April Istimewa

Oleh: Baharunsyah*

April ini bulan yang istimewa. Menurut saya. Banyak hari-hari spesial. Terjadi di bulan ini. Mulai yang berhubungan dengan emansipasi. Yang ril, empiris di depan mata kita. Bahkan ada pula peringatan konyol di bulan ini. Ada hari Kartini. Hari bumi. Waktunya sangat berdekatan. Kartini 21 April. Hari Bumi 22 April. Lalu ada hari buku. Waktunya 23 April. Jedanya singkat sekali. Yang konyol April mop. Diperingati setiap tanggal 1 April. Isinya cuma bohong membohongi orang. Namun tahun ini April begitu berbeda. Dikatakan suram juga tidak. Tapi dituntut untuk evaluasi barangkali iya.

Mari kita telusuri, apa yang membuat kita pantas untuk merenung di bulan April. Diawali tanggal 1. April Mop. Hari untuk saling bohong membohongi. Entah apa asbabun nuzul nya April mop ini. Juga siapa pencetus pertama kalinya dan demi tujuan apa. Membohongi orang menjadi sebuah joke. Bahkan mendunia. Setiap negara melakukannya.

Selesai tanggal 1, April mop lewat. Hari-hari berjalan seperti biasa. Kita percepat penanggalannya sampai tanggal 21 April. Terlalu banyak pembahasan jika membedah hari-hari penting lainnya. Dimulai tanggal 21 April atau Hari Kartini. Puncak emansipasi terhadap perempuan digaungkan dan dirayakan di Indonesia. Sayangnya Ibu Kartini mungkin tidak bisa menyaksikan namanya diucap dulu. Di atas panggung. Di sambutan-sambutan seminar. Lewat lomba kebaya anak-anak sekolah. Social and physical distancing akibat COVID-19 salah satu alasannya. Kartini perai (libur) dulu.

Besoknya, 22 April, Hari Bumi. Setelah emansipasi kita diajak untuk merenungi tempat dimana kita tinggal. Bumi. Hari bumi tahun ini terasa sedikit spesial. Karena momentumnya berpapasan dengan pandemi corona. Memeringatinya, logika dan emosi kita serasa diaduk-aduk. Secara nalar, fakta empiris, bumi saat ini lebih hijau. Langit-langit kebiruan bisa dilihat dengan jelas. Di atas kota yang biasanya dipenuhi oleh polusi. Kampanye untuk menghijaukan bumi, membirukan langit berhasil. Target tercapai. Tapi itu bukan karena keasdaran diri. Atau ada kebijakan tertentu yang lahir karena buah kesadaran pemimpinnya. Melainkan karena COVID-19.

Social distancing dalam skala besar telah berhasil menurunkan konsumsi atau penggunaan bahan bakar minyak. Emisi karbon di udara bisa ditekan. Udara segar bebas kita hirup, tanpa khawatir adanya polutan yang masuk ke paru-paru. Jika ingin fair, kita harus berterima kasih dengan si kecil tak kasat mata ini. Tapi, itu tentu membuat emosi kita dipertanyakan. Karena banyak juga korbannya yang positif. Bahkan meninggal. Meski tak sedikit juga yang perlahan sembuh. Saya tiba-tiba jadi teringat dengan salah satu tokoh antagonis dalam perfileman. Namanya sempat viral tahun lalu. Bahkan wajahnya dijadikan meme.

Kemampuanya adalah menjetikkan jari. Lalu separuh populasi menghilang. Ya, dia adalah Thanos. Tokoh fiksi dari dunia marvel cinematic universe. Silakan saksikan sendiri filmnya. Alasan dia menghapus separuh populasi juga sederhana. Untuk menyelamatkan alam semesta dari kerusakan yang diakibatkan manusia itu sendiri. Manusia adalah virus sebenarnya. Kanker yang harus dibasmi. Kalau mengikuti logika berfikir Thanos, tentu kita akan dicap sebagai makhluk yang tidak memiliki emosi.

Sama pula halnya dengan hari bumi dan COVID-19 ini. Keberadaan kita ada diantara dua persimpangan. Menuhankan nalar logika dengan segala konsekuensi logisnya. Atau menafikkan logika itu dan mendahulukan emosi dan empati sebagai sesama makhluk. Kalau kita berterimakasih adanya COVID-19 ini menjadikan bumi lebih hijau, lebih segar lalu menyebutnya sebagai pahlawan, nanti netizen pasti murka. “Dimana rasa kemanusiaannya. Itu loh, dokter-dokter berada di garda terdepan bla, bla, bla…”.

Usai hari bumi, kita diajak lagi merenung. Masih di bulan April. Hari buku sedunia. Sehari setelah hari bumi. Disini kadang saya bertanya-tanya. Tidak tahu yang lain. Apakah ini konspirasi dari orang tertentu. Kok momennya begitu berdekatan. Mbok ya kasih jeda dikitlah. Baru juga merasa menyelamatkan bumi, kita disuruh lagi untuk baca buku. Tapi justru di sini pembelajarannya. Mungkin saja, mungkin, si pencetus earth day adalah orang yang sama dengan mencanangkan hari buku internasional. Tujuannya agar kita tidak lengah. Tetap mau belajar. Setelah sehari sebelumnya melakukan aksi. Nalar dan akal sehat tentu tetap harus dirawat. Dengan ilmu pengetahuan.

Nah, yang lebih fenomenal justu terjadi lagi tahun ini. Setelah memperingati hari buku, bagi yang muslim, langsung melakukan puasa Ramadan. Tanggal 24 April. Atau 1 Ramadan. Kalau yang satu ini saya yakin merupakan konspirasi dari alam semesta.

Lantas, apa benang merah yang bisa kita tarik? Saya tidak ingin menyimpulkan apa-apa. Biar kita sendiri yang menyimpulkan. Nanti kalau saya yang menyimpulkan sendiri, netizen bakal ceriwis. Karena bertentangan dengan opini-opini mereka. Sebab, saya cinta netizen.
*Redaktur Disway Kaltim

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*