Sempat Galak jadi Bidan

KARENA Panggilan jiwa, Windu Lestasi memutuskan untuk berprofesi sebagai bidan. Gadis kelahiran Berau, 16 Agustus 1995 ini, ingin berjuang untuk menurunkan risiko kematian ibu dan anak di Bumi Batiwakkal.

Windu -sapaan akrabnya-, sebenarnya tidak berangan-angan untuk menekuni dunia kebidanan. Justru, setelah lulus di Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Persada, ia memutuskan untuk menjadi pekerja kantoran.

Setelah mendiskusikan dengan orangtuanya, keputusannya tidak disetujui. Orangtua Windu menyarankan melanjutkan pendidikan kebidanan. Alasannya cukup menohok, karena silsilah keluarganya belum ada yang bekerja di bidang kesehatan.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

“Kata ibuku, belum ada bidang kesehatan, kebanyakan guru,” katanya kepada Disway Berau, Jumat (3/1).

Akhirnya, ia memenuhi permintaan orangtuanya dan mengambil program Pendidikan Diploma III kebidanan, di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Jember, Provinsi Jatim, setelah lulus sekolah tahun 2012 silam.

Karena jurusan tidak sesuai keinginannya, Windu pernah menyerah dan ingin memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Namun, nenek dan kakeknya selalu menyuntikkan nasihat untuk tetap melanjutkan kuliah hingga selesai.

  • kpu kutim1
  • kpu kutim2
  • kpu kutim3

“Kakek dan nenek saya yang berperan penuh. Selalu memberikan saya nasihat, ketika saya akan menyerah. Nasihat itu seperti panggilan jiwa,” tuturnya.
Dirinya pun memiliki pengalaman tak terlupakan, pertama kali membantu persalinan ketika praktik bidan mandiri (PBM) di salah satu rumah sakit di Pulau Jawa. Windu

menjadi bidan galak, saat pasien merengek kesakitan ketika proses persalinan.

”Saya suruh diam dengan nada tinggi, karena rebut,” ucapnya.

Usai proses persalinan, Windu dihampiri seniornya untuk dijelaskan dahsyatnya rasa sakit saat proses persalinan. Setelah pristiwa itu, ia lebih sabar dan tenang menangani pasien.

“Setelah diberikan pemahaman, akhirnya tahu. Akhirnya, pola pelayanan kepada pasien saya ubah,” terangnya.

Lulus kuliah, Windu memutuskan kembali ke daerah kelahirannya, untuk mengimplementasikan ilmu yang diperolehnya selama ini.

Tahun 2016, Windu memulai kariernya di Puskesmas Kampung Bugis, Tanjung Redeb, sebagai pegawai magang selama setahun lebih. Setelah mendapatkan pengalaman, Windu diterima bekerja di Puskesmas Sambaliung Mei 2017.

Setelah tiga bulan, tepatnya September 2017, akhirnya Windu ditempatkan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kampung Tanjung Perangat, Sambaliung.

Selain mengamalkan keahliannya sebagai bidan, Windu juga turut mempelajari karakteristik masyarakatnya. Terutama kebiasaan masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Windu juga coba memahami kebiasaan masyarakat memperlakukan ibu hamil, hingga penanganan kesehatan dalam keadaan darurat.

“Makanya sebelum saya bertugas, saya melakukan survei dulu ke sana (Tanjung Perangat),” imbuhnya.

Selain bertugas melayani proses persalinan, mulai masa kehamilan, melahirkan hingga nifas. Windu dituntut membantu menjaga kesehatan ibu dan anak, serta menjadi serba bisa dalam penanganan kesehatan.

“Yang sakit, asal sesuai dengan kemampuan saya tangani. Tapi jika memang tidak, akan saya sarankan untuk dirujuk ke puskesmas,” tuturnya.
Untungnya, peralatan kesehatan di pustu cukup memadai, termasuk persediaan obat-obatan dari puskesmas selalu tercukupi.

ucapan pemkab mahulu

“Jika ada kesulitan dalam menangani pasien, kami langsung rujuk. Tapi itu juga dengan perhitungan matang, karena jarak ke puskesmas yang lumayan jauh,” jelasnya.

Sebagai bidan, Windu juga tak pernah segan membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan, walau saat dirinya sedang tidak bertugas. Seperti pasien datang ke rumah, atau dijemput pada malam hari karena ada pasien yang akan menjalani proses persalinan.

“Namanya tugas, harus terima apapun risikonya. Tapi juga memberikan kepuasan tersendiri, apalagi bisa menyelamatkan ibu dan anak selama proses persalinan,” jelasnya.

Sejauh ini, tidak ada kendala berarti saat bertugas di Pustu Kampung Tanjung Perangat. Misalnya sosialisasi terkait Keluarga Berencana (KB), tidak sukar memberikan pemahaman dan manfaat program itu kepada masyarakat.

“Kendalanya di sana, hanya fasilitas saja yang kurang memadai. Mudahan, kekurangan itu secepatnya disikapi pemerintah,” tandasnya. (*/jun/app)

kpu kukar

Saksikan video menarik berikut ini: