Hari Ibu Bukanlah Mother’s Day

Oleh: Heni Sudiastiningsih

DARI tahun ke tahun dalam memperingati Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember, kita hanya melihat sebuah rutinitas peringatan yang hanya berisikan sanjungan untuk ibu karena peran domestik seorang ibu.

Tepat tanggal 22 Desember kita berbondong-bondong memberikan setangkai bunga, membuat puisi cinta dan terima kasih untuk ibu kita. Atau dibebaskannya ibu dari pekerjaan domestik untuk hari itu saja. Ibu disanjung dan dimuliakan diberi hadiah sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi akan jasa ibu di satu hari itu saja. Padahal seharusnya penghormatan, memuliakan serta mendoakan ibu kita lakukan setiap hari, bukan hanya di tanggal 22 Desember saja. Hari ibu di Indonesia mirip dengan peringatan Hari Ibu (Mother’s Day) di negara luar sana.

Diawali dari kesedihan atas kematian sang Ibu menjadi inspirasi bagi Anne Jarvis untuk membuat sebuah acara penghormatan Mother’s Day pertama pada tahun 1908. Ann Reeves Jarvis, nama sang Ibu yang meninggal pada tahun 1905, merupakan seorang pegiat sosial, pendiri Mother’s Day Club yang berjuang untuk meningkatkan aspek kehidupan (terutama masalah anak dan kesehatan) pada saat masa US Civil War (Perang Antara Negara Bagian) antara tahun 1861-1865. Tanggal 10 Mei setahun setelah acara penghormatan yang pertama, keluarga-keluarga berkumpul pada acara peringatan yang diadakan di sebuah gereja yang sekarang dikenal dengan nama International Mother’s Day Shrine di Grafton, Virginia Selatan, juga di Philadephia dan beberapa kota lain.

  • sang badar
  • andirus
  • zairinsarwono

Berkat usaha Anna Jarvis, acara penghormatan itu menjadi viral ke beberapa kota di US, sampai akhirnya Presiden US saat itu, Woodrow Wilson, menetapkan hari Minggu kedua di bulan Mei sebagai hari libur nasional dalam rangka memperingati hari ibu ( Mother’s Day)

Sedangkan penetapan Hari Ibu di Indonesia diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 sampai 25 Desember 1928 di Jogjakarta. Selang beberapa pekan dari Kongres Sumpah Pemuda. Kongres Perempuan Indonesia I yang berlangsung pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda itu diikuti oleh tidak kurang dari 600 perempuan dari puluhan perhimpunan wanita yang terlibat.

Mereka berasal dari berbagai macam latar belakang suku, agama, pekerjaan, juga usia. Susan Blackburn dalam buku Kongres Perempuan Pertama (2007) mencatat, sejumlah organisasi perempuan yang terlibat antara lain Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyiyah, Wanita Moeljo, Darmo Laksmi, Wanita Taman Siswa, juga sayap perempuan dari berbagai organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam, Jong Java, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain .

Panitia Kongres Perempuan Indonesia I dipimpin oleh R.A. Soekonto yang didampingi oleh dua wakil, yaitu Nyi Hadjar Dewantara dan Soejatin. Slamet Muljana dalam buku Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (2008), memaparkan dua tahun setelah kongres pertama itu, kaum perempuan di Indonesia itu menyatakan bahwa gerakan wanita adalah bagian dari pergerakan nasional. Dengan kata lain, perempuan wajib ikut serta memperjuangkan martabat nusa dan bangsa. Tanggal hari pertama Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 Desember 1928 inilah yang kemudian menjadi acuan bagi pemerintah RI untuk menetapkan peringatan Hari Ibu, yang diresmikan oleh Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1953.

Misi memperingati Hari Ibu pada awalnya untuk mengenang semangat juang perempuan pejuang mulai dari Sabang sampai Merauke. Di era kemerdekaan, memperingati Hari Ibu dimaksudkan untuk mendorong peran perempuan dalam memperbaiki kualitas bangsa. Misinya sungguh mulia, tak terbantahkan. Seiring dengan perjalanan waktu dan berkembangnya teknologi informasi, distorsi pun terjadi. Orang-orang mulai menyamakan Hari Ibu dengan peringatan Mother’s Day di Eropa dan Amerika.Tanpa terasa, makna dan misi memperingati Hari Ibu bergeser dari upaya mendorong peran perempuan dalam memperbaiki kualitas bangsa menjadi peringatan harinya seorang ibu saja. Seolah-olah, seorang ibu hanya dimuliakan pada tanggal 22 Desember.
Satu hal lagi yang harus diketahui, melihat dari sejarah Hari Ibu di Indonesia, terdapat titik sentral yaitu kaum perempuan secara umum, bukan sebatas kaum ibu. Jadi, saat itulah semangat juang perempuan sangat diapresiasi hingga saat ini yang harusnya tetap diperjuangkan. Mungkin penggunaan kata Ibu-lah yang akhirnya membawa kita kepada pemaknaan Mother’s Day yang lebih memuliakan kaum Ibu bukan kaum perempuan.

“Perempuan Berdaya, Indonesia Maju” demikian tema Peringatan Hari Ibu Ke-91 Tahun 2019. Hari Ibu dimaknai sebagai hari kebangkitan perempuan Indonesia dan merupakan persatuan dan kesatuan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan dan perjuangan bangsa. Perempuan memiliki hak asasi yang sama dan integral dengan hak asasi manusia. Oleh karena itu perlu dipelihara kodrat, harkat dan martabatnya sebagai Ibu Bangsa yang berhasil membina keluarga yang harmonis dan sejahtera.

ucapan pemkab mahulu

Perjuangan perempuan agar bebas dari segala bentuk tindak kekerasan, diwujudkan dalam bentuk kesetaraan dan keadilan dalam segenap aspek kehidupan. Hal ini perlu diupayakan setiap waktu. Kelanjutan perjuangan persatuan kaum perempuan Indonesia selalu diperingati pada setiap tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Mari kita peringati Hari Ibu, harinya para perempuan Indonesia, dengan tidak hanya sebatas memberikan sekuntum bunga dan sepucuk puisi saja. Kita baca kembali pesan pimpinan Kongres Perempuan I, Ibu R.A Soekonto . Dalam sambutannya, dinukil dari buku karya Blackburn, R.A. Soekonto mengatakan:

“Zaman sekarang adalah zaman kemajuan. Oleh karena itu, zaman ini sudah waktunya mengangkat derajat kaum perempuan agar kita tidak terpaksa duduk di dapur saja. Kecuali harus menjadi nomor satu di dapur, kita juga harus turut memikirkan pandangan kaum laki-laki sebab sudah menjadi keyakinan kita bahwa laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama-sama dalam kehidupan umum.” “Artinya,” lanjut R.A. Soekonto, “perempuan tidak [lantas]menjadi laki-laki, perempuan tetap perempuan, tetapi derajatnya harus sama dengan laki-laki, jangan sampai direndahkan seperti zaman dahulu.”

Selamat Hari Ibu untuk seluruh perempuan Indonesia.(*)

*) Penulis adalah Anggota Tim Penggerak PKK Kabupaten Berau

Saksikan video menarik berikut ini: