Rumah Vital Penyu

TANJUNG REDEB, DISWAY – Keberadaan Pulau Sangalaki, dan Pulau Semama, begitu vital bagi keberlangsungan hidup Penyu Sisik, maupun Penyu Hijau di Berau.

Saking pentingnya kedua pulau tersebut, pada Pemerintahan Presiden Soeharto, statusnya menjadi pulau konservasi. Yakni Taman Wisata Alam Pulau Sangalaki dan Taman Suaka Margasatwa Pulau Semama, tepatnya pada 19 Agustus 1982, melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 604/Kpts/Um/1982.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Dheny Mardiono, didampingi stafnya Prawira Harja selaku Pengendali Ekositem Hutan pada SKW I – BKSDA Kaltim mengatakan, kedua pulau itu merupakan pulau favorit bagi para penyu untuk bertelur maupun mencari makan.

“Area pantai kedua pulau itu menjadi habitat bertelur bagi penyu. Mayoritas penyu di Berau, bertelur di pulau itu,” ungkapnya

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Sangalaki sendiri memiliki luas 280 Ha yang terdiri dari wilayah daratan seluas ± 15,9 Ha, dan perairan seluas ± 264,1 Ha. Secara geografis terletak 118°24’23” – 118°25’26” BT dan 2°25’14” – 2°26’5” LS.

Sementara Pulau Semama, luasnya sekitar 220 Ha yang terdiri dari wilayah daratan seluas ± 6,103 Ha, dan perairan seluas ± 213,9 Ha. Secara geografis terletak 02º1’08”LU dan 118º19’20”BT, di mana kedua pulau tersebut berada di Kecamatan Pulau Derawan.

Dibentuknya kedua pulau tersebut menjadi pulau konservasi, tak lepas dari keanekaragaman satwa, seperti burung. Khususnya menjadi tempat berkembang biak bagi penyu.

Selain itu, dihuni sekitar 28 jenis burung. Di mana 16 jenis burung dinyatakan langka, yang dilindungi Undang-Undang. Hal itu, dikarenakan kedua pulau itu memiliki hutan tropis dataran rendah, dan hutan pantai.

Di sekitar perairan pulau-pulau itu juga terdapat sejumlah jenis lamun yang menjadi pakan bagi penyu. Bahkan, hasil survei BKSDA Kaltim-SKW I Berau Tahun 2018, terdapat enam jenis lamun yang teridentifikasi di dalam kawasan Suaka Margasatwa Pulau Semama.

Ia mengatakan, saat ini pihaknya sudah menjaga keberadaan kedua pulau tersebut sudah bertahun-tahun lamanya dari perburuan dan pencurian telur penyu yang masih terjadi hingga saat ini.

ucapan pemkab mahulu

“Memang tujuan konservasi itu untuk menjaga kelangsungan satwa langka dan ekosistem lain yang hidup di pulau itu. Termasuk mengawasi aktivitas perburuan dan pencurian telur penyu di sana,” ungkapnya

Ditambahkannya, khusus Sangalaki merupakan pulau yang paling banyak dihuni penyu. Setiap bulannya mencapai ratusan ekor penyu yang naik ke darat untuk bertelur.

Berdasarkan data yang dikumpulkan petugasnya dari Januari hingga Oktober 2019, ribuan penyu datang baik yang hanya singgah, atau batal bertelur (Memeti) maupun bertelur. Dalam tiga bulan terakhir, yakni dari Agustus setidaknya ada sekitar 648 penyu yang teridentifikasi bertelur dan sekitar 823 penyu hanya naik ke darat. Sementara September itu, ada ada sekitar 612 penyu naik bertelur dan 1.215 yang naik.

“Di Oktober jumlah penyu bertelur menurun menjadi 594 penyu, dan 382 penyu yang singgah,” jelasnya.

Namun diakuinya, tidak sedikit pula sarang-sarang penyu yang hilang secara misterius. Bahkan kata dia, ratusan sarang penyu hilang tanpa diketahui siapa yang telah mengambilnya.

“Sudah ada sekitar 119 sarang penyu yang telah dicuri sepanjang tahun 2019 ini. Dan itu jumlah yang cukup banyak,” bebernya.
Lebih lanjut dikatakannya, di Sangalaki ada 2 Hatchery (tempat penetasan semi alami). Setiap hari pihaknya memindahkan telur penyu yang rawan dari serangan

predator. Akan tetapi, tidak semua dipindahkan ke Hatchery dengan alasan tertentu.

“Biasanya yang dipindahkan adalah yang terancam kena pasang air laut, rawan pencurian dan rawan dimakan predator. Pada suhu normal telur menetas mencapai 96 persen,” ungkapnya.

Sementara untuk gangguan lain di kawasan pulau-pulau tersebut, adanya aktivitas nelayan tradisional di wilayah perairan pulau sangalaki, dan sekitarnya dalam mencari hasil laut dengan menggunakan alat tangkap yang dapat mengancam ekosistem terumbu karang, maupun padang lamun seperti pukat tarik, racun ikan dan bom ikan.

“Selain mengusulkan drone pengintai dan kamera pengawas malam. Kami juga menjalin koordinasi dengan aparat keamanan, baik Polri maupun TNI untuk melakukan pengawasan dan penjagaan,” terangnya.

Pihaknya juga merencanakan pengelolaan kawasan TWA Pulau Sangalaki dan TSM Pulau Semama diantaranya pengembangan sarana dan prasarana wisata alam. Seperti pembangunan dermaga, trail (jalan kecil), menara pandang dan pemasangan papan informasi kawasan di Pulau Sangalaki.

“Sementara di Pulau Semama, di antaranya pembangunan trail mangrove, dan menara pengamatan burung,” pungkasnya (*ZZA/APP)

Saksikan video menarik berikut ini: