” tuturnya.
Bagi pemilik atau pengelola THM yang belum bisa menerapkan metode pembayaran non-tunai, maka pihaknya meminta agar saat transaksi menggunakan sarung tangan.
“Adakan sarung tangan plastik yang biasanya digunakan oleh pedagang makanan. Itu bisa digunakan dan aman,” ungkapnya.
Penggunaan metode pembayaran non-tunai dirasa sangat perlu. Pasalnya, penularan COVID-19 bisa saja terjadi atau tersalurkan dari media uang.
“Kalau sudah media penularannya itu uang, maka akan susah untuk ditracing,” tegasnya.
Pihaknya mengingatkan, bahwa aturan itu memiliki sanksi yang cukup berat. Pada awalnya, pengelola atau pemilik THM hanya akan diberikan imbauan. Namun, ketika itu tidak diindahkan maka, pihaknya akan memberikan sanksi tegas.
“Bisa sampai ditutup sementara waktu itu tempatnya,” pungkasnya. */ZUH/FST/APP


Saksikan video menarik berikut ini: