Saling Lempar Tanggung Jawab, Soal Pemakaman PDP Positif di Sangasanga

Samarinda, DiswayKaltim.com – Pemakaman jenazah warga Sangasanga yang terkonfirmasi positif COVID-19, ternyata dilakukan tanpa menjalankan protokol kesehatan. Bahkan, informasi yang dihimpun Disway Kaltim, prosesi pemakamannya dihadiri banyak warga setempat.

Terkait hal itu, Rabu siang (8/7), media ini berusaha menghubungi Direktur Umum RSUD IA Moeis Syarifah Rahimah. Menanyakan kenapa tidak dijalankannya protokol kesehatan pada jenazah tersebut. Namun, hingga sore hari, yang bersangkutan tak dapat dikonfirmasi.

Media ini lalu menghubungi Humas RSUD IA Moeis, Mety. Namun Ia enggan berkomentar banyak. Mety menyarankan agar Disway Kaltim mengkonfirmasi hal tersebut ke Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

“Mohon maaf, untuk hal ini bisa ditanyakan langsung ke Dinas Kesehatan Kota Samarinda. Protokolnya sudah seperti itu,” singkatnya.

Sementara itu, Dikonfirmasi di ruang kerjanya, Plt Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Dr Ismed Kusasih mengatakan bahwa terkait penanganan jenazah pasien merupakan tanggung jawab dari pihak Pemerintah Kutai Kartanegara (Kukar). “Kalau bicara soal pasien itu, saya tidak bisa berkomentar banyak. Karena itu kewenangan Pemerintah Kabupaten Kukar,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pasien terkonfirmasi positif COVID-19 tersebut, awalnya tidak dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Sehingga diduga penanganan jenazah tidak dilakukan dengan protokol kesehatan.

  • kpu kutim1
  • kpu kutim2
  • kpu kutim3

“Yang jelas setahu saya dia bukan PDP. Karena rapidnya negatif. Kalau untuk status positif dari hasil Swab itu pada 7 (Juli) kemarin. Kondisinya pasien sudah meninggal dan sudah dikubur,” ungkapnya.

“Swabnya positif saat pasien itu sudah dikubur. Baru keluar hasil swabnya itu”.

Disinggung alasan pihak RSUD IA Moeis yang tidak menjalankan protokol kesehatan saat memulangkan jenazah, apakah itu sudah sesuai prosedur?. Ismed memilih tak menjawab dan kembali menyebut bahwa hal tersebut dalam kewenangan tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kukar.

Ismed menimpal balik, agar media ini mengkonfirmasi hal tersebut ke pihak RSUD IA Moeis dan Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Diskes Samarinda, Osa Rafshodia. Pasalnya, ia mengaku tak begitu hafal terkait standar protokol kesehatan.

“Coba kamu konfirmasi kesana (RSUD IA Moeis) karena ada kewenangan disana. Itu kewenangan di rumah sakit. Saya tidak begitu hafal. Atau kalau mau tahu persis teknisnya temui Dokter Osa saja,” ucapnya.

“Saya ini bisa (komentar) yang umum saja, kalau terlalu teknis saya tidak bisa detail. Kalau teknis protokol itu ke Dokter Osa saja. Kalau bicara teknis jangan deh. Saya tidak hafal,” lanjutnya.

Kendati demikian, dia menyebutkan bahwa seharusnya ketika ada pasien meninggal dunia berstatus PDP, harus melalui penanganan sesuai protokol COVID-19. “Intinya kan harusnya begitu kalau dalam penanganan itu. Saya khawatirnya pasien ini tidak dinyatakan PDP. Coba tanya dokter Osa saja deh. Ini terlalu teknis, saya nggak paham,” terangnya.

Ismed mengaku tak mengetahui detail terkait penanganan yang telah dijalani pasien tersebut. “Bukannya saya tidak mau memberikan keterangan. Tapi detail teknisnya ke dokter Osa saja. Saya nggak tahu persis kasus pasien ini karena warga Kukar. Saya tidak mengikuti dong kalau warga Kukar,” ucapnya.

“Masalahnya saya tidak hanya mengurusi soal itu, saya ngurusin pasien yang dikarantina, ngurus masyarakat Samarinda, ngurus fase relaksasi. Kalau sampai ditanya detail begitu, kamu tanya saya, ya saya bingung, saya tidak hafal,” tandasnya.

TRACING 200 WARGA

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Diskes) Kutai Kartanegara (Kukar) harus melakukan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) atau tes swab tenggorok massal kepada 200 warga Sangasanga.

Jadi, 200 warga tersebut merupakan kontak erat dari pasien yang meninggal dunia pada 2 Juli 2020 lalu. Di RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda. Terdiri dari keluarga terdekat, warga yang mengurus jenazah. Mulai dari memandikan, mensalatkan, dan menguburkan. Serta orang-orang yang melayat.

ucapan pemkab mahulu

“Tidak dimakamkan secara COVID-19, karena itu kontak eratnya banyak, jadi kita lakukan tracing,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kukar Martina Yulianti, Rabu (8/7).

Martina menyebut, tracing kontak erat yang bersangkutan menemui sedikit kendala. Meskipun diketahui pasien sebelum dirawat di rumah sakit tidak berjalan kemana-mana, tetapi kemungkinan Martina menyebut banyak tamu yang menjenguk pasien saat masih di rumah. Karena belum lama ini, istri pasien juga meninggal dunia sebelum pasien dirawat di rumah sakit.

Kini, pihak Kecamatan Sangasanga telah memobilisasi seluruh warga, yang merasa melayat dan terlibat di proses pemakaman. Hasil tes swab tenggorok warga itu akan langsung diperiksa oleh RSUD AM Parikesit Kukar. Martina memastikan beberapa warga Tenggarong yang memiliki kontak erat dengan para pelayat, dinyatakan negatif.

Untuk sementara, hingga hasil swab tenggorok keluar, warga diwajibkan untuk melakukan karantina mandiri. Dan ketika hasilnya sudah keluar, Diskes baru akan mengambil langkah selanjutnya. Seperti dikarantina di Wisma Atlet Kukar.

Martina menyayangkan. Sebaiknya seluruh fasilitas kesehatan (faskes) mulai dari tingkat puskesmas hingga rumah sakit itu, selalu mematuhi protokol kesehatan COVID-19. Sejak awal perawatan hingga dipastikan pasien meninggal dunia.

Hal itu dilakukan sebagai langkah pencegahan dan antisipasi. Apabila keluar hasil positif, seperti kasus yang terjadi ini. Itu yang selama ini dilakukan di Kutai Kartanegara (Kukar). “Seharusnya penanganan jenazah yang meninggal karena diduga COVID-19 itu menjadi tanggung jawab rumah sakit, di mana pasien meninggal,” pungkas Martina.

Diketahui, proses tes swab tenggorok massal ini melibatkan tiga puskesmas. Yakni Puskesmas Sangasanga, Puskesmas Muara Jawa dan Puskesmas Loa Janan. Dibantu tim swab tenggorok dari RSUD AM Parikesit Kutai Kartanegara.

Martina menyebut, sebanyak 209 sampel yang berhasil diambil dan dibawa untuk dilakukan pemeriksaan di RSUD AM Parikesit Kutai Kartanegara. Dan dirinya memastikan paling lambat hasilnya akan didapat satu hari sesudahnya.

Namun, jumlah pemeriksaan bisa saja akan bertambah. Sejauh itu untuk pengembangan dari proses tracing kasus. Selain itu, penambahan sampel pemeriksaan terjadi jika di antara 209 sampel yang diperiksa ditemukan ada yang terkonfirmasi positif COVID-19. “Ya harus di-tracing lagi, mudah-mudahan tidak ada yang positif,” pungkasnya. (aaa/mrf/dah)

kpu kukar

Saksikan video menarik berikut ini: