Cara Anak Muda Adonara Merayakan Pergantian Tahun; Sederhana Namun Sarat Makna                               

Menari dengan tangan bergandengan ini mengandung makna dalam. Agar tahun depan bisa tetap bersama-sama dan tak tercerai berai. (darul asmawan/disway kaltim)

============

 

DI sebuah gang kecil. Biasa disebut gang Beruang Madu, Jalan Pemuda, Kelurahan Manggar Balikpapan Timur. Sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Komunitas (Anak Muda Adonara) AMA Balikpapan, menyambut tahun baru 2020 dengan cara sederhana namun sarat makna.

Kelompok masyarakat Pulau Adonara Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkumpul di Balikpapan itu, menggelar pentas seni tari khas daerah asalnya. Pelbagai tari-tarian secara bergantian ditampilkan sejak pukul 09.00 Wita hingga pukul 23.30 wita.

Menyongsong detik pergantian tahun, acara dilanjutkan dengan renungan malam. Disimbolkan dengan menyalakan obor oleh perwakilan masyarakat sesuai jenjang usia.

Koordinator kegiatan, Aselmus Bahy menyampaikan, kegiatan ini untuk memperkuat silaturahmi antar sesama anak Adonara yang ada di Balikpapan.

Selain , lanjutnya, ide awal kegiatan ini berangkat dari kepekaan beberapa anak muda Adonara terhadap kondisi sosial saat ini. “Seperti kita ketahui, saat ini kesenjangan sosial dan nilai-nilai intoleran mencuat di media massa. Jadi kami berpikir untuk mengembalikan kondisi itu semua. Supaya perselisihan-perselihan yang ada sekarang ini bisa diselesaikan dengan cara yang lebih baik,” ujarnya, Selasa (31/12/2019) malam.

Mengenai penyalaan obor, Aselmus menjelaskan, ada lima obor yang dinyalakan. Melambangkan lima generasi yang saat ini berada di Balikpapan. Yaitu, kata dia, generasi sesepuh, generasi orang tua, pemuda, remaja dan generasi anak-anak.

“Obor itu, merupakan harapan dari lima generasi masyarakat Adonara di Balikpapan. Bahwa dengan menyalakan lima obor ini, kita bersama-sama bersatu dan bersilaturahmi untuk menyongsong masa depan di tahun yang baru. Dan tak lupa, kita mendukung pemerintah kota Balikpapan menjadikan Balikpapan kota beriman dan mewujudkan Indonesia yang cinta damai,” tambahnya.

Kemudian, juga ada agenda membakar kalender. Yang dimaknai sebagai upaya untuk melepaskan segala perbuatan, tutur kata dan tingkah laku yang kurang etis dan tidak menyenangkan orang lain sepanjang tahun 2019. Dilepaskan bersamaan dengan pembakaran kalender 2019. Lalu diganti dengan kalender 2020.

Prosesi tersebut mengandung harapan agar kekeluargaan dan kebersamaan yang telah dibina tidak berakhir pada 2020. Kemudian, sekira 300 masyarakat Adonara yang hadir itu makan malam bersama. Dan penampilan tari-tarian khas Adonara.

Di antaranya; tarian meraih bintang dan tarian floba mori manise oleh anak-anak Adonara Balikpapan. Kemudian tarian dolo-dolo, tarian teras dan tarian dolo arab, yang dibawakan kelompok ibu-ibu asal Adonara.

Aullerya, ketua kelompok tari ibu-ibu, mengesankan tarian tersebut sebagai bentuk persatuan dan kekeluargaan sesama perantau Adonara. “Maknanya adalah kebersamaan dan kekeluargaan. Makanya tariannya itu sambil berpegangan tangan,” ucapnya.

Tarian itu, kata dia, adalah tarian-tarian khas kebudayaan masyarakat Adonara. Baik tarian maupun musiknya, yang sudah turun temurun dilakukan di masyarakat di pulau sebelah timur NTT itu.

“Jadi di mana pun, kita tidak boleh melupakan kebudayaan kita. Itu harus menjadi kebanggaan kita di perantauan,” imbuhnya. (das/dah)

Saksikan video menarik berikut ini: