Mengenal Higang Swana, Musisi Asal Kukar Pencipta Lagu Yusuf

1
higang swana
Musisi asal Kukar Higang Swana merintis karier dari bawah. Kini dia sudah mulai masuk label nasional.

Berkarier di musik penuh luka-liku. Tak ujug-ujug langsung populer. Apalagi datang dari pelosok Kutai Kartanegara. Higang Swana merasakan itu. Kegigihannya meniti karier dari bawah membawanya ke Jakarta. Kini dia sudah bergabung dengan label Rajawali Mitra Musik dan segera merilis album.

Oleh: Arditya Abdul Aziz

MENJELANG Sore, sebuah lagu tercipta dari sebuah kabar memilukan. Kala itu, warga Kota Tepian digegerkan dengan temuan sesosok jasad balita. Di sebuah saluran drainase di Jalan Pangerang Antasari II, Teluk Lerong Ilir, Samarinda, Minggu (08/12/2019).

Jasad itu tak lain, tak bukan ialah Achmad Yusuf Ghazali (4). Yang telah dua pekan dinyatakan menghilang secara misterius. Dari peristiwa itulah, sebuah tembang lagu tercipta melalui tangan seorang pria asal Desa Separi Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, bernama Higang Swana (30).

Berbekal alat tulis, kertas dan gitar. Higang bersenandung dan berdoa. Lagu yang ia ciptakan itu berjudul “Damailah di Surga”. Setelah mendapatkan izin dari orang tua mendiang balita Yusuf, Bambang dan Melisari. Ia berencana akan segera merilis lagu tersebut di pekan ini.

Selasa sore (30/6/2020), Disway Kaltim berkesempatan berbincang-bincang dengan sang pencipta lagu tersebut, di rumah kakaknya di Jalan Sentosa, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda. Diawal obrolan itu, pria berumur 30 tahun tersebut sedikit membocorkan, bahwa lagu yang ia ciptakan untuk almarhum Yusuf sudah 100 persen selesai proses rekaman.

Untuk mempercantik karyanya, singel lagu itu masih dalam tahap proses pembuatan video klip. “Doakan saja, semoga bisa lekas dirilis secepatnya sesuai jadwal. Tinggal proses pembuatan video klip saja,” ungkapnya, kepada Disway Kaltim.

Higang Swana adalah salah satu musisi asal Benua Etam yang kini tengah berkarier di dunia musik bergenre Pop Melayu. Di bawah naungan label yang bermarkas di Jakarta Barat, yakni Rajawali Mitra Musik.

Pada Rabu pagi (1/7), dia merilis sebuah singel lagu berjudul “Levi”. Lagu ini, satu dari sekian karya lagu yang telah ia ciptakan. Terhitung, sudah ada 36 lagu yang ia ciptakan dan telah melalui proses rekaman di studio.

“Sebenarnya kalau ditanya sudah berapa banyak lagu yang diciptakan, sudah ada ratusan. Tapi semuanya masih rekaman kotor saja, pakai gitar dan disimpan di laptop saya. Hanya 36 lagu saja yang sudah melalui proses rekaman dan dirilis,” terangnya.

Ia sedikit menceritakan tentang lagu berjudul “Levi” yang baru saja dirilis. Judul itu diambil dari nama seorang wanita yang tengah menjalin hubungan asmara dengan seorang pria. Namun dalam perjalanan percintaan, Levi mendapatkan perlakuan yang tak mengenakan. Hingga akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan sang kekasih.

“Levi diperlakukan sama pacarnya hanya saat dibutuhkan saja. Ketika pacarnya butuh wanita itu harus ada. Tapi sebaliknya ketika dibutuhkan wanita itu, pria itu yang tak ada. Akhirnya diucapkan lah, selamat tinggal untuk dirimu yang ku sayang,” ucapnya.

Dari sekian banyak lagu yang diciptakan, semuanya masih dirilis dalam bentuk singel. Namun rencanannya dia akan segera merilis Album melalui label Rajawali Mitra Musik. Album itu rencananya akan diberi nama “Lihat Aku Sekarang”, terdiri dari 13 lagu.

Higang bercerita, mengapa ia memilih judul itu pada Albumnya nanti. Lantaran memiliki nilai historis perjalanan kariernya di dunia musik. “Jadi banyak orang yang menghina dan mencibir bahwa genre saya tidak bakal laku dan bertahan lama untuk berkarier. Ucapan itu sering saya terima,” ungkapnya.

“Tapi dari situ saya berusaha membuktikan untuk konsisten dan bertahan. Meski belum ada hasil. Dan saya ingin membuktikan bahwa genre itu layak”.

Menurut Higang, berkarier di dunia musik dengan genre Pop Melayu memang cukup berat. Namun ia sangat yakin untuk tetap bertahan berkarier musik di genre itu. “Sesuatu hal yang benar-benar dilakukan dengan hati tetap pada jalurnya, maka akan membuahkan hasil yang manis,” katanya.

Meski kerap mendapatkan cibiran dengan genre yang ia pilih, tak ada sedikitpun terbesit dipikirannya untuk pindah ke genre lain. “Hanya pernah sedih saja, tapi saya melihat lagi support yang diberikan orangtua dan keluarga saya. Yang paling saya ingat dari Almarhum Bapak saya, kalau kamu terjun disitu, maka kamu juga harus siap untuk dihina, dikritik dan dibenci,” imbuhnya.

Higang mengaku mulai suka bernyanyi dan bermain musik genre Pop Melayu ketika masih duduk dibangku kelas 2 SD. Dan mulai berani untuk menciptakan lagu saat di kelas VII SMP. “Tapi saat itu cuman untuk dinyanyikan bersama kawan-kawan saja,” ucapnya.

Ketika di jenjang SMA, ia mulai bermain musik dengan membentuk grup band. Saat itu lah ia mulai belajar lebih dalam lagi mengenal Pop Melayu dari sejumlah musisi yang ia temui. “Saat itulah saya mulai berpikir untuk terjun ke dunia musik,” katanya.

Berkarier di dunia musik memanglah tak mudah. Higang mengawali kariernya dengan bergabung di sebuah grup elekton dan bernyanyi di setiap acara hajatan. “Dari manggung itu saya dibayar Rp 25 ribu,” akunya.

Hingga akhirnya di Tahun 2016, ia mulai memberanikan diri untuk menawarkan lagu ciptaannya ke setiap label musik di Jakarta. Lagu pertama yang ia tawarkan kala itu berjudul “Rasa Ini”.

Ia pun diterima di salah satu label saat itu. Namun karena terbentur dengan pendidikan, dia sempat memilih untuk vakum sejenak. Dan baru terjun kembali berkarier musik di pertengahan tahun 2018.

“Saat itu baru saya bergabung di Rajawali Mitra Musik di Jakarta Barat. Sekarang saya lagi mengerjakan Album. Dan akan dirilis setelah lagu Levi dirilis,” ucapnya.

Higang mengaku sangat mencintai Pop Melayu. Meski genre tersebut hanya digandrungi oleh kalangan tertentu. “Memang banyak genre lain seperti Pop, Rock atau Metal. Tapi saya mencoba untuk tetap berkarier di genre ini untuk berkarya,” tambahnya.

Dari pelosok Kukar, ia bertekad untuk hijrah ke ibu kota. Menawarkan sejumlah lagu dari berbagai label. Meski kerap ditolak, namun tak meruntuhkan niatnya untuk terus berusaha membuat karya yang terbaik.

“Jadi sering gagal mencoba membuat karya lagi, yang bisa diterima masyarakat seperti apa. Akhirnya ya seperti ini,” ucapnya.

“Kenapa Pop Melayu, karena menurut saya lagu ini bisa dibawa ke genre Koplo atau Dangdut dan lainnya. Dari genre inilah saya diterima disana (Rajawali Mitra Musik). Dan akhirnya aku semakin mencintai musik dengan genre ini,” lanjutnya.

Higang mengatakan, selama berkarier di dunia musik, pengalaman pahit yang paling tak terlupakan ketika karyanya diterima oleh satu label. Namun tak kunjung dirilis oleh pihak label. Sedangkan kala itu, ia sudah banyak biaya yang keluar untuk berangkat dan biaya hidup di Jakarta.

“Pernah dihubungi disuruh ke Jakarta. Disuruh bikin singel, akhirnya aku bikin lagu dan rekaman sample saja. Waktu itu cukup menghabiskan biaya banyak. Tapi sampai sana ternyata di PHP doang,”

“Itu terjadi di tahun 2016. Lagu ciptaan saya waktu itu berjudul Rasa Ini. Jadi rencananya lagu itu akan saya rilis di label saya yang sekarang,” sambungnya.

Kendati demikian, dari pengalaman itulah ia semakin bersemangat untuk tetap berkarya. Hingga akhirnya bisa bergabung dengan label yang saat ini telah membesarkan namanya di kancah permusikan Indonesia. (dah)

1 Komentar

Leave A Reply